Rabu, 09 Agustus 2023

Masalah vs Peluang

 


Paradigma lama : Manusia tidak mungkin terhindar dari masalah.

Paradigma baru : Manusia bisa terbebas dari masalah 100%, dengan syarat merubah definisi 'MASALAH' menjadi 'PELUANG'.

Kedua kata itu memiliki persamaan dan perbedaan, dan tentu berdampak pada penyikapan yang berbeda pula.  

Persamaannya adalah keduanya sama-sama menggambarkan adanya gap atau jarak antara kenyataan dan harapan. 

Perbedaannya, Peluang menstimulus jiwa untuk bersemangat, merangsang hati untuk bergembira dan membangkitkan energi pikiran untuk  bergerak serta berkreasi. Sementara MASALAH cenderung melemahkan semangat dan menimbulkan kegelisahaan jiwa.

Senin, 07 Agustus 2023

Kritik : Antara Seni dan Ilmu

 


Kritik yang baik adalah vitamin bagi hati dan pikiran. Sebaliknya kritik yang buruk adalah racun bagi jiwa, bahkan bisa memicu terjadinya konflik. Kritik yang buruk adalah kritik yang tidak mengandung dua aspek, yaitu ilmu pengetahuan dan adab.

Apalagi kritik yang ditujukan kepada orang yang sedang menjabat di lembaga negara (dan terkait dengan kebijakan publik). Masyarakat boleh dan sah mengkritik kinerja, peran dan fungsinya di dalam lembaga negara yang sedang diemban.

Lembaga negara dan orang yang menjabat adalah satu kesatuan seperti halnya jiwa dan raga. Keduanya tidak berdiri sendiri-sendiri. Oleh karena sebuah kritik yang baik sedikitnya berisi dua faktor, yaitu  substasi (rasional) dan adab (etika). Lebih lengkap lagi jika kritik juga mengandung estetika. Ketiganya mewakili nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan.

 Jika subtansi kritik ditambahi dengan kalimat judgemental (menghakimi orang dengan kata negatif secara personal, seperti bajingan tolol), maka kritik itu bisa disimpulkan begini :

a. Substansi kritik ditujukan kepada fungsi kelembagaannya; dan 

b. Judgemental ditujukan kepada personal atau individu orang yang menjabat lembaga tersebut.

 Tentu saja kritik semacam ini tidak produktif, kontroversi dan menimbulkan ketersinggungan dari orang yang dikritik atau para pendukungnya.

Oleh karena itu, saya setuju dengan definisi kritik seperti ini: "Kritik adalah seni mengevaluasi dan mengoreksi dengan menggunakan ilmu pengetahuan".

Kenapa ada kata seninya dalam definisi Kritik ? karena mengevaluasi dan mengoreksi kinerja atau prilaku orang lain bersifat sensitif dan berpotensi menimbulkan sikap defensif dari orang yang dikritik. Sehingga agar kritik kita efektif dan tidak memicu konflik, maka kritik membutuhkan seni dan seni berbuhungan dengan rasa, etika (adab) dan estetika.

Kenapa harus menggunakan ilmu pengetahuan dalam mengritik? Sebab suatu kinerja atau tindakan harus diukur secara rasional dan lgis, terukur menggunakan data dan metode yang benar (ilmiah). Sehingga kritik harus menyentuh pada substansi masalah sehingga solusi bisa tersaji.

Kritik yang baik dan efektif harus mengandung dua unsur atau pendekatan, yaitu seni (etika dan estetika) dan ilmu pengetahuan.



Rabu, 02 Agustus 2023

Kanvas Kelam

 

 

"Kelam adalah kanvas terbaik untuk melukis cahaya."

Kelam adalah simbol dari jiwa yang suram, hati yang resah dan raga yang terpuruk
Sedangkan cahaya mencerminkan dari percikan harapan dan opimisme yang membangkitkan jiwa



Aforisme

Aforisme

Pada hakekatnya, menulis sebuah gagasan adalah kegiatan metafisik, sebab gagasan terkait dengan proses mental dan kognitif manusia dalam mentransformasi ketiadaan (atau kesamaran realita) menjadi sebuah realita baru.  

Setiap gagasan adalah abstraksi. Setiap abstraksi adalah draft konstruksi realita manusia dalam memandang dan menyambut masa depannya.  Siapapun yanghidupnya berorientasi pada masa depan adalah seorang spiritualis.

Oleh karena itu, mengeksplorasi sebuah gagasan bukan sekedar soal kemampuan mengkonkritkan ide atau hasrat, tetapi juga soal ketrampilan meramu dan mendeskripsikan imajinasi dalam bentuk narasi, diksi dan audio-visualisasi. 

Namun dalam kenyataannya, hal yang substantif ini sering kali dilemahkan oleh sebuah momok bernama sistematika penulisan. Momok ini menjadi penghalang utama bagi proses kreatif dalam dunia penulisan. Karya seni tulis tak seharusnya dikungkung oleh sebuah pakem, namun lebih menarik dibiarkan menjadi liar. Dalam arti, keliaran itu dilepaskan dari pola-pola lama atau paradigma lama yang didorong oleh kejujuran niat menghasilkan kebaikan, kebenaran atau keindahan. Kejujuran melahirkan orisinalitas dan orisinalitas melahirkan pembeda dan perspektif baru. 

Khasanah peradaban manusia yang dibangun dari generasi ke generasi sudah melahirkan ilmu pengetahuan yang holistic dan universal.  Sehingga mungkin saja beberapa tulisan dalam blog ini memiliki kesamaan substansi dan kebenaran universal, tapi dengan perspektif dan diksi yang berbeda.

Saya percaya, diksi, artikulasi dan sisi pandang yang berbeda dapat  mempengaruhi proses pemahaman dan respon pembacanya. Bahkan sebuah diksi bisa menciptakan perspektif dan interpretasi baru.

Filusuf besar abad ke 18an, Nietzsche, menuliskan pikiran-pikiran filosofisnya dalam bentuk aforisme yang tidak lazim dilakukan oleh para filusuf dijamannya. Tapi pikiran-pikiran briliannya tidak kehilangan kedalaman maknanya. Bahkan, teori yang ditulisnya dalam bentuk aforisme itu masih relevan hingga saat ini dan sering menjadi rujukan bagi banyak filusuf dan penulis ternama lainnya.

Ini hanya sekedar contoh, bahwa gagasan yang baik, jika  ditopang dengan gaya penulisan yang indah, singkat, dalam dan padat, memiliki posisi tersendiri di hati pembacanya. Aforisme adalah suatu ungkapan mengenai prinsip atau suatu kebenaran yang sudah diterima umum. Aforisme biasanya berupa suatu pernyataan ringkas, tajam, dan mudah diingat.(Part-1)

Selasa, 01 Agustus 2023

Semesta Kesadaran

Semesta Kesadaran


Sang Ruang berkata, "karena akulah maka waktu tergelar"

Sang Waktu menyangkal, "Aku yang mencipta dan memuai ruang"

Sang Peristiwa tak mau kalah, "Aku menyatukan eksistensi ruang dan waktu"

Sang Kesadaran hanya tersenyum,"Aku yang memberi makna pada ketiganya"



Minggu, 30 Juli 2023

Kucing-kucing Kota

 Kucing-kucing kota

Kucing-kucing kota semakin liar karena tak lagi bisa menutupi tainya dengan pasir atau tanah. Kuku-kuku mereka telah tumpul dan terluka akibat mengorek-ngorek aspal, trotoar, pavingblock dan keramik yang menutupi megahnya lantai kota.

Kucing kucing liar tak mengenal pasir sintetis yang harum. Lalu berak disembarang tempat dan menyerang rongga hidung warga kota para penguasa mata rantai tertinggi makanan.

Lalu manusia terjebak dalam dilemma ledakan populasinya kucing-kucing liar. Undang-undang, kitab suci dan nilai universal membimbing pikiran dan hati manusia mengasihi kucing dan binatang peliharaan lain.  Menganggap mereka sebagai hama adalah sebuah kejahatan.

 


 

Dedari

DEDARI

Dedari,

Jika logika  tak mampu menentang  hasrat

Lalu, siapa yang bisa menahan magma, kecuali letusan?

Cintaku dalam radius pesonamu tak mungkin dijinakkan

Karena sia-sia meredam gejolak dengan akhlak

Saat takdir tlah mengkristal dalam prosesnya
Jiwaku tak mungkin tersesat menjelajah rimba hatimu

K’rena cinta melampaui peta akal budi

 Dedari,

Jika ilmu tak kuasa memasung emosi

lalu, siapa yang bisa nahan awan kelam, kecuali hujan badai?

Cintaku dalam  medan auramu tak mungkin dibelenggu

Karena sia-sia merayu gelisah dengan kaidah

Saat sejarah tlah tercatat  pada lembar kala

Jiwaku tak mungkin lelah arungi samudra birumu

k’rena rindu melampaui daya obsesi apapun

 

Dedari,

Jika naluri tlah menyatu dengan semesta

Lalu, siapa yang bisa menahan benih yang jatuh di habitatnya,

kecuali kehidupan ?

Cintaku dalam rahimmu tak mungkin dimandulkan

K’rena Sia-sia ingkari hukum kodrati dengan etika

Saat daya hidup t’lah menggeliat di antara dua hati

Sukmaku tak mungkin berhenti menari di cakrawala cintamu

k’rena kidung ilahi akan membimbing sukmaku menari-nari

 

Dedari,

meski nyata dan maya kini senada

lalu doa tahajutku menjelam puisi tutur-lakumu

maka, maknailah itu sebagai kekhusukan sembahyangku