Minggu, 30 Juli 2023

Ikan Bisa Busuk dari Ekornya

 IKAN BISA MEMBUSUK DARI EKORNYA

Yang engkau kira awal sebenarnya akhir, yang engkau sangka depan sebenarnya belakang.

Engkau bisa bergerak mulai dari titik mana pun asal engkau memiliki tujuan yang jelas.

Ikan membusuk mulai dari kepalanya, itu sudah pasti. Saat kepala ikan membusuk, artinya tak ada lagi kehidupan dalam jasad ikan. Ikan mati memang akan cepat membusuk dan menjalar keseluruh badan, kecuali dimasukkan dalam freezer. Ini adalah metafora untuk menggambarkan pemimpin yang rapuh, menyebabkan runtuhnya sebuah tatanan komunitas, organisasi, atau sebuah negara.

Ekor digambarkan sebagai pihak yang paling ujung atau paling bawah dalam strata kehidupan sosial atau organisasi. Ini adalah mindset atau paradigma mainstream di mana atasan atau pimpinan ditempatkan pada puncak kekuasaan, sementara rakyat/pekerja atau pelanggan berada pada urutan paling bawah dalam piramida hierarki organisasi yang tidak memiliki pengaruh dalam membuat kebijakan.

Namun, apakah metafora tersebut masih relevan di zaman ini? Apakah masih tepat mendudukkan rakyat, pekerja, atau pelanggan pada strata terbawah dalam hierarki stakeholder sebuah organisasi, negara, atau bisnis? Dalam siklus business process, yang pertama kali dilakukan adalah melakukan riset pasar untuk mengetahui need, want, dan expectation pelanggan. Hasil riset ini dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam penyusunan desain kebijakan service atau product yang tepat agar diterima pasar.

Dalam konteks bernegara, pemerintah harus menyusun kebijakan atau peraturan yang menjamin terciptanya keadilan dan kesejahteraan sosial. Rakyat atau pelanggan adalah tujuan akhir. Pekerja ditempatkan sebagai ujung tombak untuk men-deliver suatu jasa atau produk kepada rakyat atau pelanggannya (end user). Dalam konteks ini, maka rakyat, pekerja, atau pelanggan adalah kepala, bukan ekor ikan. Artinya, merekalah yang menentukan kebijakan dan keputusan yang diambil oleh para pimpinan atau atasan untuk melayani mereka. Dengan demikian, atasan juga berubah peran dari kepala menjadi ekor atau tepatnya mengekor terhadap need, want, dan expectation pelanggan, masyarakat, atau rakyat pada piramida hierarki kekuasaan.  

Pada dunia politik dan sosial, suatu komunitas, suku, atau bangsa biasanya telah memiliki kepercayaan kolektif atau kebiasaan yang sudah turun temurun dan menjadi pedoman berkehidupan mereka. Namun, jika budaya itu (disadari atau tidak) mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai normatif kemanusiaan, maka tentu nilai kolektif itu akan membusukkan komunitas itu sendiri, digilas hukum alam.

Sang pemimpin pelan-pelan juga akan ikut membusuk karena ekornya membusuk terlebih dahulu. Sang pemimpin memang memiliki peluang untuk mengubah kepercayaan kolektif, tetapi probabilitasnya kecil jika itu menyangkut core believe suatu masyarakat, apalagi dianggap sebagai adat yang turun temurun. Ada resistensi yang besar untuk membangun budaya baru terhadap nilai kolektif yang dihasilkan bertahun-tahun secara turun temurun.

Bagi pemimpin, pilihannya ada dua, yaitu larut dalam budaya yang ada atau melakukan perubahan melalui proses koherensi dengan nilai-nilai yang ada dan menyusun rencana perubahan secara gradual mengingat sebuah budaya dan adat istiadat sudah menjadi sumber hukum dan etika dalam bertindak untuk mempertahankan eksistensi komunitas itu sendiri. Pembusukan yang dimulai dari masyarakat (ekor) akan menyebabkan pembusukan kepala jika pemimpinnya tak mampu melakukan perubahan. Ini adalah metafora, ikan bisa membusuk mulai dari ekornya.

Sebagai contoh, pada zaman jahiliah, di man rakyat memiliki kebiasaan yang buruk dan destruktif, membuat para pemimpin perubahan yang tidak berhasil melakukan perubahan akhirnya menyerah kalah, bahkan mendapat hukuman mati dari rakyatnya. Nabi adalah orang yang memiliki karakter kuat dalam mengubah nasib suatu kaum. Tokoh-tokoh yang memiliki kekuatan, karisma, dan leadership memiliki visi, gagasan, dan mental yang kuat untuk melakukan revolusi mental atau akhlak, dan tidak jarang dibarengi dengan revolusi sosial atau revolusi politik.

Di negara demokratis saat ini, rakyat bisa memenggal kepala ikan (menggantikan pemimpinnya) yang koruptif dan zalim dalam proses pemilihan umum atau bisa juga melalui impeachment atau juga melalui parlemen jalanan, yaitu people power.

Restorasi Meiji di Jepang adalah contoh revolusi politik yang diikuti revolusi mental dan sosial melalui proses pendidikan dan proses kognitif masyarakat dengan perubahan mindset atau pikiran yang terbuka terhadap infomasi dari luar Jepang sebagai sasaran utama. Strategi ini sangat mencerahkan dan berhasil membawa perubahan kepercayaan kolektif yang lebih konstruktif dan progresif berjalan mulus tanpa terjadinya revolusi berdarah yang masif.

Restorasi Meiji yang dimulai pada tahun 1868 menandai titik balik sejarah Jepang pada abad modern. Banyak sejarawan membandingkan peristiwa tersebut dengan Revolusi Prancis 1789 dan Revolusi Bolshevik 1917 di Rusia. Restorasi Meiji merupakan salah satu titik mula dari kemajuan Jepang hari ini. Sebelum restorasi tersebut terjadi, Jepang merupakan sebuah negara yang tertutup. Jepang, di bawah kekuasaan rezim Shogun, adalah negara yang mengisolasikan dirinya dari dunia luar. Semua itu berakhir ketika Kaisar Mutsuhito naik takhta.

Di banyak kasus, baik tingkat organisasi maupun negara, jika pemimpin rusak akan dipecat atau diturunkan oleh rakyatnya (atau oleh komisaris). Dalam dunia politik, presiden melakukan korupsi bisa di impeachment oleh wakil-wakil rakyat. Artinya, kepala yang busuk bisa dipenggal oleh badan dan ekornya untuk mendapatkan pemimpin yang baru. Ada juga kasus anggota DPR, sebagai wakil rakyat, melakukan korupsi dipenggal/dipecat oleh rakyat pemilihnya di pemilihan umum berikutnya.

Di negara berkembang, di mana rakyat memiliki etos kerja dan nilai-nilai hidup yang buruk, hal itu akan menyebabkan pemimpinnya ikut membusuk karena tertular oleh perilaku rakyatnya yang busuk dan sulit diatur sampai muncul seorang pemimpin yang revolusioner. Sedangkan di negara demokrasi, strata terujung atau tertinggi adalah rakyat dan di dalam dunia bisnis, yang tertinggi adalah pelanggan atau pasar. Namun, apakah benar demikian? Dalam negara demokrasi, rakyat adalah penentu kebijakan yang harus diambil oleh pemimpin yang berkuasa. Kepala ikan dalam negara demokrasi adalah presiden yang dipilih langsung oleh rakyat.

Jika badan ikan bisa diselamatkan dari kebusukan, maka kepala ikat tidak akan ikut-ikutan membusuk sehingga ia akan tetap hidup. Ikan yang membusuk mulai dari ekornya adalah sebuah metafora yang menggambarkan bahwa jika seorang pemimpin rusak, maka rakyatnya akan ikut rusak. Namun, di era modern saat ini, kebusukan bisa dimulai dari ekor yang kemudian bisa membusukkan kepalanya.

Jadi, dua metafora itu, antara “Ikan membusuk mulai dari kepalanya” dan ‘Ikan busuk mulai dari ekornya” tidak saling menafikan atau saling mengoreksi. Keduanya tetap relevan, sesuai degan konteks, situasi, dan kondisinya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar