Tadi pagi saya menyaksikan seekor kepiting berganti cangkang kulit. Baru selesai dia melakukan proses pelepasan kulit, seseorang langsung memukul dengan batu dan Kepiting itupun mati dalam kondisi tubuh mlenyeet menngerikan, Saya menangis, membayangkan bahwa proses pergantian cangkang kulit itu meski secara sepintas tampak sederhana tetapi pada kenyataannya sangat rumit, cerdas dan menakjubkan.
Begitu banyak keajaiban alam bertebaran di sekitar kita, jika kita mengamati dengan kesadaran penuh. Tapi manusia sibuk dengan dirinya sendiri. seolah manusia yang punya kesadaran, seolah hidup manusia paling istimewa. seolah-olah kehidupan manusia adalah sentral dari kehidupan di planet ini, seolah manusia pemeran utama dan mahluk lain cuma figuran. Bahkan manusia selama ini menganggap seluruh alam semesta diciptakan khusus untuk melayani dan dipersembahkan manusia.
Pada Crustacea
Molting pada crustacea, seperti kepiting dan udang, melibatkan serangkaian langkah yang dirancang untuk mengatasi tantangan hidup dalam lingkungan perairan. Eksoskeleton keras mereka, yang terbuat dari kitin dan kalsium karbonat, menjadi hambatan utama untuk pertumbuhan.
Proses molting dimulai dengan pelepasan enzim yang melarutkan lapisan bawah eksoskeleton, diikuti dengan pembentukan eksoskeleton baru di bawahnya. Setelah eksoskeleton lama terlepas, crustacea menyerap air dalam jumlah besar untuk memperbesar tubuhnya sebelum eksoskeleton baru mengeras. Menurut penelitian dalam jurnal Marine Biology oleh Chang et al. (2021), kadar ion kalsium dalam air memainkan peran penting dalam pengerasan eksoskeleton baru (Chang et al., 2021, hlm. 235).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar