Minggu, 30 Juli 2023

Bingkai

 BINGKAI

Adakah insan yang benar-benar setia mendengarkan suara hati dan keresahan jiwamu di sepanjang ruang dan waktu, sementara mereka disibukkan dengan kebisingan pikiran mereka sendiri? Mungkinkah antar-batin dapat terkoherensi secara sempurna di atas bentangan jarak fisik dan psikis?

Begitu indah tutur kata yang engkau persembahkan kepada insan tambatan hatimu. Begitu lembut perilaku yang engkau tunjukan kepada pribadi yang kau kasihi. Begitu besar penghormatanmu kepada individu yang engkau hormati, sementara kepada dirimu sendiri engkau sering alpa melakukannya. Padahal kebersamaanmu dengan orang lain tidak lebih sering dari kebersamaamu dengan diri, hati, dan jiwamu sendiri yang ber-fusi membentuk eksistensimu. Mungkin hanya sesekali engkau menyapanya, di
saat napasmu terengah-engah dan menggelepar ditikam sunyi dan pilu. Percayalah, semakin abai engkau menyapa hatimu, semakin engkau menjadi sosok asing bagi jiwamu sendiri.

Hal yang jarang disadari oleh manusia adalah bahwa resonansi suara hati justru sering menggema dalam relung kalbu, ketimbang getar suara dari luar. Demikian juga interaksi dengan diri sendiri, frekuensinya jauh lebih rapat dibandingkan interaksi dengan orang lain. Penyebabnya, bahwa berbicara dan berinteraksi dengan orang lain membutuhkan mitra atau ‘lawan’ dialog sehingga selalu ada gap ruang dan waktu. Sementara, berbicara dengan diri sendiri bisa dilakukan di setiap kesempatan dan di setiap tempat. Hanya saja kita sering lalai, sampai tiba masa kita terenyak dirundung masalah.  

Disadari atau tidak, semua orang, dengan berbagai level sosial, sering berbicara dengan diri sendiri. Para filsuf berbicara dengan dirinya sendiri saat memikirkan hakikat kehidupan melalui lontaran pertanyaan seputar misteri kehidupan yang berkecamuk dalam otaknya. Output-nya adalah konsep dan teori. Para ilmuwan dan scientist membutuhkan perenungan yang dalam melalui proses berpikir yang kritis untuk membuat lompatan imajinasi dan menemukan relasi antara tesis, antitesis, dan sintesis. Para musisi berkonsentrasi penuh menyelaraskan ide, rasa, dan logika untuk menyusun notasi dan lirik indah dalam bingkai sebuah lagu.  Para pelukis membiarkan pikirannya melayang-layang memburu tema, warna, dan bentuk yang dikombinasikan dengan indah di atas kanvas.

Jadi, sejatinya setiap orang berbicara dengan diri sendiri, terutama ketika melakukan aktivitas yang membutuhkan perenungan mendalam, yang melibatkan pikiran dan hati. Proses itu bisa dilakukan selama kesadaran manusia terjaga. Artinya, orang yang kehilangan kesadaran, baik permanen maupun sementara, tidak dapat melakukan aktivitas ini. Mereka adalah orang gila, orang mabuk, orang tidur, atau orang pingsan. 

Begitulah inti sari dari semua tulisan dalam buku ini. Penulis menggunakan istilah SENANDIKA karena kata tersebut berasal dari Bahasa Indonesia, tetapi jarang digunakan oleh masyarakat, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Senandika mirip dengan monolog, tetapi untuk lebih jelasnya perlu kita lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia. Senandika berarti wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar.

Arti senandika yang lebih gamblang dijelaskan juga oleh @karyasastraku pada website Wattpad. Senandika adalah bentuk buah pikiran kita tentang segala hal yang mengusik hati dan pikiran atau bentuk curahan hati yang diurai sedemikian indahnya hingga orang yang membacanya bisa merasakan perasaan duka dan suka yang kita tulis.

Ada sedikit kesamaan antara senandika (lebih kental bernuansa sastra) dengan self-talk (perspektif psikologi). Dikutip dari laman Healthline, self-talk adalah dialog internal pada diri sendiri yang dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar dengan mengungkapkan pikiran, pertanyaan, serta gagasan, yang diucapkan dalam hati atau disuarakan secara lantang sehingga menjadi sugesti bagi diri sendiri. Self-talk membantu diri sendiri menjadi lebih sadar dalam berpikir, merasa, dan bertindak.

Dalam ilmu manajemen, inti sari dari senandika mungkin serupa proses evaluasi untuk mengukur kinerja, mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi dan menyusun rancangan solusi untuk tindakan perbaikan. Senandika juga memiliki kemiripan dengan meditasi dan kontemplasi, yaitu renungan dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh; Menurut Arthur Christopher Benson, Kegembiraan semua misteri adalah kepastian yang datang dari kontemplasi mereka, bahwa ada banyak pintu bagi jiwa untuk membuka jalan ke atas dan ke dalam dirinya. Karena itu, orang yang melakukan kontemplasi biasanya menemukan kedamaian hati, menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi, menghasilkan karya, baik karya seni, karya ilmiah, atau karya bersifat fisik lainnya.

Namun, senandika yang dimaksud penulis dalam buku ini lebih dekat dengan pengertian dari gabungan dua kata tafakur dan tadabur. Dilansir dari website IslamPos, disampaikan bahwa menurut para sufi, tafakur adalah cara untuk memperoleh pengetahuan tentang Tuhan dalam arti yang hakiki. Para ulama mengatakan bahwa tafakur itu ibarat pelita hati, sehingga dapat terlihat baik dan buruk maupun manfaat dan mudarat dari segala sesuatu.

“Sesungguhnnya semua manusia diperintahkan untuk bertafakur menerenungkan tanda-tanda atau fenomena-fenomena alam ciptaan Tuhan, agar timbul kesadaran bahwa di balik itu ada dzat yang mahakuasa, yang mahaagung, dan yang mahabijaksana yaitu Sang Pencipta, Allah SWT.”

Sedangkan tadabur adalah suatu gambaran penglihatan hati terhadap akibat-akibat segala urusan. Baik tafakur maupun tadabur, keduanya sama-sama dilakukan dengan menggunakan mata hati. Bedanya, tafakur dilakukan untuk meneliti dalil atau indikator segala sesuatu hal, sedangkan tadabur dilakukan untuk meneliti akibat-akibatnya.

Sedangkan makna dari penggunaan kata “Bunga Rampai” adalah keberagaman tema tulisan yang tersaji dalam buku ini, membentuk mozaik hikmah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata bunga rampai adalah beberapa jenis bunga harum yang dicampur. Arti lain dari bunga rampai adalah kumpulan lagu pilihan atau kumpulan karangan atau cerita pilihan.

Buku ini menyajikan 30 tulisan pendek dengan tema yang berbeda-beda, tetapi memiliki kesamaan dalam menggali hakikat kehidupan dan keagungan Sang Pencipta.

Mengingat senandika atau sedang berbicara dengan diri sendiri, maka gaya penulisan yang disajikan oleh penulis menggunakan kata aku, engkau, atau mereka dan dialognya kadang bersifat imajinatif, tetapi esensinya tetap mengacu kepada kebenaran, kebaikan, atau keindahan.

Ayo, berbicaralah dengan diri sendiri secara berkala untuk mengoptimalkan sumber daya diri yang dahsyat, tetapi masih tertutup tabir keraguan. Peluklah dirimu sepenuh jiwa. Mumpung sedang berbicara dengan diri sendiri, kita bebas menentukan tema, format, kaidah, panjang pendek tutur senandika sesuai dengan ide dan kegalauan pikiran yang selama ini berkecamuk dalam hati dan pikiranmu.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar