PENDAPAT VS HARGA DIRI
Banyak orang menyamakan antara pendapat dengan harga diri. Contohnya, pada saat pendapatnya diserang, seseorang merasa itu adalah penyerangan terhadap harga dirinya, padahal antar pendapat dan harga diri dua hal yang berbeda.
Tampaknya ini hal yang sepele, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru masalah ini sering terjadi dan menjadi sumber konflik atau pertikaian yang bisa berbuntut panjang, baik antar anggota keluarga, antar teman, antar kolega atau mitra bisnis. Perdebatan tentang suatu gagasan atau pendapat sebenarnya hal yang wajar, tetapi jika salah satu pihak merespon perdebatan secara emosional dan out of context, bisa menjadi masalah yang berkepanjangan. Masing-masing pihak tidak lagi focus membahas pokok persoalan tetapi tetapi saling serang secara individu di luar pokok persoalan. Ini adalah buntut dari kesalahan pandangan orang yang tidak bisa membedakan antara pendapat dengan harga diri.
Kritikan terhadap suatu pendapat atau gagasan adalah untuk menguji kebenaran pendapat tersebut, bukan untuk melecehkan hrgadiri. Meskipun perceksokan itu bisa saja disebabkan pengeritiknya yang bermasalah, tidak mengindahkan kaidah dan etika. Kenapa kita sering terjebak dengan permasalahan seperti ini, yaitu menyamakan pengertian antara pendapat dengan harga diri ? Mungkinkah karena setiap pendapat selalu memiliki alasan personal, atau terkait dengan kepintaran atau kecerdasan seseorang, sehingga sering dikait-kaitkan dengan harga diri. Padahal sesungguhnya pendapat dan harga diri memiliki perbedaan yang esensial.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendapat adalah buah pemikiran atau perkiraan tentang suatu hal (seperti orang, peristiwa). Atau bisa juga dikatakan kesimpulan sementara yang diyakinin seseorang tentang suatu hal atau peristiwa berdasarkan asumsi dan pendekatan tertentu sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang diketahui atau dikuasainya. Oleh karena itu, karena masih perkiraan atau kesimpulan sementara, maka semua pendapat terbuka untuk dikoreksi, dikeritik atau diberi masukan agar pendapat itu menjadi lebih tepat, lengkap.
Sementara harga diri bukanlah semata-mata soal kepintaran berpendapat. Untuk memahami pengertian harga diri dengan tepat, penulis melansir beberapa pendapat dari situs psikologi popular PsikologiHore!, sebagai berikut :
1. Coopersmith (dalam Ainur, 1997) menjelaskan bahwa harga diri adalah evaluasi yang dibuat individu mengenai sesuatu yang berkaitan dengan dirinya, yang diekspresikan dalam suatu bentuk sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan bahwa individu tersebut meyakini dirinya sendiri sebagai individu yang mampu, penting, dan berharga.
2. Blascovich dan Tomaka (dalam Coetzee, 2005) menyatakan bahwa harga diri adalah komponen evaluatif dari konsep diri, representasi diri yang lebih luas sehingga mencakup aspek kognitif dan behavior yang bersifat menilai dan afektif.
3. Roman (dalam Coetzee, 2005) menyatakan bahwa harga diri sebagai suatu kepercayaan diri seseorang, merupakan patokan untuk sesuatu yang terbaik bagi diri sendiri, dan bagaimana melakukannya.
4. Clements dan Bean (1995) mengungkapkan bahwa harga diri (self-esteem) adalah penilaian-penilaian seseorang tentang dirinya sendiri dari berbagai perspektif
Dari beberapa pendapat tersebut di atas, penulis menyimpulkan bahwa harga diri (self esteem) adalah nilai-nilai yang dipengang dan diyakini seseorang tentang kondisi dan keadaan dirinya berdasarkan hasil evaluasi dirinya dari berbagai aspek seperti pengalaman, keyakinan, persepsi, opini, kelebihan dan keterbatasan yang dimilikinya.
Perbedaan mendasar antara pendapat dan harga diri adalah bahwa subjek atau pokok persoalannya dari pendapat adalah gagasan atau ide seseorang, sedangkan pada harga diri, subjek atau pokok bahasannya adalah kualitas diri yang sudah diyakini dan melekat pada diri seseorang.
Jika kita focus pada kedua esensi tersebut, maka seharusnya kita bisa bersikap dengan tepat dan bijak saat pendapat kita diserang atau didebat oleh orang lain. Karena pendapat bersifat kesimpulan sementara atas suatu masalah sebaiknya kita memisahkan diri dengan harga diri. Sehingga kit akita bisa open mind, menerima msukan dan kritikan.
Sementara terhadap harga diri kita juga perlu menyikapinya dengan tepat. Karena harga diri memiliki banyak variable. Secara garis besar terbagimenjadi dua yaitu : variable yang bersifat given, pembawaan sejak lahir dan variable yang bisa dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Untuk variable yang dibawa dari lahir (kelebihan atau kelemahan) penyikapannya bisa berbeda bagi setiap orang. Di balik kekurangan yang ada pada diri kita terkandung kelebihan atau kesempatan yang bisa dikembangkan menjadi kekuatan. Sedangkan factor-faktor pembentuk harga diri yang bisa dibentuk atau dikembangkan, menjadi tanggung jawab diri sendiri untuk meningkatkannya.
Untuk lebih jelasnya, perlu dipaparkan secara detail factor-faktor yang membentuk harga diri. Dilansir dari situs psikologi popular : Psikologi Hore! Dijelaskan factor-faktor pembentuk harga diri, sebagai berikut :
1. Usia : Setiap manusia punya fase perkembangan dari anak, remaja, dewasa awal, dewasa madya, sampe lanjut usia. Setiap fase ini punya rentang usia, dan rentang usia ini berperan dalam self esteem. Dari sebuah penelitian tentang hubungan self esteem dengan usia, disebutkan bahwa harga diri cenderung menurun di masa remaja, meningkat di usia 20 tahun, mendatar di usia 30, meningkat di rentang 50-60 tahun dan menurun di usia 70 dan 80 tahun. Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 326.641 responden, dengan rentang usia 9 sampe 90 tahun. sumber: Journal of Psychology and Aging
2. Jenis Kelamin : Dari hasil penelitian tersebut juga menunjukan indikasi bahwa secara rata-rata harga diri cowok lebih positif dibandingkan cewek. Tapi, Major dkk (dalam Baron, Branscombe, & Byrne, 2008) menekankan bahwa perbedaan harga diri pada laki-laki dan perempuan keliatan signifikan pada kelas sosial menengah ke bawah. Untuk kelas profesional atau menengah ke atas, perbedaan harga diri ini nggak berbeda signifikan. Jadi faktor jenis kelamin bukan merupakan faktor pembeda yang kuat.
3. Keluarga : Keluarga yang harmonis bisa meningkatkan harga diri seseorang. sumber: quietrev.com. DeHart, Pelham, dan Tenne (dalam Baron, Branscombe, & Byrne, 2008) menyatakan bahwa Seseorang yang dibesarkan dalam keluarga dengan kasih sayang yang besar, memiliki harga diri yang lebih positif dibandingkan dengan seseorang yang dibesarkan kurang kasih sayang.
4. Kondisi Fisik : Coopersmith (1967) menyatakan bahwa orang dengan daya tarik fisik tinggi cenderung memiliki harga diri lebih baik dibandingkan orang dengan kondisi fisik kurang menarik. Individu yang merasa dirinya berpenampilan menarik akan merasa baik terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya, cacat fisik yang mencolok bisa membuat seseorang merasa rendah diri (Hurlock, 1990). Hal ini berbeda-beda pada tiap orang ya.
5. Tingkat Pendidikan : Semakin rendah tingkat pendidikan seseorang, semakin rendah pula harga dirinya. Sebaliknya, semakin tinggi tingkat Pendidikan seseorang akan semakin meningkatkan kepercayaan diri dan sekaligus harga dirinya. (Hasil Penelitian Bulut, Gurkan, dan Sevil (dalam Ilmaz dan Baran, 2010)
6. Penghasilan : Penghasilan yang tinggi dapat meningkatkan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri, sehingga semakin meningkatkan harga diri seseorang. Menurut Baruch, Barnett, & Rivers (1983),
7. Teman Dekat : Seperti sebuah pemeo, Temanmu adalah cerminan dirimu. Artinya, kualitas hidupmu saperti atau setara dengan teman-teman dekatmu. Semaikn baik, positif dan prestatif teman-teman dekatmu akan meningkatkan harga diri seseorang. Begitu sebaliknya.
8. Kompetensi : Semakin tinggi kompetensi seseorang, semakin tinggi harga dirinya. Ada tiga kompetensi yang mempengaruhi harga diri: kompetensi akademis, kompetensi sosial, dan kompetensi kerja. (Herter dalam Bitar, 2004)
9. Dukungan Sosial dan Emosional : Memiliki dan berada di tengah-tengah orang yang mengasihi dan mendukung dan saling melindungi membuat kepercayaan diri seseorang meningkat. Rasa aman dan nyaman itu lah yang meningkatkan harga dirinya.
10. Kekuasaan : Ketika seseorang mampu mengontrol perilaku orang lain, dan diakui oleh orang lain, dia akan merasa punya kekuasaan (power). Kekuasaan inilah yang meningkatkan harga diri orang tersebut (Mengantes, 2005).
11. Kebajikan : Ketika kita berbuat baik, ada rasa kesenangan dan kebahagiaan yang muncul dalam diri. Ini menyangkut moralitas dan nilai kemanusiaan dan setiap perbuatan baik dan bijak mendapaat ganjaran dan direstui oleh Tuhan sesuai dengan kepercayaannya. Dan Itu yang bisa meningkatkan harga diri seseorang.
Setelah kita memahami pengertian harga diri secara mendalam, maka untuk bisa membedakan dengan pendapat, perlu ditegaskan tentang factor-faktor yang membentuk sebuah pendapat atau gagasan yang rasional atau logis mengikuti aturan kaidah-kaidah umum.
Pendapat adalah sebuah proposisi, yaitu kalimat pernyataan yang memiliki arti penuh dan utuh. Hal ini berarti suatu kalimat harus dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar tidaknya. Singkatnya, proposisi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang dapat dinilai benar atau salah (sumber Wikipedia). Proposisi adalah bagian dari silogisme, yang memiliki arti sebagai suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Sebagian para ahli logika menyebut silogisme sebagai penyimpulan tidak langsung (immediate inference), karena dalam silogisme menyimpulkan pengetahuan baru yang kebenarannya diambil secara sintesis.
Dalam forum-forum ilmiah mempersoalkan dan memperdebatkan atau menguji suatu pendapat atau teori adalah sesuatu yang biasa dilakukan untuk menguji kebenaran hipotesa dengan data-data yang relevan. Dan tentu semua peserta diskusi ilmiah harus memenuhi persyaratan level Pendidikan tau taraf berfikir yang rasilonal dan ilmiah.
Permasalahan yang sering timbul biasanya terjadi di luar forum akademis, dimana perdebatan sering kali menimbulkan perselihsihan. Pendapatnya diserang, dikritisi atau diuji menyulut emos, karena dianggap sebagai serangan terhadap harga diri. Ini tentu terkait dengan kematangan seseorang dalam membangun harga dirinya. Ada tiga fase pembentukan harga diri seseorang seperti yang dilansir pada situs psikologi popular, sebagai berikut : Hal ini dipengaruhi oleh harga diri setiap norang. Ada tiga tipe harga diri, yaitu :
a. Harga diri terpecah adalah ketika seseorang merasa tidak berharga. Pada fase ini, pada umumnya seseorang sulit untuk diajak berdebat, karena tidak memiliki keterampinan atau pengetahun atau kepercayaan diri.
b. Harga diri rapuh ketika di luar tampak pede, sebenarnya tidak. Pada fase ini, pada umumnya seseorang biasanya sensitive menerima kritikan dan merasa in-secure.
c. harga diri kuat ketika di luar dan di dalam benar-benar percaya diri. Pada fase ini biasanya orang merasa lapang data dan pikiran terbuka untuk menerima kritikan atau saran.
Oleh karena itu, agar kita tidak terjebak pada permasalahan konyol ini sebaiknya kita meningkatkan kualitas dari setiap variable yang membentuk harga diri, sebab ; Orang dengan harga diri tinggi merasa nyaman dengan diriny; mampu menerima realita dan kuat menghadapi masalah; mampu menerima orang lain apa adanya; merasa cuek atau tidaki perduli dengan penilaian orang lain serta tidak gampang tersinggung.
Tapi ini kondisi ideal. Dalam realitanya probabilitas menemukan orang yang memiliki harga diri tinggi mungkin tidak banyak. Untuk itu kita perlu mengembangkan kiat-kiat ada merubah strategi atau paradigma yang bisa dikembangkan untuk menghindari perdebatan suatu pendapat menjadi konflik atau pertengkaran, misalkan sebagai berikut :
a. Saya tidak ingin berdebat, tapi ingin menyatukan dan melengkapi ide dari beberpa pendapat.
b. Saya tidak ingin berdebat, karena tidak ingin menemukan kebenaran atau kesepakatan dengan cara saling berbantah-bantahan.
c. Saya tidak ingin berdebat, karena saya ingin menemukan solusi bersama.
d. Saya tidak ingin berdebat, karena tidak ingin melukai perasaan untuk mencapai kesepakatan.
e. Saya tidak ingin berdebat, karean ada cara lain mencapai kesepakatan yang lebih damai dan efektif.
f. Saya tidak ingin berdebat, karean ingin berkolaborasi dengan mitra diskusi.
g. Dan lain-lain
Demikianlah, banyak jalan menuju roma.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar