Minggu, 30 Juli 2023

Slow Down

SLOW DOWN

 Selama otakmu gaduh, langkahmu tergesa, dan telingamu bising, maka takkan ada pemahaman yang luas dan dalam tentang hikmah kehidupan.

Dalam ketergesaan, suara alam terdengar monoton dalam notasi datar, bahkan terasa kosong dan kadang seperti teriakan-teriakan kecemasan. Kesyahduan nyanyian alam yang setiap detik disenandungkan leyap ditelan kegaduhan transaksi-transaksi. Maka, dalam sebuah tafakur, kuberi kesempatan pada telinga untuk fokus pada setiap bunyi alam yang beresonansi di udara. Pelan-pelan kudengar orkestra alam, bunyi gemuruh angin, derit bambu tertiup angin, desah rintik hujan, gemericik air, hempasan ombak, kicauan burung, lolong karnivora, dan lain-lain, kemudian menjadi bagian dari kesyahduan itu. Tidak saja untuk menemani keresahanku, tetapi juga untuk pemulihan jiwaku yang terkapar dihunjam ambisi.

Trafik gelombang suara pikiran yang tinggi membuat aku lupa arah yang hendak kutuju, bahkan tak tahu sudah sejauh mana perjalanan telah kutempuh. Jiwa gelisah. Emosi kocar-kacir. Hidup kehilangan makna. Karya apa yang telah kuhasilkan? Apa amalanku untuk diri sendiri, keluarga, dan orang banyak? Kadang juga lupa menu sarapan pagi, baju yang kukenakan ke kantor kemarin, kepada siapa saja aku berbicara, tema apa saja yang kami diskusikan, musik apa yang kunikmat malam hari. Aku benar-benar lupa cara menikmati kehidupan yang penuh berkah. Maka, dalam sebuah zikir, aku memberi kesempatan pada hati untuk slow down dan fokus pada semua aktivitas yang terjadi di sekelilingku. Pelan-pelan mulai tampak banyak bibir yang tersenyum kepadaku. Kehangatan tegur sapa sahabat, tangan-tangan kolega yang telah memberi sumbangsih pada karya dan karsaku. Selama ini kebaikan-kebaikan itu luput dari perhatian dan ingatanku.

Dalam kegaduhan pikiran, semua keberkahan hanya bertebaran sekelebat saja. Ide-ide telantar dan mengering di atas rencana-rencana. Gagasan dan pengalaman tak ada yang terserap menjadi gizi logika. Ilmu dan warta baru tak lagi memberi pencerahan. Maka, dalam sebuah tafakur, kuberi waktu bagi otak untuk slow down dan berfokus pada beberapa nilai-nilai, mindset, dan paradigma yang selama ini cahayanya terabaikan. Pikiran kufokuskan pada gagasan-gagasan yang memberikan nilai tambah bagi budi pekerti atau akhlak. Tidak hanya melibatkan hati, tetapi juga seluruh sel-sel sarafku. Pelan-pelan mutiara hikmah bermunculan keluar dari tabir yang selamai ini tertutupi kegaduhan.

Dalam kesemrawutan suasana, pemandangan yang terhampar di depan mata hanya seperti film tanpa pemeran utama. Semua jadi latar belakang berwarna kelabu yang kehadirannya hanya sepintas saja dan sebagai pelengkap. Benda-benda dan makhluk-makhluk lain bukan merupakan individu utuh, melainkan hanya himpunan angka. Kadang berwujud bayangan. Maka, dalam sebuah takafur, aku memberi kesempatan pada kurniaku untuk berfokus pada seluruh benda yang ada di sekelilingku secara detail dengan rasa simpati. Dan, pelan-pelan muncul taman yang indah, langit biru cerah, puspa yang merekah, sawah yang terhampar luas, satwa yang riang mencari makan, sungai yang tenang dan kesejukannya mengalir hingga ke relung jiwa seperti film dengan resolusi tinggi. Kontur dan struktur khas sebuah citra memancarkan karekternya. Ruang pun menjadi jernih dan waktu terasa lambat berputar. 

Kemudian kepada hati, aku meminta untuk men-zoom kerumunan manusia yang selama ini hanya berlalu-lalang dalam hatiku, tidak mengenal mereka secara personal, tanpa simpati dan empati. Dan, tiba-tiba tampak dengan jelas keindahan variasi citra dan spiritual setiap insan yang selama ini tertutupi kabut kesombongan dan keegoisan diri. Mereka mungkin telah memberikan sumbangsih dan peran atas kualitas hidupku, tetapi terabaikan oleh nafsu ingin selalu tampil agar dianggap orang yang hebat. Saat bertafakur, yang ada hanya aku dan Tuhanku.

Slow down dimaksudkan untuk menurunkan tensi pikiran dan semua tindakan untuk berkontemplasi di saat pikiran dan hati menurunkan tensinya untuk berfokus dan memberikan perhatian pada alam sekitar. Memberikan makanan bagi hati dengan doa, rasa syukur, dan kepasrahan total pada Sang Khalik.

Mendengar suara napasku dengan frekuensi embusannya yang tak berbilang dalam menyuplai oksigen secara gratis untuk memberi nafkah bagi miliaran sel-sel sehingga mengaktifkan perilaku bawah sadar.

Mendengar suara jantungku dengan frekuensi detak yang tak berbilang dalam mendistribusikan nutrisi ke miliaran sel-sel secara otomatis untuk memberi energi pada pembentukan watakku.

Menyimak derap langkah kakiku dengan jarak tempuh yang tak berbilang dalam menyuplai khazanah pengalaman hidupku dan kepribadianku.

Mendengar bisikan nurani dengan nada lembut yang senantiasa merawat roh alam dan keharmonisan dalam mewarnai karakterku.

Aku punya kemewahan yang gratis, yaitu waktu jeda untuk meluruhkan semua kepongahan diri agar bisa mendengar, melihat, dan merasakan kehadiran surga di jiwa.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar