HIKAYAT SUNGAI
Wadah bagi hujan adalah seluruh kerongkongan bumi yang menganga ke langit. Ketika kerongkongan itu penuh, dia akan luber, mencari jalan menujuh wadah lain yang lebih luas. Karena itu, hujan butuh instalasi yang terpola untuk memungkinkan ia pulang.
Air membangun instalasinya sendiri melalui bantuan gravitasi yang otoriter, tanpa diminta oleh laut yang mencipta standar permukaan bumi, memerintahkan air untuk menabrak dan menggerus apa pun yang menghalanginya menuju keseimbangan. Maka, terciptalah kali dan sungai-sungai sebagai jalan menuju kampung halamannya.
Manusia baru ikut campur tangan menciptakan cabang-cabang instalasi alam ketika mulai menguasai air dengan penampungan dan melakukan sabotase terhadap aliran sungai-sungai bawah tanah untuk dibelokkan ke sumur pompa, lalu menyebar dari bak-bak penampungan melalui mulut-mulut keran ke setiap ruangan di rumah, kantor, atau pabrik-pabrik. Barulah manusia membuat got-got atau selokan yang terhubung dengan kali atau sungai untuk meneruskan air yang telah dimanfaatkan beserta limbahnya, lalu meminta laut untuk membilasnya. Di sinilah drama tragis mulai terjadi, karena dari seluruh etape perjalanannya, air mengalami eksploitasi besar-besaran ketika masuk ke dalam sistem instalasi manusia, dari kerongkongan, usus, hingga lubang pembuangan manusia. Dibandingkan makhluk hidup lain, manusia merupakan yang paling eksploitatif memperlakukan air.
Sungai mestinya selalu menyimpan cerita indah. Batu-batu besar yang berserakan di kali atau sungai bukanlah untuk menghalangi arus air yang meluncur dari gunung, tetapi berfungsi sebagai layaknya tuts-tuts piano yang mengeluarkan nada gemericik. Karena sungai sejatinya adalah kemewahan sebuah habitat, menyuguhkan air jernih dan sejuk, memfasilitasi ikan-ikan berkembang biak, siput, dan lain-lainnya. Lahan di sepanjang sisi sungai adalah hak bagi tanaman rumput, pohon bunga, dan tanaman tropis lainnya, lalu menyediakan ‘perumahan mewah’ bagi serangga, kumbang, dan kupu-kupu.
Manakala sungai tidak memiliki khazanah itu lagi, pertanda sungai telah melewati peradaban dan permukiman manusia. Laju arus air mulai melambat. Warnanya cokelat kehitam-hitaman. Aromanya busuk. Inilah gambaran instalasi sungai artifisial. Dibangun untuk kebutuhan penduduk yang padat dan menghasilkan limbah rumah tangga yang setiap hari yang melimpah. Pesisir sungai berubah istilah jadi bantaran sungai yang tidak lagi ditumbuhi pepohonan, tempat kumbang dan kupu-kupu bermain, tetapi diganti dengan rumah kumuh kaum marginal dengan lalat beterbangan di sekelilingnya. Rumah itu berupa gubuk-gubuk liar yang sebagian lantainya menempel di tanah, separuhnya lagi menggantung di atas sungai ditopang oleh tiang-tiang kayu, seperti rumah panggung. Meskipun para penduduknya tak pernah punya kesempatan untuk manggung, tetapi rumah mereka justru yang kerap manggung di mata para politisi, baik calon presiden, gubernur, walikota/bupati, serta para calon legislator. Panggung merekalah yang dikunjungi setiap lima tahunan. Sebagai sebuah bagian dari komunitas sebuah kota, mungkin kaum marginal ini tidak memiliki manfaat, kecuali suara mereka yang bisa dievaluasi dalam angka statistik nilai elektoral.
Umumnya, kondisi ekonomi penduduk bantaran sungai memprihatinkan dan tidak memiliki perhatian dan kepedulian dalam merawat sungai yang kondisinya juga tidak kalah memprihatinkan, padahal sungai merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka. Jika habitat dan penghuninya sama-sama memprihatinkan, maka yang ada adalah lingkaran setan terhadap buruknya kualitas ekosistem. Oleh karena itu, kaum marginal di bantaran sungai terbangun subkulturnya tersendiri yang teralienisasi dari budaya kotanya. Meskipun tingkat toleransi dan budaya gotong mereka cukup tinggi, khususnya terkait dengan spirit mempertahankan eksistensi komunitasnya, tetapi hal itu tidak diimbangi dengan tolenransi terhadap lingkungan hidupnya sendiri. Penghayatan nilai spiritualitas yang berbeda dengan warga kota pada umumnya berpotensi menimbulkan konflik horizontal dalam bentuk gangguan keamanan dan kejahatan dampak dari ketimpangan ekonomi dan sosial. Bahkan, terkadang permukiman mereka dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk lari dari kejaran masa atau aparat. Mungkin karena konstruksi tata lingkungan dan tingkat kepedulian yang rendah, akhirnya pelaku kejahatan seolah lenyap ditelan bumi.
Begitulah. Sungai, bagaimanapun, adalah koloni tunggal. Kisahnya terbentang dari hulu hingga ke hilir. Sungai, selain tempat air mengalir dari berbagai penjuru, juga tempat beragam cerita terukir, dari yang indah hingga yang getir, sesuai etape perjalanannya. Meskipun air yang mengalir di got, selokan, dan sungai artifisial di kota-kota tampak buruk dan bau, tetapi mereka telah menunaikan manfaatnya bagi manusia walau akhirnya disia-siakan. Untungnya masih ada matahari yang akan mensucikan kembali air itu yang akan dikisahkan oleh hujan. Sungai mungkin diciptakan agar bumi bisa mengasuh semua warganya dengan cara yang berbeda-beda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar