Sabtu, 28 September 2024

PANGGUNG ORANG SESAT

 Sejarah Tak Terduga di Balik Rumah Panggung Reyot dan Tua ...

Di sebuah desa terpencil, di kaki bukit yang sering diselimuti kabut, berdirilah sebuah panggung reyot yang sudah berusia puluhan tahun. Panggung itu, kata orang-orang tua, pernah menjadi tempat para orang sesat beraksi—mereka yang hidup dalam kesalahan, kebodohan, dan ketamakan. Tapi anehnya, panggung itu selalu ramai. Bahkan, semakin tua, semakin banyak yang datang.


Pada suatu malam, Gito—seorang pemuda desa yang dikenal skeptis—menghampiri panggung tersebut. Dia tak percaya dengan segala cerita mistis yang beredar. Baginya, itu cuma takhayul yang dibesar-besarkan. “Masa iya, ada panggung buat orang sesat? Sesat kayak gimana?” pikirnya sambil tertawa sinis.


Namun, rasa penasaran akhirnya mengalahkan logikanya. Malam itu, ditemani bulan sabit yang menggantung rendah di langit, Gito berjalan menuju panggung tersebut. Di sana, sudah berkumpul orang-orang. Mereka duduk melingkar di depan panggung, wajah mereka terselimuti bayangan. Mereka semua diam, menunggu.


Gito merasa ada sesuatu yang aneh, namun tak bisa dijelaskan. Panggung itu tidak besar, hanya berupa kayu-kayu tua yang sudah mulai lapuk, namun auranya begitu kuat. Ketika Gito duduk di antara mereka, lampu minyak di sekitar panggung mulai menyala sendiri, menyinari sosok yang naik ke atasnya. Seorang pria tua dengan jubah hitam muncul, wajahnya pucat namun senyumnya lebar, seakan menikmati perhatian yang diberikan padanya.


"Selamat datang di panggung ini," kata pria tua itu dengan suara serak. "Di sini, kita semua bisa menjadi diri kita yang sebenarnya. Tak ada yang akan menghakimi, tak ada yang akan menghukum. Yang penting adalah... jujur pada diri sendiri."


Orang-orang mulai berbisik, seakan memahami makna tersirat dari kata-kata pria itu. Gito mengernyitkan dahi. Dia masih tak paham, apa yang terjadi. Lalu, satu per satu, orang-orang mulai naik ke atas panggung, berbicara tentang dosa-dosa mereka, kesalahan-kesalahan mereka. Tapi bukannya menyesal, mereka justru bangga.


Ada seorang lelaki paruh baya yang bercerita tentang bagaimana dia menipu banyak orang untuk mendapat kekayaan. Bukan dengan malu, tetapi dengan tawa yang pecah saat dia mengingat setiap korbannya yang jatuh. Lalu ada seorang wanita muda yang mengaku telah menghancurkan keluarga orang lain demi ambisinya. Orang-orang yang mendengar cerita-cerita ini tidak marah, justru mereka bertepuk tangan dengan penuh semangat, seakan kesesatan adalah sebuah prestasi.


Ketika giliran Gito tiba, dia didorong untuk naik ke panggung. Jantungnya berdebar kencang. Saat dia berdiri di sana, di bawah sorotan cahaya remang, dia merasakan sesuatu yang aneh. Panggung itu seakan berbisik padanya, membangkitkan kenangan yang dia coba lupakan—kebohongan, kepalsuan, kebencian yang dia simpan dalam hati.


"Aku... Aku nggak punya dosa sebesar mereka," kata Gito, mencoba mempertahankan kepercayaannya bahwa dia berbeda. Namun, panggung itu menolak diam. Suara-suara di kepalanya semakin keras. “Bukankah kau pernah menjatuhkan orang lain hanya untuk terlihat lebih baik? Bukankah kau pernah mengkhianati orang yang percaya padamu?”


Tiba-tiba, semua terasa semakin gelap. Orang-orang di bawah panggung menatap Gito dengan tatapan penuh ekspektasi, berharap dia akan membuka aibnya seperti mereka. Tapi Gito menolak. "Aku bukan bagian dari ini. Aku nggak sesat."


Senyum pria tua di sudut panggung semakin lebar. “Setiap orang sesat, hanya saja tidak semua orang berani mengakuinya.”


Dengan langkah tergesa-gesa, Gito turun dari panggung dan berlari menjauh, meninggalkan sorakan mengejek orang-orang di belakangnya. Namun, saat dia sampai di jalan desa, dia merasa ada sesuatu yang berbeda. Sekelilingnya terasa kabur, tak seperti biasanya. Desa yang tadinya tenang, kini terasa hampa dan penuh bayangan.


Gito terus berlari, namun setiap kali dia berbelok, dia selalu kembali ke panggung itu. Seakan, panggung itu telah menjadi pusat dunianya. Di dalam pikirannya, bisikan-bisikan sesat mulai merasuki, dan perlahan, dia pun sadar bahwa panggung itu bukan hanya tempat fisik, tapi juga cerminan hatinya.


Dan di malam itu, di bawah cahaya bulan yang semakin redup, Gito akhirnya menyadari satu hal yang mengerikan: dia sudah terjebak di panggung orang sesat, selamanya.

Jumat, 27 September 2024

Berbicara adalah salah satu saluran hawa nafsu dan ego

Kekeliruan terbesar kebanyakan manusia adalah ketika "berbicara" tidak dianggap sebagai output dari ego dan nafsunya. Oleh karena itu, mereka mengumbar ucapannya tanpa dikendalikan.

 Berbicara merupakan jenis ego dan nafsu manusia yang sama berbahayanya dengan ego dan nafsu lain jika tidak dikendalikan. 

Nasfsu makan, nafsu seks dan nafsu kekuasaan bersifat lahiriah atau material.Sementara nafsu berbicara dan nafsu ingin dihargai dan didengar bersifat  termasuk jenis nafsu yang bersifat batiniah atau kejiwaan.

 Sesuatu yang bersifat nafsu harus diperlakukan seperti aurat. Ditutupi dengan pakaian yang baik indah dan layak.

jika tidak dikendalikan. Manusia sudah sangat mahfum dan sadar dengan

Berbicara adalah salah satu alat komunikasi manusia yang bersifat netral. Bisa untuk kebaikan, netral atau keburukan. Berbicara juga bisa menjadi alat mengekspresikan dan menyalurkan hawa nafsu.

Meskipun berisi pesan-pesan dan nasehat yang baik atau menasehati orang lain, berbicara 

Panik, Mata Yang Besar, Tangan Bengkok



UDAH MISKIN BLAGU

Bayangkan jika banyak tokoh agama yang memiliki cara pandang destruktif dan pola pikir usang menguasai panggung dan mimbar-mimbar secara ekslusif dan rutin ? 

Seperti yang disampaikan oleh Datuk Mahatir Muhammad, Orang melayu bodoh karena ustadznya. Dampaknya sangat destruktif secara jangka panjang karena orang melayu menjadi terbelakang dengam  mindset dan pandangan yang salah.

Repotnya, dalam beberapa kasus, tokoh-tokoh seperti itu tidak bisa atau tepatnya tidak mungkin dicegah oleh penguasa atau komunitas masyarakat dengan alasan mereka adalah pemuka agama yang sedang melakukan syiar  tentang nilai nilai agama yang mulia. Tak peduli materi ceramahnya itu-itu saja, berkisar tentang kehebatan ajaran agamamya yang lahir ribuan tahun lalu dan konyolnya banyak tokoh=tokoh agama tersebut tidak pernah mengupdate dan upfrade ilmu pengetahuan lainnya yang lebih luas agar relevant dengan kemajuan zaman. 

Pemerintah Indonesia  pernah ingin menerapkan sertifikasi bagi para tokoh dan penceramah sebagai syarat untuk bisa memberikan ceramah di depan umum agar sisi ceramahnya berkualitas, produktif dan progresif. Bukan sebaliknya malah menyebar kebencian dan amarah dan kebodohan tanpa sedikitpun membangun mental development yang positif bagi umat. Tapi apa daya, ide bagus itu ditentang keras oleh kelompok tertentu dan dibelokan menjadi isu berbau politis dan isu SARA.

Kita sadar, bahwa tipe penceramah bermacam macam dengan kualitas yang berbeda-beda. Jika penguasa melarang penceramah, pasti mendapat penentangan yang keras dari umatnya dengan pasal tuduhan melanggar hak kebebasan dan hak azasi. Ini memang sebuah di dilemma. Padahal masa depan suatu bangsa ditentukan oleh budi pekerti, paradigma dan akhlak yang baik dan mulia rakyatnya.

Perkembangan yang begitu cepat di segala aspek kehidupan, harus menjadi pemicu bagi kita semua untuk  meng-upgrade diri dengan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang mutakhir. Jika tidak, maka kita akan tertinggal dan menjadi tidak relevant lagi dengan kondisi zaman. Bahkan terancam teronggog dipojok dunia kreatifitas. Jika ada orang yang memegang teguh ilmu usangnya dengan sikap angkuh, akan tampak seperti badut dimata kelompok atau bangsa lain, dengan ungkapan :

Udah miskin, blagu

Udah bodoh, keminter 




 

 

 

MANUSIA DAN POPULASI KUCING

Setiap pagi saya melihat seorang bapak tua membersihkan tai kucing di aspal depan rumahnya dengan air hangat untuk mengalirkannya ke selokan. Ya, setiap hari....dengan tai-tai kucing yang masih segar dan harum semerbak. 

Di sisi lain ada seorang paruh baya berkeliling menggunakan sepeda kayuh dengan tas yang penuh dengan makanan kucing.  Sepertinya dia seorang cat lover atau voluntir yang terpanggil secara kemanusiaan memberikan makan kepada kucing-kucing liar.

Di jalan raya, gang-gang kecil dan Taman Eco Park Tebet memang menjadi habitan kucing liar dengan populasi yang besar dan terus berkembang. Mereka bisa hidup dan berkembang karena ada orang-orang yang peduli dan setiap hari memberi makan tanpa merawatnya dengan layak di rumah atau di penangkaran. 

Artinya setelah memberi makan, mereka membiarkan kucing-kucing itu hidup seadanya tanpa perlindungan dan perawatan yang memadai. Tentu saja hal ini mempengaruhi kualitas kesehtan kucing-kucing liar yang kurang prima. 

Kenapa populasi kucing begitu tak terkendali? Apakah ini terkait dengan suata pandangan  atau belief bahwa kucing adalah binatang sakral sehingga harus dibiarkan hidup bebas tanpa diganggu populasinya? Atau karena alasan prikebitangan yang harus menjaga hak hidup yang sama dengan manusia atau mahluk lain? Atau karena adanya asosialsi cat lover yang selalu memberikan perlindungan hukum terhadap kucing-kucing liar itu jika diusik kebebasan hidupnya?

Dunia dan setiap negara memiliki program menjaga populasi manusia agar tetap terkendali demi menjaga keseimbangan dengan alam dan kehidupan yang lebih nyaman, damai dan sejahtera. Di Indonesia, pernah ada program Keluarga Berencana, dengan berbagai metoda antara lain, kontrasepsi, sterilisasi vasektomi dan lain. Intinya Kelahiran harus dibatasi dan dikontrol. Bahkan sekarang berkembang gaya hidup baru yang lebih ekstrim seperti, tidak ingin menikah atau menikah tapi tidak ingin punya anak (Childfree). Terlepas setuju atau tidak setuju

Jika kepada manusia kita bisa besikap rasional seperti tersbut di atas, kenapa terhadap kucing kita  tidak atau belum melakukan hal yang sama? Yaitu mengatur populasi kucing agar kualitas hidupnya meningkat dan tidak menjadi hama bagi manusia. Apakah Kucing lebih mulia dibandingkan dengan manusia ? Mungkin masalah ini belum dianggap darurat atau kita semua belum "ngeh" terhadap bahaya yang tampak di depan mata ?


 

 

HARGA SEBUAH KONFIRMASI

Dalam suatu kejadian di pinggir jalan, terlihat seorang pria tiba-tiba menghajar secara brutal seorang pria lain yang sedang berboncengan dengan wanita lain di aas sepeda motor.

Orang-orang di sekitar kejadian itu secara spontan membantu kedua korban tersebut dan mengeroyok balik pria yang bersikap serampangan dan main hakim sendiri itu. Orang-orang yang menonton di sekitar kejadian itu merasa bersimpati dan berempati kepada kedua korban pemukulan. Sebaliknya mencaci maki berhamburan titujukan kepada pelaku. Pengeroyokan yang dilakukan oleh masa sebagai balasan setimpal bagi pelaku. 

Setelah diberi kesempatan berbicara, pelaku pemukulan yang sudah babak belur itu bercerita sambil menahan rasa sakit, bahwa yang dia hajar adalah istrinya dan selingkuhan istrinyanya.

Rasa simpati dan empati itu tiba-tiba berubah 180 drajad,dan caci maki serta merta berbalik arah tertuju kepada wanita dan selingkuhannya.

Begitu cepat rasa simpati dan empati manusia berbalik arah ketika konfirmasi dan fakta kebenaran terkuak.Itulah harga sebuah konfirmasi dan tabayun.