AKAR, SANG PEJUANG ALAM GELAP
Jadilah cahaya, agar engkau bisa menyusup ke dalam pori-pori daun, melintasi ranting, cabang dan batang. Teruslah mengalir hingga ke ujung-ujung akar agar engkau mengerti bahwa di bawah sana para generasi muda pohon berjuang sebagai ujung tombak. Menembus, menerjang, membentur, dan mengikat tanah, batu, pasir, humus, serta koloni-koloni “alam bawah ” tanah lain yang siap menghadang.
Dengan cara itulah akar membentuk infrastruktur pohon yang sempurna dan kokoh. Itulah sebab akar menjadi bagian yang pertama kali tumbuh dibandingkan anggota tubuh pohon lain sejak mulai kecambah. Perlahan tapi pasti, akar melakukan ekspansi, membentuk fondasi dan kaki-kaki.
Perjuangan sejati pohon bukanlah di atas permukaan bumi, tetapi di dalam tanah, di lorong-lorong gelap dan pengap, tempat akar berjibaku mencari dan menemukan logistik kehidupan. Dalam kegelapan itu, akar membutuhkan lentera dari langit melalui penangkap cahaya mentari bernama daun. Sementara, batang dan ranting menjadi instalasi untuk penghantar nutrisi rezeki. Meski elemen-elemen akar sangat lembut, tetapi ketangguhan dan kekokohannya terletak pada sesuatu yang tak tampak, yaitu daya hidup.
Akar tumbuh ke dalam dan ke samping, membuka cabang-cabang bukan sekadar untuk mendekati logistik makanan, tetapi juga membentuk fondasi bagi tegaknya pohon. Sementara, bagian-bagian yang menyembul di atas permukaan tanah, seperti halnya batang dan ranting, juga tumbuh bercabang-cabang ke atas dan ke samping untuk membentuk keseimbangan yang harmonis dengan akar. Batang, cabang, dan ranting adalah struktur organisasi yang egaliter agar daun-daun tumbuh sebanyak yang dibutuhkan akar untuk dapat menyerap energi matahari untuk membangun infrastruktur kehidupan di kegelapan ruang-ruang bawah tanah. Dunia atas dan dunia bawah saling menyesuaikan diri membentuk bandul keseimbangan. Sebagai habitat, alam bawah tanah dihuni oleh beragam populasi makhluk hidup, mungkin melebihi populasi makhluk yang hidup di atas permukaan tanah.
Hiruk pikuk di atas permukaan bumi mungkin sedahsyat perjuangan yang ditemui akar di bawah sana. Akar yang tampak diam dan luput dari penglihatan, sejatinya sangat sibuk dan penuh persaingan memperebutkan hara dan zat-zat yang dibutuhkan. Daun mengabdi pada akar saat akar meminta di-supply energi dan akar tunduk pada kehendak batang [D2] dan daun saat meminta nutrisi untuk tumbuh dan berkembang.
Akar adalah subsistem dari sistem pohon secara keseluruhan. Sebagai sebuah subsistem, dia memiliki jejaring yang terhubung ke semua bagian dalam sistem pusat. Di samping bertugas mencari makan, akar juga berfungsi sebagai fondasi atau kaki-kaki bagi berdirinya sebuah pohon secara kokoh, tidak sekadar berdiri. Semua pohon memiliki kecerdasannya sendiri dalam membangun infrastruktur akar. Dia bisa mengukur dirinya, sejauh mana dia harus tumbuh, seberapa besar ukurannya, kapan akar baru harus ditumbuhkan, menyebar ke arah mana saja, dan sebagainya. Bentuk dan ukuran akar juga menyesuaikan bentuk ukuran dan tinggi pohon. Inteligensi pohon bekerja saat membangun akar yang paling sesuai dengan dirinya. Memenuhi asas proporsionalitas, baik ukuran dan bentuk.
Ketika dia memiliki batang yang besar, keras, dan tinggi, maka dia memilih untuk memiliki akar tunggang. Ketika ukuran tubuhnya kecil, tidak terlalu tinggi, maka akar menyesuaikan diri menjadi akar serabut.
Jika akar memiliki daya hidup, kepada siapakah dia sebenarnya mengabdi? Dan misi yang dia jalankan selama ini untuk memenuhi visi siapa? Siapa pemilik tujuan akhirnya? Yang jelas, akar telah menjelaskan bahwa ada keterhubungan yang erat tak terpisahkan antara dunia langit (atas) dan dunia bumi (bawah).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar