SUARA OPINI LEADER ADALAH SUARA TUHAN
Jerit tangis dan doa rakyat yang terzalimi akibat kebijakan raja yang mencekik dan membelenggu kebebasan itulah yang akhirnya mengkristal menjadi sebuah ungkapan sacral, “Suara rakyat adalah suara Tuhan”. Siapa pun penguasa yang tidak mengindahkan suara Tuhan akan terjungkal, terhempas, dan terhinakan di bawah telapak kaki rakyat dan kaum proletar. Suara rakyat adalah suara Tuhan benar-benar menjadi tonggak lahirnya era demokrasi.
Revolusi Prancis melahirkan ungkapan fenomenal, “Vox Populi Vox Dei”, yaitu suara rakyat adalah suara Tuhan. Ungkapan itu merupakan antitesis dari semboyan “Vox Rei, Vox Dei” atau suara Raja adalah suara Tuhan yang telah mengakar ribuan tahun dalam perjalanan sejarah kehidupan umat manusia yang saat itu dijadikan sebagai prinsip dasar teokrasi pemerintahan monarkis.
Menurut kepercayaan saat itu, rmendapatkan mandat atau legitimasi kekuasaan langsung dari Tuhan. Raja adalah wakil Tuhan di muka bumi. Sebuah narasi sakral yang semakin mengokohkan kuku kekuasaan seorang raja dan diperkuat dengan mitos, dogma agama yang dibangun bersama oknum otoritas gereja yang melakukan konspirasi dengan otoritas kerajaan. Untuk memperkokoh kedudukan sang wakil Tuhan itu, raja membangun peranti kekuasaan yang terstruktur dan sistematis berdasarkan kolusi dan nepotisme hingga melahirkan pemerintahan yang koruptif. Jelas saat itu roda pemerintahan yang dijalankan oleh kerajaan jauh dari prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas. Kemudian, dibangun suatu titah bahwa ucapan raja adalah hukum tertinggi yang wajib dipatuhi oleh rakyatnya. Suksesi atau proses peralihan kekuasaan dilakukan secara turun temurun dan menjadi hak prerogatif presiden . Karena itu, raja tidak bertanggung jawab kepada rakyat, tetapi kepada Tuhan. Itu klaim dari pihak kerajaan. Pada praktiknya, kekuasaan raja itu absolut dan sewenang-wenang sehingga memunculkan protes dan revolusi dari rakyat pada masanya.
Renaisans, penemuan berbagai teori filasafat, ilmu dan teknologi benar-benar mendatangkan tsunami bagi hegemoni monarki. Semua yang terkait dengan kewenangan, tanggung jawab, hak dan kewajiban negara kepada rakyat dan sebaliknya menjadi isu yang terus menggulung seperti bola salju, memunculkan people power untuk menggulingkan sistem kerajaan. Ikut mendorong terjadinya revolusi itu adalah lahirnya teori-teori tentang bernegara yang sehat dan adil, seperti trias politika. Sosialisme bertebaran dan menjadi bacaan favorit kaum cendekia. Maka, berakhirlah masa kejayaan sistem kerajaan diganti dengan era egaliter dan kesamaan hak dan kewajiban di muka hukum dan negara. Hak asasi manusia menjadi pedoman bagi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bersosial.
Slogan suara rakyat adalah suara Tuhan itu akhirnya membalikan piramida struktur tatanan stakeholder negara (yang kemudian diikuti dengan struktur organisasi bisnis beberapa abad kemudian). Rakyatlah sebagai pemilik kekuasaan tertinggi. Rakyat adalah wakil Tuhan, bukan raja. Tiga pilar demokrasi ditegakkan: yudikatif, legislatif, dan eksekutif. Semua stakeholder mengabdi kepada rakyat sebagai “Tuhan baru”.
Kemudian dalam dunia bisnis muncul slogan “Pelanggan adalah raja”. Semua pemangku kepentingan bisnis harus ‘menghamba’ kepada pelanggannya. Mereka harus terus menerus memenuhi keinginan, kebutuhan, dan harapan pelanggan. Jika tidak, bersiaplah menerima hukuman yang setimpal melalui mekanisme hukum pasar atau pemilihan umum di dunia politik.
Dalam pemilihan umum, suara rakyat yang akan menentukan pemimpin. Namun, rakyat yang menggunakan hak suaranya harus memenuhi persyaratan tertentu agar pemimpin yang dipilih benar-benar mumpuni atau kredibel. Dia harus memiliki wawasan yang luas, berintegritas, serta amanah. Jika rakyat yang memilih pemimpin tidak memiliki kejujuran dan keikhlasan, maka mereka hanya menjadi kumpulan angka yang suaranya dapat dibeli atau diarahkan ke pihak-pihak yang membayar sehingga kualitas pempimpin yang terpilih tidak qualified.
Lantas timbul pertanyaan, apakah selamanya suara rakyat adalah suara Tuhan? Apakah selamanya pelanggan adalah raja? Apakah kekuasaan rakyat atau pelanggan absolut? Kita tahu bahwa di tengah-tengah rakyat atau pelanggan ada tokoh-tokoh yang memiliki pikiran cemerlang dan mampu memengaruhi opini dan persepsi rakyat dan orang banyak. Orang yang memiliki keahlian di atas rata-rata yang menciptakan revolusi teknologi, revolusi mental. Penemuan teori-teori baru tentang sesuatu hal atau tokoh-tokoh trendsetter akan mengambil alih dominasi suara rakyat karena merekalah sejatinya yang menguasai suara rakyat yang telah dipengaruhinya.
Setiap era memunculkan pahlawan, tokoh-tokoh baru, dengan cara yang berbeda sesuai dengan zamannya. Sekarang adalah era di mana “Suara trendsetter adalah suara Tuhan”. Yang termasuk kaum trendsetter di sini bisa ilmuwan, penemu teknologi baru, tokoh politik yang memiliki pandangan revolusioner, atau bahkan tokoh selebritas atau selebgram di kalangan netizen.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar