MANUSIA BERTRANSFORMASI JADI MAKHLUK AMFIBI
Ada spesies baru dari golongan homo sapiens yang muncul di era industri 4.0 ini, yang berkembang biak di platform media sosial. Secara total, spesies baru ini tidak menambah jumlah penduduk dunia, tetapi hanya menambah satu atau dua jenis perilaku dari individu yang sama, yaitu perilaku dunia riil dan perilaku di dunia maya.
Manusia telah bertransformasi manjadi makhluk amfibi, hidup di dua alam sekaligus, yaitu kehidupan dengan habitat di dunia nyata dan di dunia maya. Dunia maya menjadi habitat baru bagi manusia dan belum pernah ada di era sebelumnya. Selama ini kita hidup dalam komunitas dengan orang-orang yang kita kenal secara pribadi dan dalam lingkungan yang terjangkau secara fisik. Namun, dalam dunia maya, komunitas kita adalah penduduk global yang terhubung dengan koneksi internet, tidak harus saling mengenal secara pribadi dan domisilinya tersebar di mana saja. Penduduk netizen [D1] memiliki konfigurasinya sendiri. Ialah komunitas di mana pertemuan tidak diperlukan, tatap muka tidak diwajibkan, semua bersembunyi di balik akun berkuota.
Tentu
saja hal ini membawa dampak pada kehidupan manusia. Mulai dari dampak di bidang
ekonomi, politik, sampai sosial.
Masyarakat di alam maya tidak memiliki tatanan dan struktur organisasi, tidak ada pengurus, penanggung jawab, penasihat, pengarah, ketua, dan anggota. Semua memiliki posisi yang sama, linier dan egaliter. Dan untuk menjadi anggota suatu komunitas di alam maya prosesnya sangat mudah dan cepat, tidak membutuhkan persyaratan yang rumit, cukup memiliki akun dan koneksi internet. Interaksi tidak perlu teratur dan harus diikat dengan SOP. Berperilaku sesuka hatinya, mirip di zaman batu. Bisa dibayangkan begitu liarnya komunitas ini.
Tidak ada klaster, siapa pun oleh bergabung, mulai dari lususan TK, SD, SMP, hingga profesor, semua bisa nyemplung di kolam yang sama. Juga tidak ada pembatasan pekerjaan, jurusan, atau minat. Semua seleksi diserahkan kepada para anggota atau calon anggota. Bisa dibayangkan begitu riuhnya dunia maya ini.
Tak heran mengingat media sosial saat ini bisa memenuhi hasrat manusia dalam mencari hiburan yang murah berupa audiovisual yang menyajikan beragam acara. Namun, apakah komunitas maya dapat meningkatkan literasi masyarakat? Mungkin iya, tetapi konten dan jenis literasi yang dikonsumsi di media sosial tidak mendalam karena informasi yang dilempar kebanyakan hanya shoot cut saja.
Tidak ada batas waktu, semua bisa tetap berkontribusi dan merespons berita kapan saja sehingga jumlah distribusi berita yang berseliweran di jaringan koloni itu tak terhitung jumlahnya. Semua tumpah ruah, mulai dari berita sampah sampai yang ilmiah. Bersiaplah untuk menerima bombardir berita tanpa reserver. Bisa dibayangkan begitu melelahkannya komunitas ini.
Seperti serbuk besi yang ditebar/disebar di atas permukaan kertas lalu di bawah kertas itu kita taruh sebatang magnet (besi berani). Maka, serbuk besi di atas kertas itu akan membentuk pusaran yang tersentral di satu titik medan magnet tersebut. Jika batang magnet itu kita geser, maka serbuk besi tersebut akan mengikuti. Kemudian, coba kita taruh lagi satu batang magnet di sebelahnya, maka sebagian serbuk besi itu akan membuat pusaran baru. Demikian seterusnya. Ini adalah sebuah analogi komunitas dunia media sosial di mana serbuk-serbuk besi itu adalah netizen dan magnet-magnet adalah para selebgram, influencer, dan lain-lain.
Untuk menggandakan kepribadian di dunia medsos, tak perlu melepas kewarganegaraan asal sebagai makhluk sosial konvensional, cukup memiliki handphone dan jaringan internet. Setelah itu daftarlah ke beberapa platform media sosial, baik dengan identitas asli maupun identitas palsu. Setelah itu, nyemplunglah ke dalam berbagai aktivitas media sosial. Bisa cuma pasif, mengamati saja atau ikut komen, atau sebagai aktivis media sosial dengan membuat konten. Maka, Anda telah menjadi makhluk amfibi.
Lalu bagaimana menjadi magnet dalam dunia media sosial? Banyak jalan menuju Roma, Anda tinggal mencontoh atau mempelajari magnet atau sang selebritas dari berbagai kelas dengan kriteria masing-masing. Namun jangan kaget, keberhasilan menjadi magnet dalam media sosial seperti misteri, tidak bisa ditebak atau dirumuskan metodologinya. Ya mirip-mirip main judi. Ada yang memiliki konten yang bagus, tetapi susah nanjak, atau sebaliknya, ada yang tidak punya konten bagus atau sekadar joget-joget saja, tetapi punya follower yang banyak. Ada yang modal cantik, ada yang modal kelucuan, kepintaran, kenaifan, dan lain-lain. Entahlah ….
Alam maya menyediakan panggung bagi siapa saja untuk menampilkan apa saja yang dia bisa dan mau. Soal laku atau tidak, atau mendapat apresiasi atau cacian, itu soal lain. Selama ini, yang punya kesempatan untuk tampil dipanggung bersponsor hanya orang-orang tertentu dan sangat eksklusif dan tentu tak bisa ditembus oleh orang biasa yang tidak punya channel atau prestasi. Dunia maya menyediakan televisi bagi semua tipe manusia dengan mudah dan cepat.
Biar tidak kagetan dan gumunan, harus diketahui sejak awal bahwa syarat utama menjadi netizen adalah tidak baperan. Kalau Anda baperan, Anda akan stres dilibas kebengisan netizen yang mahabenar. Bahkan, kalau Anda punya nyali, hadapi secara frontal para netizen bengis itu karena biasanya di balik kegaharan mereka, jika ditantang dan dilabrak langsung ke rumahnya biasanya ciut, tidak punya nyali.
Menurut psikologi, setiap individu menggunakan topeng (persona) saat bersosialisasi di dunia nyata. Kalau begitu, jangan-jangan perilaku yang diekspresikan di media sosial adalah watak asli? Namun, hati-hati. Meskipun kita hidup di alam maya, tetapi ada dampaknya, baik itu negatif maupun positif, dalam kehidupan kita di dunia nyata.
Dilansir dari Republika.co.id, Jakarta -- Pendiri Gerakan #BijakBersosmed, Enda Nasution, mengatakan makin banyaknya jumlah pengguna internet di Indonesia, akan membuat informasi di media sosial semakin beragam. Karena, laporan Hootsuite pada Januari 2018 menyebut 98,7 persen dari total 131,7 juta pengguna internet di Indonesia itu adalah pengguna aktif media sosial.
''Karena itu, pengguna internet diharapkan bijak dalam bersosial media,'' kata Enda saat mengisi sesi di acara Siberkreasi Netizen Fair 2018, di GBK Senayan, Jakarta, Sabtu (24/11). Enda pun membagikan tipsnya. Ada tujuh cara yang bisa dilakukan agar bijak bersosial media secara tenang dan damai.
1. Pahami Platform. Menurut Enda, penting bagi pengguna sosial media untuk mengenal dan memahami karakter platform sosial media yang digunakan. "Pahami batasan-batasan misalnya batasan pengguna, misal di Instagram. Pahami juga kita mengaksesnya melalui smartphone, misalnya, bagaimana karakternya," ujar Enda.
2. Mengerti Penggunaannya. Meski komunikasi berada di dunia maya, saat bersosial media perlu memahami kepada siapa berinteraksi. Hal ini penting karena komentar di sosial media merupakan jejak digital yang dapat ditelusuri dan disimpan dan berpotensi untuk diviralkan.
''Kalau sama teman beda cara komunikasinya, dengan ke guru atau ke orang tua,'' kata Enda.
3. Mengerti Sisi Hukum. Adanya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) perlu diketahui agar pengguna sosial media tak terjerat hukum.
''Hampir setiap bulan ada kasus hukum yang melibatkan penggunaan sosial media,'' katanya. ''Selain ranah hukum, juga perhatikan ranah etika dalam media sosial. Sanksi sosial di-bully oleh netizen.''
4. Hati-Hati Dengan Emosi. Saat emosi, biasanya pengguna sosial media tidak berpikir ulang tentang apa yang ditulis atau diunggah. Oleh karena itu, sebaiknya tidak mengunggah sosial media saat tengah emosi.
5. Gunakan Akal Sehat. Enda juga mewanti-wanti agar pengguna sosial media tidak mengumbar informasi pribadi, seperti alamat rumah di akun sosial media mereka. Apalagi mengunggah KTP, yang sering kali dilakukan oleh remaja untuk memamerkan bahwa mereka sudah dewasa. Namun, hal ini justru dapat dijadikan celah untuk melakukan kejahatan. Bedakan pula antara fakta dan opini. Konten negatif juga perlu dihindari, seperti SARA. Enda menekankan untuk lebih sensitif dengan identitas orang lain, termasuk latar belakang budaya. Etika lainnya dalam bersosial media yang harus diketahui adalah tidak menjadikan sosial media tempat berkeluh kesah. "Jangan terlalu banyak mengeluh di sosial media, juga bullying, apalagi menjelek-jelekkan secara fisik," kata Enda.
6. Mengerti Mengapa Orang Menciptakan Hoax, Jangan mau dimanipulasi untuk menyebarkan informasi tidak benar atau membagikan hoaks, karena bisa saja itu adalah alat politik.
7. Mulai dari Diri Sendiri "Semuanya capek mikirin orang, mengajari bijak bersosmed. Jadi, mulai dari diri sendiri saja," ujar Enda. Saat menerima informasi, Enda menambahkan, ada baiknya untuk memeriksa informasi tersebut lewat beberapa platform, seperti Forum Anti Fitnah, Hasut dan Hoax di Facebook, situs cek fakta dan turnback hoax. Sumber: Antara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar