Minggu, 30 Juli 2023

Ekstase

 EKSTASE

Aku adalah organisme yang bersemayan dalam pikiranmu. Semakin engkau berpikir, semakin aku berkembang. Semakin engkau lelap, sema,kin aku bereproduksi. Bisakah engkau mencabutnya?

Aku adalah senyawa yang bersemayan dalam kalbumu. Semakin engkau tersenyum, semakin aku membelah diri tak terkendali.  Semakin engkau berpaling, semakin aku menghunjam ke jantungmu. Semakin engkau menjauh, semakin aku merasuki darahmu. Bisakah engkau mengabaikannya?

Aku adalah sari pati kata-kata dari nyanyian jiwamu. Tanpa kaidah, tanpa paradigma. Semakin engkau membacanya, semakin aku bergurindam. Semakin engkau menyangkal, semakin aku menemu habitat. Bisakah engkau mengusirnya?

Aku memabukkan setiap kali engkau menyangkalnya. Tapi tak usah cemas. Umurku seusia kesadaranmu.

Seperti halnya kecerdasan yang menyerang pusat kendali logika, aku menyerang di sisi sebelahnya, yaitu hati. Aku memiliki magnet yang melekat pada paras, suara, bahasa, atau pada otot-otot motorikku. Dan aku memahami sepenuhnya bahwa hati manusia seperti spons yang mengisap citra yang memancarkan pesona di luar dirinya. Maka, ketika cahayaku menerobos ke jantung hati, aku akan melumpuhkan daya nalar. Dari situ medan magnetku bekerja menyedot energi daya hidup mereka. Mereka mabuk kepayang, melayang dibuai halusinasi dan perlahan akan mengganggu cara kerja pikiran sepanjang kesadarannya. Yang lebih dahsyat adalah ketika mereka menutup diri dari sumber kebenaran atau keindahaan lain. Pikiran akan berhenti mencari referensi lain yang ada di luar keyakinan dan pengaruhnya. Hatinya menutup diri dari figur lain-lain yang mungkin lebih baik  dari aku, sang idolanya. Apa pun yang aku ucapkan akan diikuti. Apa pun yang aku lakukan akan dibela mati-matian. Mereka benar-benar menjadi pasukan buzzer dan laskar militan untuk melindungi auraku.

Yang aku lumpuhkan adalah daya kritis otak. Energi untuk mengeksplorasi dan mempertanyakan hakikat sebuah eksistensi untuk mendapatkan ilmu atau informasi hal-hal baru lenyap. Daya pikat aura bekerja seperti sebuah dogma, akan mengunci pintu cangkangnya. Kenapa daya pikat aura bisa menghilangkan daya kritis? karena orang yang telah meyakini suatu hal tidak akan mencari informasi lain dan menghindari informasi yang tidak relevan, apalagi yang bertentangan. Proses belajar yang biasanya untuk menambah insight baru[D1] , digunakan untuk fokus mendalami satu hal yang hanya mempertebal keyakinan mereka. Semua gagasan atau pesona di luar keyakinannya adalah nonsense. Tanpa disadari, mereka telah menjadi seperti robot yang bergerak sesuai program. Inilah gambaran ekstrem daya pikat sebuah aura.

 Aku tak akan dipenjara karena seseorang rela mati membela citra dan auraku. Aku juga tidak bisa dihukum karena seseorang terbunuh demi mempertahankan pikiran dan ideku. Kecuali jika aku dengan kesadaran penuh, memperdaya ‘umat’ku dengan magnet auraku untuk keuntungan yang tidak sinergis  dan harmonis.

Aura adalah paradoks, di satu sisi bisa menggerakkan massa untuk menyebarkan hal yang baik, di sisi lain bisa membuat massa  pengikutku menjadi pasukan gurkha yang siap mempersembahkan nyawanya  demi membela dan mempertahankan gagasan dan tindakan sang idola. 

Oleh karena itu, wahai engkau yang memiliki aura yang menyihir, kelolalah auramu  dengan bijak,  bening, dan rendah hati  agar anugerahmu dapat mencerahkan banyak orang. Biarkan mereka membentuk mata rantai cinta kasih. Bukan malah melahirkan kumpulan orang-orang militan dan perisai hidup bagi kepentinganku sendiri. Sudah banyak contoh seorang idola di akhir cerita dihinakan oleh penggemarnya sendiri karena sang idola mengalami star syndrome, berlagak layaknya ‘dewa’. Sadarkan mereka untuk menghormati keunikan  kepribadian mereka sendiri.

Melayanglah menikmati karya-karya sang idola, tetapi tetap ‘eling lan waspodo’.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar