Minggu, 30 Juli 2023

Tauhid Semesta

 TAUHID SEMESATA

Pahamilah, bahwa semesta pun bertauhid, yaitu ketika mikrokosmos dan mikrokosmos menyatu dan menyelaras dalam kebidupan.

  Makrokosmos dan mikrokosmos adalah skema neoplatonik Yunani kuno yang melihat pengulangan pola yang sama di setiap tingkatan kosmos, mulai dari ukuran terbesar (makrokosmos atau tingkat semesta) sampai ukuran terkecil (mikrokosmos atau tingkat subatomik atau bahkan metafisik). Dalam sistem ini, penengahnya adalah manusia yang meringkas seluruh kosmos. (Wikipedia). Hanya manusia yang bisa memberikan makna melalui narasi , deskripsi, dan persepsi tentang eksistensi semesta dengan menggunakan logika dan imajinasinya.

Setiap individu hidup di dua alam semesta sekaligus, yaitu alam semesta raya dan alam semesta diri. Semakin selaras keduanya, semakin harmonis kehidupannya. Demikian sebaliknya. Setiap individu bisa mengembangkan dan mengecilkan alam semesta dirinya, termasuk mengungkap misterinya.

Semesta yang mahadahsyat mungkin akan tetap menyimpan misteri dengan abadi. Sebab, jika misteri alam semesta terungkap, maka manusia mungkin akan berhenti mencipta peradaban karena tak ada lagi yang perlu digali dan diekplorasi untuk mengetahui misteri yang mahagelap dan mengerikan. Justu misteri semesta itu yang membuat manusia menciptakan banyak narasi dan karya-karya sains serta seni dengan beragam keindahan bermodalkan imajinasi dan logikannya. Alam semesta diri bisa berupa sebuah persepsi, ide, atau keyakinan tentang kehidupan dan dunianya.

Mungkinkah Tuhan sengaja membagi kewenangan-Nya sedikit kepada manusia untuk menyusun teori dan konsep pengetahuan mereka tentang semesta agar manusia mempunyai daya ciptanya sendiri tentang semesta yang mungkin sama indahnya atau lebih indah dari ciptaan-Nya? Setiap manusia yang telah mengembangkan semestanya sendiri tentu telah membuka tabir misteri menjadi sebuah keyakinan atau pengetahuan yang dia percayai dengan logika dan imajinasinya. Tipikal alam semesta diri seseorang dipengaruhi oleh kemampuan daya pikir, pengalaman, dan jam terbang pancaindranya. 

Kita tahu bahwa indra adalah kapasitas fisiologis manusia dalam menerima rangsangan. Fungsi pancaindra jika digabung dengan fungsi otak atau pikiran dan daya intuisi/imajinasi melahirkan semesta diri seseorang. Semesta mikro ini berlaku bagi dirinya sendiri. Jika hanya mengandalkan pancaindra, maka kesimpulan manusia tentang berbagai perkara belum penuh dan lengkap. Jika tidak diimbangi dengan keterampilan berpikir dan kecerdasan intuisi atau imajinasi, gagasan manusia juga terasa kering. Demikian juga pikiran dan intuisi tidak akan kaya warna jika tidak didukung data empiris yang diberikan oleh pancaindra.

Luas semesta diri seseorang seluas kemampuan daya pikirnya. Semakin terbuka pikirannya, semakin luas semesta dirinya. Begitu juga sebaliknya, semakin tertutup pola pikirnya, semakin kecil dan sempit semesta dirinya. Semesta pikir individu bisa diperluas dengan belajar, menyerap, mengamati, dan mempelajari semua yang bisa dicerna oleh pikiran, yaitu dunia konsepsi. Namun, semesta pikiran individu yang sudah luas dan terbuka bisa dipersempit kembali manakala pikirannya telah meyakini sesuatu dan dikunci oleh sebuah dogma. Keyakinan dan dogma (baik dogma agama maupun dogma ilmu pengetahuan) adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, dogma bisa membuat orang selesai mencari dan belajar dan fokus dengan apa yang sudah diyakini sehingga membuat pengelolaan sumber daya energinya menjadi lebih efektif dan efisien. Kalau toh dia masih belajar, maka yang dipelajarinya itu biasanya semua informasi yang terkait dan relevan dengan penguatan apa yang sudah diyakininya sehingga efek dari belajarnya tidak melebarkan wawasan, tetapi membuat lorong yang dalam terhadap apa yang sudah diyakini. Seperti orang menggali satu sumur, akan semakin dalam dan spesifik ilmu yang dia dapat dan kuasai. Di sisi lain, dogma tidak memungkinkan orang mempelajari atau mengeksplorasi kebenaran dan wawasan baru dan apalagi yang berbeda dan bertentangan dengan keyakinannya. Cara kerjanya seperti robot yang bertindak sesuai dengan programnya. Kehendak bebas (free will) dan kemerdekaan berpikirnya sudah tidak digunakan dan diperlukan lagi.

1.      Semesta yang dibangun oleh indra penglihatan (mata)

Banyak orang melihat bahwa penglihatan telah sepenuhnya mengambil alih tempat berpikir. (Arthur Schopenhauer).

Luas semesta individu dibangun juga dari luas kurnianya meneropong dan menerobos semua objek yang dilihatnya. Semakin banyak yang sudah dilihatnya, semakin luas semesta diri yang dia kembangkan. Begitu juga sebaliknya, semakin sedikit yang dilihat, semakin sempit alam semesta dirinya. Namun, dia punya hak untuk menyusun narasi tentang semestanya sesuai dengan pengalaman melihatnya. Indra penglihatan yang menyerap warna dan bentuk tentu sangat memengaruhi ragam bentuk dan warna semesta dirinya dengan resolusi mata manusia yang besar yaitu sekitar 324 dan 576 megapiksel untuk sudut pandang 180 derajat. Jika digabungkan dengan kemampuan otak, resolusi mata manusia melebihi perhitungan jumlah tersebut. Bandingkan dengan kemampuan kamera DSLR dengan resolusi paling tinggi saat ini sebesar 75 MP! Mata sangat memengaruhi luas, bentuk, dan warna semesta diri seseorang, tentu tergantung dari sebarapa banyak, seberapa variatif objek yang dilihat dan dicermati/diamati.

Orang yang paling menyedihkan di dunia ini adalah orang yang mempunyai penglihatan namun tidak memiliki visi. (Helen Keller)

 2.      Semesta yang dibangun oleh indra pendengaran (telinga)

Setiap suara atau bunyi memiliki misi. Baik bunyi yang keluar dari pita suara manusia, dari binatang, pohon, atau semua penghuni alam. Pemaknaannya tergantung dari pola pikir, keyakinan, dan pandangan hidup seseorang. Nada semesta memiliki makna yang berbeda-beda bagi setiap individu, tergantung penghayatannya terhadap ragam suara yang pernah diserap oleh gendang telinganya lalu diolah oleh pikiran.

Namun, rentang bunyi yang dapat didengar oleh manusia terbatas. Bunyi audiosonik adalah bunyi yang mampu didengar oleh telinga manusia. Bunyi ini memiliki frekuensi antara 20Hz hingga 20.000 Hz. Maka, sebatas itulah semesta bunyi dibangun oleh manusia jika tidak menggunakan alat. Sedangkan bunyi infrasonik memiliki frekuensi yang sangat rendah untuk manusia, yaitu kurang dari 20 Hz hingga 0,0001 Hz. Itu bukan semesta pendengaran manusia. Semesta bunyi ini bisa didengarkan oleh hewan seperti gajah, anjing, dan jangkrik, tetapi tidak bisa didengarkan oleh telinga manusia. Sebaliknya, bunyi ultrasonik memuat frekuensi yang terlalu tinggi untuk manusia, yaitu di atas 20.000 Hz atau 20 kHz. Jenis frekuensi ini hanya mampu didengarkan oleh hewan tertentu, seperti kelelawar dan lumba-lumba. Dalam dunia medis, bunyi ultrasonik dimanfaatkan untuk teknologi ultrasonografi (USG).

Ke arah mana saja daun telinga kauarahkan akan menentukan pemaknaan bunyi oleh seseorang. Semakin banyak,bunyi merdu yang masuk ke gendang telinga, semakin tinggi cita rasa dan wawasan semesta dirinya.

 3.      Semesta yang dibangun oleh indra pengecap (rasa lidah )

Cita rasa adalah salah satu kenikmatan surgawi yang diberikan kepada manusia. Karena indra perasa itulah Nabi Adam terjerumus menjadi imigran di muka bumi, tergoda oleh rayuan setan untuk mencicipi rasa buah kuldi.

Setiap benda memiliki rasa, soal enak atau tidak enak itu tugas lidah untuk mendeteksi secara subjektif. Jika sesuatu yang dibutuhkan tubuh harus ditelan, maka lidahlah yang bertugas sebagai sensor dan mendeteksi apakah ini layak atau enak untuk diteruskan ke dalam kerongkongan. Lidah yang membuat manusia menikmati hidup, seperti kata pepatah “hidup hanya numpang minum kopi”. Cita rasa alam semesta juga dipengaruhi oleh semua yang pernah dicecap oleh lidahnya. Setiap makanan dan minuman yang masuk bercerita tentang peradaban dan budidaya manusia dalam menciptakan sebuah cita rasa beserta sejarahnya. Semua pengalaman itu masuk ke dalam pusat komando yang bernama pikiran. Semakin banyak rasa yang dicecap oleh lidah, semakin lengkap profil semesta dirinya.

 4.      Semesta yang dibangun oleh indra penciuman (hidung)

Semesta dibangun dengan bau atau aroma. Jika semesta tak berbau atau tak beraroma, maka ini pertanda semesta dalam keadaan tidak normal. Setiap benda, makanan, atau gas di alam semesta memiliki struktur kimia yang unik. Ketika zat kimia dari benda-benda tersebut terhirup atau tercium, sel saraf sensoris khusus di dalam hidung yang disebut sel olfaktori akan mendeteksinya.

Aroma alam semesta dibentuk oleh beragam aroma atau bau yang sudah pernah diendus oleh individu. Semakin banyak dan beragam bau atau aroma yang pernah dihirupnya, maka semakin tinggi aroma alam semesta yang dibangunnya. Demikian juga, semakin sedikit pengalaman menghirup objek di luar dirinya, semakin miskin aroma alam semesta dirinya. Indra penciuman yang berperan untuk mendeteksi bau atau aroma dan ujungnya memengaruhi persepsi dan narasi semesta dalam lingkup dirinya. Maka, peliharalah dengan kasih sayang indra penciuman itu seperti memelihara semesta.

 5.      Semesta yang dibangun oleh indra peraba (kulit)

Sentuhan adalah kebutuhan dasar manusia. Berfungsi sebagai salah satu cara atau alat berkomunikasi, mengekspresikan perasaan, dan juga mengidentifikasi alam lingkungan. Tersebut dalam buku A Natural History of the Senses karangan Diane Ackerman, sentuhan memiliki kemampuan lebih kuat dari untaian kata maupun kontak emosional. Ada kualitas dan fungsi yang unik dari perlakuan ini, seperti menghasilkan respons dari pancaindra. Hal tersebut terjadi karena ketika bersentuhan, timbul percikan-percikan pada sistem saraf manusia. Ada jutaan sel penangkap sensor yang terhubung pada kulit dan langsung mengirim sinyal ke spinal cord dan otak. Sel tersebut mengizinkan manusia untuk tanggap pada lingkungan sekitar dan memahami yang terjadi pada tubuh. Salah satu fungsi terpenting dari indra sentuhan ini adalah untuk menyampaikan belas kasih terhadap manusia lainnya. Contohnya, bayi yang baru lahir akan merasa aman dan nyaman saat dibelai dan merasakan sentuhan kedua orang tuanya. Hal itu membantu bayi untuk tidur dan merasakan kedekatan dengan ayah dan ibunya. Semakin banyak sentuhan yang dirasakan selama hidupnya oleh kulit dan seluru indra peraba, semakin dalam menggambarkan semesta dirinya secara emosional.

 Jika pemahaman individu tentang semesta dirinya bertentangan dengan hukum semesta raya, maka kehidupannya memiliki potensi konflik yang besar. Semesta diri tidak dapat menghancurkan semesta raya. Sementara semesta raya bisa menghancurkan semesta diri. Maka, warnai dan kembangkan alam semesta diri menjadi lebih luas, lebih berwarna, dan lebih selaras dengan alam semesta raya karena semesta diri adalah cermin atau miniatur bagi semesta raya yang maha seimbang.

Sekali lagi, pahamilah bahwa semesta pun bertauhid sebab tauhid adalah konsep keseimbangan antara dunia luar dan dunia dalam, antara dunia fisik dan dunia spiritual, antara pembungkus dan isinya. Maka, selaraskan kata-kata dan perbuatannmu, cita-cita dengan implementasimu, rencana dan pelaksanaannya, target dan pencapaiannya, serta kepentingan dunia dan kepentingan akhirat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar