REZEKI DAN KEMISKINAN INDIVIDUAL
Kemiskinan yang paling sulit diatasi adalah kemiskian yang diciptakan oleh mindset manusia yang salah dalam menyikapi rezeki. Kemiskinan pola pikir ini lebih fundamental dibandingkan dengan kemiskinan struktural, karena meskipun kendala kemiskinan struktural bisa diatasi, tetapi jika mindset individu tidak berubah, dia tidak akan mengubah keadaan.
Rezeki adalah kata yang mengandung dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi spiritual dan dimensi keduniawian. Rezeki adalah sebuah konsep yang dibahas atau disebut-sebut dalam kitab suci (contohnya AlQuran[D1] ), sebagai pedoman bagi manusia untuk menciptakan kesejahteraan bagi hidupnya di dunia. Kitab suci membahas tentang penyikapan manusia terhadap rezeki. Namun, dalam kenyaataannya, banyak orang yang kurang tepat dalam mengimplementasikannya. Salah satunya adalah pandangan yang menganggap bahwa rezeki seolah-olah hanya menjadi urusan Tuhan dan manusia hanya menerima begitu saja. Ini tentu terkait dengan pola pikir atau tata nilai seseorang dalam mendefinisikan rezeki. Lantas, bagaimana definisi yang tepat, baik dalam aspek spiritual maupun aspek duniawi?
Bagi saya, rezeki adalah output dari suatu upaya yang bersifat rasional mengikuti hukum sebab-akibat yang disertai dengan doa dalam lingkup ruang dan waktu. Hukum sebab-akibat adalah hukum alam ciptaan Tuhan yang paling terang benderang dalam menyikapi sifat dan sumber rezeki. Hukum alam telah berhasil disingkap tabir dan prinsip-prinsip kerjanya oleh manusia. Untuk bisa beroperasi, prinsip-prinsipnya harus bisa dipahami dalam bahasa dan akal sehat manusia. Spiritual dan moralitas yang bersifat transenden secara psikologis memperkuat upaya rasional manusia dalam mendapatkan hasil terbaik berupa rezeki. Namun, hasil akhirnya tetap menjadi rahasia Tuhan.
Kemiskinan yang disebabkan oleh mindset menjadi tanggung jawab individu masing-masing dan berdampak kepada diri sendiri serta anggota keluarganya. Kemiskinan individual ini jika dimiliki oleh satu komunitas akan menciptakan kemiskinan kultural. Kemiskinan struktural merupakan kemiskinan yang dialami oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat tersebut kesulitan mendapatkan akses sumber-sumber kegiatan ekonomi sehingga mereka tidak ikut menikmati hasilnya. Kemiskinan kultural berasal dari masyarakat itu sendiri. Kemiskinan struktural bisa dieliminasi jika individu-individu memiliki kemandirian dalam menciptakan rezeki untuk dirinya sendiri melalui pembangunan paradigma yang benar.
Dari aspek keduniawian, rezeki adalah sebuah konsep yang berisi tata nilai dan strategi yang rasional disertai dengan SOP untuk meraihnya. Sebagai sebuah konsep yang rasional, rezeki bisa dipelajari, diuji, dilaksanakan, dan dievaluasi oleh setiap orang dan setiap saat. Namun, variabel penciptaan rezeki sangat multidimensional, sehingga tentu melahirkan probabilitas yang sulit ditebak. Maka, biarkan misteri itu menjadi milik Tuhan.
Dari aspek spiritual-transenden, turunnya rezeki melibatkan peran serta Tuhan yang menyempurnakan atau melengkapi ikhtiar yang telah diupayakan oleh manusia. Apa, kapan, dan bagaimana peran Tuhan ini hanya Dia yang tahu. Misteri itu bisa sedikit terungkap jika kita berikhtiar mencari rezeki dibarengi dengan doa, sikap ikhlas, kepasrahan, dan tawakal.
Apakah rezeki bisa diperoleh hanya dengan upaya rasional manusia saja tanpa dibarengi dengan doa? Karena prinsip-prinsip datangnya rezeki selalui mengikuti hukum alam sebab-akibat yang berlaku universal bagi siapa saja (artinya rezeki tidak ujug-ujug datang berupa uang yang dijatuhkan dari langit), maka rezeki bisa diraih oleh siapa pun yang berupaya keras dan cerdas (keberkahan rezeki itu soal lain karena terkait dengan keyakinan setiap orang).
Sebaliknya, apakah rezeki bisa diperoleh hanya dengan doa saja tanpa adanya ikhtiar? Seperti yang disampaikan dalam pesan-pesan spiritual agama (dalam hal ini Islam) yang mengatakan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak ingin mengubahnya. Maka, bisa dikatakan bahwa jika hanya mengandalkan doa saja akan sangat sulit memperoleh rezeki. Namun, datangnya rezeki memiliki banyak jalan. Dia bisa hadir dengan cara dan waktu yang tak terduga-duga.
Sebenarnya, sumber mencari rezeki sangat banyak dan tersebar di semua sektor ekonomi. Semua itu dapat diketahui dan diupayakan dapat diakses oleh setiap individu, di antaranya: pertanian, perhutanan, dan perikanan; pertambangan dan penggalian; industri pengolahan; pengadaan listrik, gas; pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang; konstruksi; perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor; transportasi dan pergudangan; penyediaan akomodasi dan makan-minum; informasi dan komunikasi; jasa keuangan dan asuransi; real estat, jasa perusahaan; administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib; jasa pendidikan, dan lain-lain (Berdasarakan kriteria BPS).
Setelah mengetahui sumber rezeki, maka yang diperlukan selanjutnya adalah strategi untuk meraihnya. Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan dalam jangka panjang dan berkesinambungan. Strategi juga dapat diartikan sebagai tindakan potensial yang membutuhkan keputusan besar dan esensial. Untuk itu, strategi membutuhkan pengerahan totalitas kemampuan (kapasitas dan kapabilitas) minat dan bakat yang dimiliki setiap orang, yang tentunya berbeda-beda. Atau bisa juga tidak perlu sesuai minat dan bakat, tetapi sesuai dengan kesempatan yang ada. Setelah itu, kompetensi yang diperlukan harus dibangun. Strategi atau ikhtiar dalam memperoleh rezeki telah sering dibahas oleh banyak ahli. Namun, di sini akan diungkap secara garis besar dari aspek keduniawian dahulu, setelah itu dikombinasikan dengan aspek spiritualnya.
1. Pertama, membangun networking dan channeling dengan orang-orang yang tepat untuk membangun aksesibilitas sumber rezeki dalam berbagai sektor ekonomi. Ini adalah implementasi silaturahmi yang diajarkan dalam ajaran agama Islam.
2. Kedua, membangun kemampuan dan keterampilan sesuai dengan minat dan bakat atau sesuai dengan kesempatan yang datang, setelah itu sesuaikan dan tingkatkan kemampuan yang dibutuhkan. Prinsip kesuksesan adalah bertemunya kesempatan dengan kemampuan yang dimiliki.
3. Ketiga, membangun niat yang kuat untuk meraih rezeki yang berkah.
4. Keempat, menyusun rencana usaha yang matang dalam membuka pintu rezeki.
5. Kelima, menyiapkan segala sumber daya yang dimiliki untuk melakukan usaha dalam bidang apa pun yang akan digeluti.
6. Keenam, mengimplementasikan rencana yang telah disusun dengan sungguh-sungguh.
7. Ketujuh, selalu mengembangkan kreativitas dan inovasi.
8. Kedelapan, amanah dan loyal kepada semua pemangku kepentingan, seperti pelanggan, mitra usaha, pemasok, dan lain-lain.
9. Kesembilan, selalu melakukan evaluasi dan perbaikan, serta jangan mudah menyerah.
Sumber daya yang diperlukan dalam menjemput rezeki, baik yang tangible maupun yang intangible antara lain: keyakinan dan tekad yang kuat, skill, knowledge dan attitude, rencana kerja, dana sesuai dengan skala usaha yang dibutuhkan dan bisa diperoleh dari lembaga terkait, channeling dan networking, serta alat kerja.
Untuk membahas rezeki dari aspek spiritual yang akan menyempurnakan ikhtiar, penulis melansir dari Republika.co.id tanggal 8 Januari 2020, berjudul “9 Amalan dalam Islam untuk Mendapatkan Rezeki dengan Mudah:
1. Pertama, memperbanyak istigfar dan bertobat. “Maka Aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun ke pada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS Nuh [71]: 10-12).
2. Kedua, meningkatkan ketakwaan. “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS At-Thalaq [65]: 2-3).
3. Ketiga, gemar menyambung tali silaturahmi. “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim).
4. Keempat, gemar mendermakan harta. “Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS Saba’[34]: 39).
5. Kelima, membiasakan ibadah dengan benar. ”Sesungguhnya Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sibukkanlah untuk beribadah kepada-Ku, niscaya akan Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku tutup kefakiranmu. Jika tidak, kamu lakukan niscaya akan Aku penuhi pada kedua tanganmu kesibukan dan tidak Aku tutup kefakiranmu.” (HR Ahmad).
6. Keenam, menunaikan ibadah haji dan umrah. “Lakukanlah haji dan umrah, karena keduanya akan menghapus kefakiran dan dosa sebagaimana api menghilangkan karat besi, emas, dan perak.” (HR Ahmad).
7. Ketujuh, hijrah di jalan Allah. “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisa’ [4]: 100).
8. Kedelapan, tawakal kepada Allah. “Seandainya kalian mau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, pasti Allah akan memberikan rezeki kepadamu sebagaimana burung yang diberi rezeki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).
9. Kesembilan, menafkahi penuntut ilmu. Anas bin Malik RA berkata, “Dulu ada dua orang bersaudara pada masa Rasulullah SAW. Salah seorang menuntut ilmu pada majelis Rasulullah SAW, sedangkan yang lainnya bekerja.
Intinya, manusia yang memaknai rezeki secara spiritual dan keduniawian akan lebih efektif dalam meraih rezeki. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengelola rezeki dengan baik agar bisa memberikan kemaslahatan bagi banyak orang dan bagaimana rezeki memelihara dirinya sendri untuk mendatangkan sumber-sumber rezeki baru untuk keselamatan dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar