Bayangkan jika banyak tokoh agama yang memiliki cara pandang destruktif dan pola pikir usang menguasai panggung dan mimbar-mimbar secara ekslusif dan rutin ?
Seperti yang disampaikan oleh Datuk Mahatir Muhammad, Orang melayu bodoh karena ustadznya. Dampaknya sangat destruktif secara jangka panjang karena orang melayu menjadi terbelakang dengam mindset dan pandangan yang salah.
Repotnya, dalam beberapa kasus, tokoh-tokoh seperti itu tidak bisa atau tepatnya tidak mungkin dicegah oleh penguasa atau komunitas masyarakat dengan alasan mereka adalah pemuka agama yang sedang melakukan syiar tentang nilai nilai agama yang mulia. Tak peduli materi ceramahnya itu-itu saja, berkisar tentang kehebatan ajaran agamamya yang lahir ribuan tahun lalu dan konyolnya banyak tokoh=tokoh agama tersebut tidak pernah mengupdate dan upfrade ilmu pengetahuan lainnya yang lebih luas agar relevant dengan kemajuan zaman.
Pemerintah Indonesia pernah ingin menerapkan sertifikasi bagi para tokoh dan penceramah sebagai syarat untuk bisa memberikan ceramah di depan umum agar sisi ceramahnya berkualitas, produktif dan progresif. Bukan sebaliknya malah menyebar kebencian dan amarah dan kebodohan tanpa sedikitpun membangun mental development yang positif bagi umat. Tapi apa daya, ide bagus itu ditentang keras oleh kelompok tertentu dan dibelokan menjadi isu berbau politis dan isu SARA.
Kita sadar, bahwa tipe penceramah bermacam macam dengan kualitas yang berbeda-beda. Jika penguasa melarang penceramah, pasti mendapat penentangan yang keras dari umatnya dengan pasal tuduhan melanggar hak kebebasan dan hak azasi. Ini memang sebuah di dilemma. Padahal masa depan suatu bangsa ditentukan oleh budi pekerti, paradigma dan akhlak yang baik dan mulia rakyatnya.
Perkembangan yang begitu cepat di segala aspek kehidupan, harus menjadi pemicu bagi kita semua untuk meng-upgrade diri dengan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang mutakhir. Jika tidak, maka kita akan tertinggal dan menjadi tidak relevant lagi dengan kondisi zaman. Bahkan terancam teronggog dipojok dunia kreatifitas. Jika ada orang yang memegang teguh ilmu usangnya dengan sikap angkuh, akan tampak seperti badut dimata kelompok atau bangsa lain, dengan ungkapan :
Udah miskin, blagu
Udah bodoh, keminter

Tidak ada komentar:
Posting Komentar