DEDARI
Dedari,
Jika logika tak mampu menentang hasrat
Lalu, siapa yang bisa menahan magma, kecuali letusan?
Cintaku dalam radius pesonamu tak mungkin dijinakkan
Karena sia-sia meredam gejolak dengan akhlak
Saat takdir tlah mengkristal dalam prosesnya
Jiwaku tak mungkin tersesat menjelajah rimba hatimu
K’rena cinta melampaui peta akal budi
Dedari,
Jika ilmu tak kuasa memasung emosi
lalu, siapa yang bisa nahan awan kelam, kecuali hujan badai?
Cintaku dalam medan auramu tak mungkin dibelenggu
Karena sia-sia merayu gelisah dengan kaidah
Saat sejarah tlah tercatat pada lembar kala
Jiwaku tak mungkin lelah arungi samudra birumu
k’rena rindu melampaui daya obsesi apapun
Dedari,
Jika naluri tlah menyatu dengan semesta
Lalu, siapa yang bisa menahan benih yang jatuh di habitatnya,
kecuali kehidupan ?
Cintaku dalam rahimmu tak mungkin dimandulkan
K’rena Sia-sia ingkari hukum kodrati dengan etika
Saat daya hidup t’lah menggeliat di antara dua hati
Sukmaku tak mungkin berhenti menari di cakrawala cintamu
k’rena kidung ilahi akan membimbing sukmaku menari-nari
Dedari,
meski nyata dan maya kini senada
lalu doa tahajutku menjelam puisi tutur-lakumu
maka, maknailah itu sebagai kekhusukan sembahyangku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar