TARIAN GERIMIS
Kenapa engkau memilih habitat di ruang kosong gerimis? Tidakkah engkau lelah terus bergerak dan berpindah menghindari jutaan rintiknya dengan frekuensi yang rapat?
“Aku bukan menghindari rinai gerimis, tetapi menari untukmu,” jawabnya.
Ruang kosong gerimis adalah media resonansi bagi jiwa untuk mengalunkan nada sendu. Ritmenya menghanyutkan pikiran hingga ke gelombang beta, membuat hati terlena dalam kedamaian, sekaligus terjerat dalam kegelisahan, sebab udara dingin mengurai temaram rembulan jadi mantra bagi penghuni malam dalam pencarian cintanya yang lenyap disembunyikan belukar senyap.
Pilar utama semesta adalah ruang kosong dan hanya sebagian kecil saja yang diisi materi. Di sana, massa materi berproses dan bergerak memberi makna pada dirinya sendiri. Jiwa adalah semesta mikro bagi pemiliknya dan mestinya juga membiarkan ruang kosong itu ditempati gema zikir mengalun menjaga keseimbangan atau tempat menyimpan misteri sisi gelap kehidupannya, seperti tragedi, kegelisahan, benci, atau asmara yang tak berujung.
Engkau sangat paham, gerimis adalah partitur nada-nada syahdu untuk mengajak hati berdansa di bawah rinainya yang menjelma menjadi kemilau mutiara malam. Maka, jadilah ruang kosong gerimis itu sebagai altar yang mewah untuk menggelar pertunjukan monolog dengan luas panggung seluruh permukaan bumi yang dilanda gerimis.
Bagi jiwa-jiwa perindu, setiap empasan rinai gerimis yang turun dengan pola acak menjadi koreografi tarian mistis. Hayatilah dengan mata hati, mungkin engkau mengira dia sedang menghindari takdir yang datangnya penuh misteri padahal dia sedang mempersembahkan karya yang khusus didedikasikan kepadamu, duhai sang perindu.
Saat gerimis reda, engkau menutup tarian dengan pembacaan sebaris puisi kecil, “Izinkan aku menyelinap kembali ke balik kehampaan. Karena malam t’lah sempurna menuntaskan geloranya”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar