Minggu, 30 Juli 2023

Tragedi Badut

 TRAGEDI BADUT

Jika saja badut tidak pernah tercipta, manusia mungkin sulit mentertawakan dirinya sendiri saat jiwanya terpuruk menghadapi tragedy. Sehingga, dia harus mencari sesosok karakter jenaka dan misterius untuk dijadikan samsak pelampiasan kegetiran hidupnya.

Sementara kisah hidup badut sendiri adalah sebuah kekonyolan, sebab tokoh yang dimainkannya lebih terkenal dibandingkan dengan pemerannya sendiri, yang bahkan orang tak pernah peduli siapa.

Hanya sedikit manusia yang sanggup mentertawakan diri sendiri saat tertekan oleh penderitaan hidup. Selain itu hal itu membutuhkan keahlian dalam mengelola pikiran, juga membutuhkan keluasan hati. Manusia cenderung menggunakan persona (topeng) dalam bersosialisasi agar tetap terlihat anggun dan sempurna. Penderitaan dan tragedi hidup dianggap sebagai aib yang dapat merusak citra. Seolah kegagalan hidup melahirkan perasaan insecure dan dapat meruntuhkan menara gading yang telah dibangunnya dengan susah payah. Oleh karena itu, tragedi harus disembunyikan rapat-rapat dari mata bengis khalayak. 

Dilansir dari majalah online Bobo.id edisi 7 Juni 2018, Pada sekitar tahun 500 Masehi sampai 1.500 Masehi, di Italia, tercipta sesosok karakter yang jenaka riang, naif, pandir, dan penuh akal serta dijadikan bahan tertawaan. Di Eropa, tokoh badut tersebut dikenal sebagai Arlecchino atau Harlequin. Kedua tokoh badut itu dipopulerkan oleh kelompok teater bernama Commedia dell arte. Lalu, pada abad ke-18 Masehi, kostum badut mengalami perkembangan, bahkan sempat populer di Jerman dan Inggris. Kostum tersebut bisa terkenal karena dandanan dan gaya sang pantomim bernama Pickellherring. Waktu itu, Pickellhering memakai baju dan sepatu gombrong atau kebesaran, penutup kepala warna-warni, serta renda yang melingkar di sekitar leher badut. Badut adalah tokoh non-superhero hasil peradaban manusia yang dikenal dan diterima secara global.

Manusia modern terjebak dalam pusaran persaingan hidup sehingga otaknya selalu dipenuhi dengan strategi dan target-target. Sel-sel otaknya memancarkan arus listrik tegangan tinggi tiada henti. Langkah kakinya seperti pelari sprint untuk mengejar prestasi dan performa dalam membangun citranya. Manusia jadi terlalu serius dalam menghayati peran hidupnya. Jiwanya semakin rentan dikoyak oleh intrik-intrik, persaingan, dan politisasi kehidupan. Untuk itu, manusia butuh representasi untuk mentertawakan dirinya sendiri agar bisa menutupi sari wajahnya yang murung. Make-up badut jadi tameng saat penonton mentertawakan dan mem-bully dirinya. Itu sebabnya setiap sosok yang bertingkah polah menyerupai watak orang lain dijuluki sebagai  badut. Badut tidak peduli hidupnya ditertawakan asal jati dirinya tetap misterius dan berani menerima konsekuensi seorang badut: “Terkenal tanpa diketahui siapa jati diri pemerannya”.

Kenapa pemain badut selalu menutupi jati dirinya? Apakah karena wajah aslinya kurang lucu atau kurang rupawan untuk menciptakan kemeriahan? Atau profesi badut terlalu memalukan sehingga pemeran badut harus menutupi jati dirinya? Mungkin karena merasa tidak aman dan nyaman, maka mereka bersembunyi di balik karakter rekaan itu. Kenapa pula suara dan gerakan badut sangat karikatural, konyol, dan aneh? Mungkin untuk menyembunyikan tangisan dan jeritan hatinya. Kenapa kostum badut dibuat aneh dan penuh warna yang kontras? Mungkin untuk menarik perhatian khalayak bahwa dirinya selalu bergembira dan bersukacita di balik hidupnya yang getir.

Sebagai sebuah pertunjukan, badut telah berhasil mewakili manusia dari kenestapaan agar bisa mentertawakan diri sendiri dan menerima dengan ikhlas setiap kegagalan. Jadilah sutradara bagi kisah hidupmu sendiri. Tetaplah menjadi diri sendiri, apa adanya, tanpa topeng. Biarkan beban hidup merona di jiwa ragamu. Gunakan hakmu untuk menangis karena akan membuatmu jadi manusia semanusia-manusianya. Yang membuat hidup penuh tekanan adalah jika engkau menyimpannya sebagai rahasia dan padahal sebenarnya bukan sebuah rahasia. Kepura-puraan akan membuat hidupmu menjadi badut yang sesungguhnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar