MIND SETTER
Aku adalah pemimpin bagi gagasan dan pikiranku sendiri. Oleh karena itu, aku hanya akan rela menjadi martir bagi perjuangan mewujudkan gagasan dan ideku sendiri.
Jika banyak orang rela menjadi martir atas gagasanku, maka aku menjadi pemimpin bagi pikiran mereka.
Namun, apakah gagasanku itu benar-benar lahir dari hasil pemikiran dan pengalamanku sendiri? Atau justru aku yang jadi martir bagi gagasan orang lain yang secara diam-diam telah mempengaruhi pikiran dan keyakinanku? Terlalu naifkah mengklaim diri sebagai pejuang prinsip-prinsip kebebasan individu?
Para ahli mengatakan tidak ada yang benar-benar orisinal di dunia ini karena pada prinsipnya manusia saling memengaruhi dan menginspirasi. Peradaban manusia dibangun dari gagasan yang berkesinambungan, dari satu era ke era berikutnya. Kemajuan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi tidak dihasilkan dalam sekali jadi, tetapi melalui proses perbaikan yang terus-menerus terhadap satu gagasan ke gagasan lain (continuous improvement). Namun, hal ini bukan berarti manusia tidak bisa mengklaim memiliki gagasannya sendiri.
Ketika aku menyetujui suatu gagasan, maka
gagasan itu akan menjadi bagian dari diriku karena gagasan itu masuk dan
memengaruhi pikiran dan keyakinanku tentang suatu hal. Begitu juga dengan
kepribadianku, sebenarnya kumpulan dari berbagai gagasan, ide atau nilai
berasal dari luar diriku yang telah kupelajari dan telah aku setujui atau akusertui
[D1] menjadi
bagian dari sistem nilai yang aku anut. Demikian juga jika gagasanku diterima
oleh orang lain, maka itu akan menjadi bagian dari orang itu. Lalu, di mana
kesejatian dan pribadi khasku?
Penerimaan suatu gagasan oleh seseorang biasanya melalui proses analisis dan penelaahan yang mendalam melibatkan otak dan hati atau disebut psikologi kognitif. Jika gagasan itu logis dan bisa diterima oleh akal sehat dan isi gagasan itu memiliki nilai kebenaran, keindahan, dan kebaikan, maka dengan sukarela orang tersebut mengizinkan gagasan itu masuk dan membentuk sistem nilai keyakinannya. Proses pemindahan gagasan dari satu orang kepada orang lain secara kognitif ini adalah satu-satunya bentuk “penjajahan” yang legal dan tidak melanggar hak asasi. Namun, ini semua membutuhkan suatu kondisi atau syarat dari orang yang bersangkutan, yaitu keterbukaan diri terhadap gagasan baru (open mind). Jika aku ingin ‘menjajah’ atau ‘dijajah’ (dalam hal pemikiran), maka aku memilih cara kognitif, melalui sebuah karya yang berisi ide yang mencerahkan dan berhasil diwujudkan. Jadi, orang yang membaca buku adalah orang yang ingin atau minta ‘dijajah’ pemikirannya oleh penulis buku. Ini adalah cikal bakal lahirnya rasionalitas dan keterbukaan yang akhirnya melahirkan masyarakat demokratis dan madani, yaitu tatanan sosial yang menghargai kemerdekaan berpendapat dan juga berbeda pendapat.
Ada metode lain dalam memindahkan suatu gagasan dari satu otak ke otak lain, yaitu doktrin atau cuci otak. Suatu gagasan atau nilai-nilai ditanamkan ke dalam pikiran dan keyakinan banyak orang melalui pemaksaan oleh suatu otoritas. Gagasan itu bisa berupa persepsi, opini, nilai sosial budaya, etika, atau kaidah yang harus dipatuhi oleh suatu penduduk kota atau negara. Aturan-aturan itu menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan dan tidak boleh ditawar. Tidak ada peluang untuk mengkritisi dan memberi saran. Terkadang, pemaksaan itu dibumbui dengan ancaman dan teror bagi siapa pun yang tidak loyal. Indoktrinasi itu ditanamkan melalui sekolah atau penerapan aturan yang ketat. Tidak ada nilai-nilai demokrasi dan kesukarelaan menerima melalui proses belajar dan metodologi ilmiah.
Hal ini bisa menyebabkan terjadinya penjajahan pikiran dan fisik yang melanggar hak asasi manusia. Biasanya gagasan itu berasal dari suatu otoritas yang memiliki kepentingan kelompoknya. Semua warga dijadikan martir dengan perilaku yang homogen dan monoton. Para martir dipaksa berjuang mati-matian untuk membela visi dan misi dari suatu otoritas, tanpa menyadari bahwa mereka telah diprogram sebagai ‘pasukan Gurkha’ yang gagah perkasa dan memiliki loyalitas yang tinggi demi sang pengendali pikiran.
Tanpa disadari, orang-orang telah menjadi umat atau pengikut dari suatu gagasan besar atau ajaran tertentu. Selama mereka menyadari dan menyetujuinya, maka itu adalah sebuah sikap dan keyakinanmu sendiri yang patut dipertahankan habis-habisan. Namun, jika engkau mengikuti dan melaksanakan gagasan atau ajaran tertentu karena dipaksa, diancam, atau ditakut-takuti, maka engkau tergolong kaum, pengikut, atau martir. Di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar mandiri, seperti hidup di menara gadingnya sendirian. Sehebat apa pun gagasannya, dia adala makhluk sosial yang berkelompok dan terkelompok dalam satu gagasan yang sama, seberapa pun pintar orang itu.
Terbentuknya suatu komunitas atau kaum berawal dari munculnya suatu kekuatan gagasan besar yang revolusioner (outstanding). Gagasannya menjadi medan magnet yang memiliki daya pesona luar biasa bagi banyak orang. Para pemuja itu akhirnya membentuk kelompok, membuat suatu komunitas secara formal maupun informal.
Sekolah-sekolah adalah mesin pencetak suatu kaum (kaum intelektual) melalui proses penjejalan informasi atau gagasan tentang ilmu pengetahuan secara sistematis, struktural, dan masif. Namun, karena gagasan dan informasi yang dijejalkan sudah teruji melalui metodologi ilmiah yang bersifat terbuka, maka yang akan lahir adalah kaum intelektual yang memberi nilai tambah dan meningkatkan kualitas berpikir dan bertindak yang membawa kemaslahatan bagi banyak orang.
Namun, memiliki guru dan referensi yang sama tidak menjamin akan melahirkan perilaku individu yang sama. Yang menentukan warna pribadi seseorang adalah penghayatan, daya kreativitas, obsesi, dan tujuan hidup masing-masing. Maka, orisinalitas dan diferensiasi kepribadian seseorang dibentuk oleh pengolahan dan penyajian gagasan yang terejawantah dalam bentuk sikap dan perilaku.
Coba bayangkan, engkau mengenakan kaus putih di antara jutaan orang yang mengenakan kaus hitam. Engkau pasti akan mudah dan dengan cepat dikenali, ditemukan, diidentifikasi, dan dideteksi. Sekaligus, tentu saja, sulit bersembunyi. Jika kaus putih tadi dianalogikan sebagai sebuah prestasi atau karakter unik, maka itulah yang membuatmu berbeda dibandingkan dengan orang lain. Kebanyakan orang merasa nyaman dan tenteram mengenakan ‘kaus hitam’. Artinya, orang kebanyakan tidak ingin menjadi sorotan atau bintang. Mereka merasa nyaman tenggelam dalam kerumunan yang seragam. Membangun diferensiasi harus dimulai dengan suatu gagasan besar yang positif, inovatif, dan brillian. Jika gagasanmu teruji, maka, tanpa diminta, gagasan itu akan menjadi medan magnet bagi pikiran banyak orang. Bukan hanya itu, mereka akan dengan sukarela menjadi martir bagi gagasanmu karena engkau menjadi mind setter—pembentuk opini bagi banyak orang.
Mulailah menjadi pemimpin bagi pikiranmu sendiri sebelum engkau memimpin pikiran orang-rang.
There are many ways to become famous. Acting crazy isn’t one of them.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar