Minggu, 30 Juli 2023

Keikhlasan Angin

 KEIKHLASAN ANGIN

 

Tak perlu terlihat untuk menunjukan eksistensi dan tak mesti berorasi lantang untuk menjelaskan sebuah peran. Alam telah memiliki daya sensornya sendiri untuk menangkap kemanfaatanmu. Daya sensor itu adalah seluruh indra semesta dengan reward system yang adil dan proporsional. Angin mengajarkan keikhlasan itu.

Angin tidak peduli diklaim oleh siapa saja. Dia juga tidak peduli menjadi perdebatan di kalangan semua pemangku kepentingan, seperti: Siapa sesungguhnya yang mencipta angin?  Apakah angin itu merupakan sebab atau akibat? Baginya, yang lebih esensial adalah tetap berembus. Pendekatan menggunakan formula ‘sebab dan akibat’ merupakan cara berpikir linier, sementara semesta yang menaungi udara dan angin berproses dalam kepenuhan hakikat yang mendudukkan ‘sebab jadi akibat’ dan ‘akibat menjadi sebab’. Apa pun kesimpulannya, dia ingin tetap bernaung pada udara.  

Maka, dia menerima saja apa yang dideskripsikan oleh kaum cendekia yang menjelaskan bahwa angin merupakan suatu udara yang bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah, atau dari daerah bersuhu rendah ke daerah bersuhu tinggi. Dia juga pasrah menerima munculnya antitesis yang menyatakan bahwa anginlah yang menciptakan suatu daerah bersuhu rendah dan bersuhu dingin untuk menunjukkan  hakikat eksistensinya.

Angin tetap berembus meskipun dikatakan bahwa dia berembus tidak mengikuti perintah siapa pun, kecuali burung-burung yang mengklaimnya bahwa sayapnyalah yang menciptakan angin sebagai kendaraannya melanglang buana.

Angin tetap tersenyum ketika layang-layang mengklaim bahwa dialah yang menciptakan angin agar anak-anak bisa tertawa riang di padang rumput dengan sinar surya yang hangat dan angkasa yang yang bening. 

Angin tetap bersahaja ketika daun-daun memanfaatkannya untuk membawa oksigen yang diciptakan daun bersama mentari agar bisa dihirup paru-paru kehidupan dan menyerapnya kembali dalam bentuk karbondioksida. 

Buah-buahan juga ikut-ikutan mengaku menciptakan angin agar bibit-bijinya bisa terbang bermigrasi ke wilayah yang lebih luas demi misi survival dan ekspansinya.

Angin hadir atas panggilan kincir angin yang memintanya untuk menciptakan energi dan menciptakan drama keindahan tatkala baling-baling kincir angin itu berputar menciptakan suara derit yang khas.

Sebuah berita juga ikut menciptakan angin untuk menyebarkan warta ke telinga dunia. 

Aku menjadi angkara murka ketika ada unsur lain di bumi menggoyang harmoni. Aku akan memorakpondakan apa saja yang menghalangiku mencari keseimbangan baru antara wilayah dengan udara bertekanan tinggi dan udara bertekanan rendah meskipun harus menimbulkan korban. Namun, tak ada yang mengutukku karena embusanku yang sepoi-sepoi atau yang ganas adalah sebuah siklus yang sejak triliunan tahun menemani alam, bersama unsur air, tanah, dan api.

Dilansir dari gurugeografi.id: Sekitar 450 sebelum Masehi, filsuf Yunani, Empedoles, menulis bahwa dunia ini tersusun atas empat unsur atau elemen, yaitu tanah, udara, api, dan air. Plato kemudian menyebutnya sebagai empat elemen dasar kehidupan. Gagasan tersebut memberikan pengaruh terhadap ilmu pengetahuan barat saat itu, yang menjelaskan bahwa keempat unsur tersebut merupakan aspek kimia penting sampai Robert Boyle mendemonstrasikan bahwa ada lebih dari empat elemen pada tahun 1661.

Bersyukurlah karena planet Bumi memiliki nasib baik, yaitu posisinya yan pas, tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dengan matahari. Hidrogen dan oksigen melimpah dalam bentuk air, serta karbon dan nitrogen sebagai unsur utama kehidupan yang akhirnya membentuk salah satu output-nya, berupa udara.

Tubuh manusia yang terdiri dari miliaran atom mengandung sejarah dari alam semesta. Hidrogen dalam tubuh manusia lahir di antara empat unsur utama sekitar 13,7 miliar tahun lalu. Karbon, nitrogen, dan oksigen dalam otot dan otak tercipta dari bintang yang mati lebih dari 5 miliar tahun lalu. Jadi, manusia mempunyai DNA bintang yang tercipta dari peristiwa ledakan supernova miliaran tahun lalu. Maka, setiap manusia punya kapasitas dan kapabilitas untuk bercahaya menerangi kehidupan. Tergantung apakah manusia mampu mengolah energi bintang dalam dirinya.

Jika engkau masih mengklaim bahwa angin berembus karena panggilan jiwa yang merindukan cahaya, maka peluk dan peliharalah udara dalam paru-parumu agar semua sel-sel tubuhmu berbinar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar