:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1387320/original/021410700_1477567642-IMG-20161026-WA006.jpg)
Di sebuah desa terpencil, di kaki bukit yang sering diselimuti kabut, berdirilah sebuah panggung reyot yang sudah berusia puluhan tahun. Panggung itu, kata orang-orang tua, pernah menjadi tempat para orang sesat beraksi—mereka yang hidup dalam kesalahan, kebodohan, dan ketamakan. Tapi anehnya, panggung itu selalu ramai. Bahkan, semakin tua, semakin banyak yang datang.
Pada suatu malam, Gito—seorang pemuda desa yang dikenal skeptis—menghampiri panggung tersebut. Dia tak percaya dengan segala cerita mistis yang beredar. Baginya, itu cuma takhayul yang dibesar-besarkan. “Masa iya, ada panggung buat orang sesat? Sesat kayak gimana?” pikirnya sambil tertawa sinis.
Namun, rasa penasaran akhirnya mengalahkan logikanya. Malam itu, ditemani bulan sabit yang menggantung rendah di langit, Gito berjalan menuju panggung tersebut. Di sana, sudah berkumpul orang-orang. Mereka duduk melingkar di depan panggung, wajah mereka terselimuti bayangan. Mereka semua diam, menunggu.
Gito merasa ada sesuatu yang aneh, namun tak bisa dijelaskan. Panggung itu tidak besar, hanya berupa kayu-kayu tua yang sudah mulai lapuk, namun auranya begitu kuat. Ketika Gito duduk di antara mereka, lampu minyak di sekitar panggung mulai menyala sendiri, menyinari sosok yang naik ke atasnya. Seorang pria tua dengan jubah hitam muncul, wajahnya pucat namun senyumnya lebar, seakan menikmati perhatian yang diberikan padanya.
"Selamat datang di panggung ini," kata pria tua itu dengan suara serak. "Di sini, kita semua bisa menjadi diri kita yang sebenarnya. Tak ada yang akan menghakimi, tak ada yang akan menghukum. Yang penting adalah... jujur pada diri sendiri."
Orang-orang mulai berbisik, seakan memahami makna tersirat dari kata-kata pria itu. Gito mengernyitkan dahi. Dia masih tak paham, apa yang terjadi. Lalu, satu per satu, orang-orang mulai naik ke atas panggung, berbicara tentang dosa-dosa mereka, kesalahan-kesalahan mereka. Tapi bukannya menyesal, mereka justru bangga.
Ada seorang lelaki paruh baya yang bercerita tentang bagaimana dia menipu banyak orang untuk mendapat kekayaan. Bukan dengan malu, tetapi dengan tawa yang pecah saat dia mengingat setiap korbannya yang jatuh. Lalu ada seorang wanita muda yang mengaku telah menghancurkan keluarga orang lain demi ambisinya. Orang-orang yang mendengar cerita-cerita ini tidak marah, justru mereka bertepuk tangan dengan penuh semangat, seakan kesesatan adalah sebuah prestasi.
Ketika giliran Gito tiba, dia didorong untuk naik ke panggung. Jantungnya berdebar kencang. Saat dia berdiri di sana, di bawah sorotan cahaya remang, dia merasakan sesuatu yang aneh. Panggung itu seakan berbisik padanya, membangkitkan kenangan yang dia coba lupakan—kebohongan, kepalsuan, kebencian yang dia simpan dalam hati.
"Aku... Aku nggak punya dosa sebesar mereka," kata Gito, mencoba mempertahankan kepercayaannya bahwa dia berbeda. Namun, panggung itu menolak diam. Suara-suara di kepalanya semakin keras. “Bukankah kau pernah menjatuhkan orang lain hanya untuk terlihat lebih baik? Bukankah kau pernah mengkhianati orang yang percaya padamu?”
Tiba-tiba, semua terasa semakin gelap. Orang-orang di bawah panggung menatap Gito dengan tatapan penuh ekspektasi, berharap dia akan membuka aibnya seperti mereka. Tapi Gito menolak. "Aku bukan bagian dari ini. Aku nggak sesat."
Senyum pria tua di sudut panggung semakin lebar. “Setiap orang sesat, hanya saja tidak semua orang berani mengakuinya.”
Dengan langkah tergesa-gesa, Gito turun dari panggung dan berlari menjauh, meninggalkan sorakan mengejek orang-orang di belakangnya. Namun, saat dia sampai di jalan desa, dia merasa ada sesuatu yang berbeda. Sekelilingnya terasa kabur, tak seperti biasanya. Desa yang tadinya tenang, kini terasa hampa dan penuh bayangan.
Gito terus berlari, namun setiap kali dia berbelok, dia selalu kembali ke panggung itu. Seakan, panggung itu telah menjadi pusat dunianya. Di dalam pikirannya, bisikan-bisikan sesat mulai merasuki, dan perlahan, dia pun sadar bahwa panggung itu bukan hanya tempat fisik, tapi juga cerminan hatinya.
Dan di malam itu, di bawah cahaya bulan yang semakin redup, Gito akhirnya menyadari satu hal yang mengerikan: dia sudah terjebak di panggung orang sesat, selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar