PARAS VS WAJAH
Wajah bukanlah wadah bagi mata, hidung, atau mulut, tetapi paras dan kepribadianmu.
Kepala juga bukan wadah bagi otak, tetapi pikiran dan gagasanmu.
Sementara hati bukan semata-mata wadah bagi ego dan nafsumu, tetapi nilai kemanusiaanmu.
Wajah seperti seni instalasi yang memainkan kombinasi bentuk, warna, dan tata letak bagian-bagian wajah pada posisi yang proporsional dan ideal. Namun, dia baru dikatakan paras (citra) ketika telah merepresentasikan perilaku dan emosi pemiliknya. Jadi, paras adalah wadah bagi unsur-unsur rohani dan fisik yang membentuk sebuah identitas dan kepribadian individu. Maka, ketika engkau terpesona oleh sebuah paras itu artinya engkau terpikat dengan karya seni agung yang menyatunya kualitas rohani dan kualitas fisik.
Wajah adalah sebuah unit kerja yang menghasilkan sebuah “paras” dengan karakter, watak, dan citra diri. Sebagai sebuah unit kerja, wajah terdiri dari bagian-bagian yang memiliki peran sendiri-sendiri, tetapi satu sama lain saling berhubungan dan terkoneksi. Dalam konsep paras, mata bukan sekadar untuk melihat, tetapi untuk mengamati, mencermati, menghormati, dan menghargai apa yang dilihat. Mulut bukan sekadar penghasil suara dan saluran makanan, tetapi juga untuk menyuarakan moralitas, etika, dan nada yang memberi semangat. Bibir bukan sekadar untuk menghasilkan senyuman, tetapi juga ekspresi memuliakan. Dahi bukan sekadar untuk mengernyit saat berpikir keras, tetapi juga untuk cahaya simpati.
Dalam struktur organisasi paras, otak dan hati adalah pimpinan sebagai pusat pengendali bagi fungsi-fungsi lain seperti mata, mulut, dahi, hidung, pipi, dan lain-lain. Maka, pola pikir dan suasana hatimu bisa dibaca oleh orang lain karena tercermin jelas pada parasmu.
Tak satu pun manusia memiliki kesamaan yang sempurna satu sama lain. Probabilitas dari kombinansi tata letak seluruh unsur wajah sungguh terhingga, menciptakan wajah atau paras sebanyak jumlah manusia yang pernah ada di bumi.
Merawat paras dimulai dari hati dan pola pikir. Jika pola pikir dan suasana hati tertata dengan baik, maka itu menjadi dasar bagi wajah untuk dipoles menjadi lebih sempurna. Dandanan dan bersolek hanya menguatkan dan menonjolkan kontur kecantikan fisik yang sudah ada.
Kecantikan atau ketampanan tampaknya hanya bersifat fisik keduniawian, padahal sangat bersfiat spiritual karena keindahan wajah fisik (outer beauty) adalah gift yang bersifat given, pemberian langsung Tuhan kepada manusia melalui DNA. Itu sebabnya banyak orang mabuk kepayang hingga merasuk ke dalam jiwa akibat terpesona oleh sebentuk paras. Apa saja bisa diupayakan demi mendapatkan dan menghargai keindahan wajah. Sementara yang disebut kecantikan rohani (inner beauty) adalah hasil olah pikir atau akal budi manusia itu sendiri, bukan bawaan sejak lahir. Dengan kata lain, kecantikan budi pekerti adalah karya seni perilaku hasil karya manusia sendiri melalui proses belajar dan perenungan yang dalam. Keduanya memiliki dampak secara rohani karena sejatinya wajah merupakan pantulan cahaya Ilahi. Apalagi jika secara rutin dibasuh dengan air wudu.
Wajah adalah identitas setiap individu dan setiap identitas memiliki paling tidak tiga fungsi. Satu, sebagai pembeda dari yang lain. Kedua, sebagai jati diri atau pribadi khas. Ketiga, sebagai citra daya pikat. Namun, dalam perkembangan ilmu terapan, wajah juga menjadi sarana atau alat untuk menghipnotis. Semakin indah wajah seseorang, semakin kuat pengaruh hipnotisnya. Jika kecantikan fisik dan keindahan perilaku menyatu dengan pas, berhati-hatilah, engkau akan menjadi budak yang siap melakukan apa saja untuk memilikinya. Cara merawat wajah yang utama adalah dengan menjaga keteguhan hati, konsistensi, dan integritas agar wajah tidak bertambah menjadi dua alias munafik. Kalau berkata, berdusta; kalau berjanji, mengingkari; dan kalau diberi amanah, berkhianat.
Dalam Surat al-Ghasiyah diceritakan bahwa kelak di akhirat ciri orang yang masuk neraka terlihat jelas di wajah mereka. Banyak wajah yang tertunduk hina (wujuhun yaumaidzin khasyiah). Merekalah wajah-wajah yang akan digiring masuk api neraka. Ini berbeda dengan kelompok lain yang wajahnya berseri-seri (wujuhun yaumaidizn na’imah). Dari wajahnya saja kita tahu bahwa ini calon penduduk surga. Itulah wajah manusia kelak di akhirat (Dilansir dari khasanah GNH).
Dari wajah, muncul karya seni, bisnis, dan ilmu. Seni merias dan merawat wajah berkembang pesat, ini menandakan bahwa wajah memang menjadi kebutuhan yang esensial bagi manusia sehingga segala usaha ditempuh agar wajahnya memiliki pesona.
Namun, perlu disadari, makeup bisa meningkatkan kepercayaan dan citra diri atau sebaliknya, menurunkan citra diri. Semua tergantung kadar dan keterampilan dalam ber-makeup. Yang perlu dihindari adalah bersolek secara berlebihan karena bedak yang terlalu tebal akan berubah menjadi topeng. Topeng bukan saja akan menyembunyikan jati diri, tetapi juga menutup kejujuran pancaran sari wajah. Dalam dalam aspek psikologi, orang yang makeup-nya berlebihan bisa menggambarkan kurangnya integritas. Di dunia bisnis, tentu akan merusak citra perusahaan yang mewakili atau berpotensi mengurangi kepercayaan mitra atau pelanggan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar