Minggu, 30 Juli 2023

Wasiat Daun

 WASIAT DAUN

 Biarkan daun-daun pulang ke asalnya dengan damai seperti manusia yang ingin dikebumikan di kampung halamannya. Jika disapu, daun-daun ini akan jadi terasing dan  menderita bersama limbah industri.

 Permintaan terakhir daun sebenarnya sederhana. Dia ingin tetap berada dekat dengan sang induk agar bisa berbakti kepadanya, menyelimuti tanah di sekitar pohon agar bisa memberi kehangatan, menahan penguapan air agar tanah tetap memiliki persediaan air di musim kemarau. Daun-daun yang gugur dan rebah di permukaan bumi akan menahan kandungan air tanah di sekitarnya tidak menguap ke angkasa dan jatuh jadi hujan di negeri lain. Itu sebabnya kepedihan yang dalam bagi daun adalah ketika dia tidak mengalami penghancuran/penguraian dirinya di tanah kelahirannya untuk bertransformasi menjadi humus sebagai dedikasi terakhir kepada induknya. 

Di era konsumerisme dan argoindustri ini, sesungguhnya daunlah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, bukan buah. Buah-buah kini dipaksa jatuh dari tangkainya untuk didistribusikan ke pasar-pasar tradisional. Sementara daun-daun yang jatuh dari tangkainya akan tergeletak dalam radius akar melakukan ekspansi. Jika toh angin meniupnya, dia tak akan terlalu jauh karena bentuk daun tercipta tak melebihi kepak sayap burung.

Daun menyadari kalau induknya merupakan organisme autotrof obligat yang harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya matahari menjadi energi kimia, Maka, dia ditakdirkan menjadi organ fotosintetis yang paling dominan bekerja. Daun juga organ pernapasan bagi induknya. Karena itu, sepanjang hari daun selalu menatap matahari dan tak pernah menoleh sedikit pun darinya, kecuali matahari telah pamit ke peraduan. Ini adalah cara penghormatan daun kepada sang surya. Meski harus terpanggang, daun tetap tegap semringah melambai-lambai. Tatkala mentari luruh, daun ikut merunduk untuk berkhidmat pada semesta.

Daun yang ramah itu digerakkan oleh cinta, kemudian cinta itu dipersembahkan kepada bumi, agar makhluk-makhluk di bawahnya bisa berteduh. Daun yang mencumbu cahaya mentari bukan saja sedang mempercantik diri mencipta hijau ranumnya, tetapi juga memproduksi oksigen demi kasih sayangnya kepada makhluk bumi. Ketika induknya dahaga di musim kemarau, dia rela menggugurkan diri ke bumi agar induknya lebih hemat menyimpan air dan energinya selama masa dehidrasi dan hibernasi.

Tumbuhan dan daun adalah mahakarya alam yang menginspirasi lahirnya beberapa teknologi canggih. Salah satunya adalah pemanfaatan tenaga surya. Daun berfungsi seperti panel penangkap sinar untuk disimpan dan didistribusikan ke seluruh instalasi yang ada pada pohon. Dalam arsitektur daun, terdapat unsur fotovoltaik yang mengubah sinar matahari menjadi energi listrik karena fungsi daunlah sinar matahari bisa mencapai ruang bawah tanah yang gelap memberi energi pada akar-akar untuk melakukan ekspansi melebar dan menghunjam ke dalam tanah. Berkat bantuan sinar surya tumbuhan dapat memproduksi makanan.

Tahun 1883, Charles Fritts dari New York menciptakan panel surya pertama dengan melapisi selenium dengan lapisan tipis emas. Dilansir dari Phys.org, pada proses fotosintesis cahaya masuk, elektron bergerak melintasi membran dan tidak pernah kembali. Dalam fotosintesis elektron selalu berjalan satu jalur, membuat tumbuhan sangat efisien dalam mengubah energi matahari. Dari proses fotosintesis inilah ilmuan terinspirasi untuk menciptakan panel surya. Dilansir dari Live Science, partikel foton dari cahaya Matahari menumbuk panel surya dan memberikan energi pada elektron. Energi ini membuat listrik mengalir pada semikonduktor panel surya, kemudian listrik ini bisa disimpan dalam baterai atau accu.

Unsur-unsur yang membentuk daun juga merupakan seni aristekur yang indah dan sempurna. Pelepah daun, tangkai daun, dan helai daun menyatu membentuk karya instalasi seni rupa simetris yang indah. Variasi bentuk daun dari setiap pohon berbeda-beda, sebagai strategi diferensiasi dari masing-masing menjadi indentitas. Maka, jika engkau ingin memiliki jati diri yang kuat, tirulah strategi itu, yang memadukan antara manfaat fungsional dengan keindahan rupa. Itulah eksistensi kualitas manusia yang ideal. Tidak sekadar mengandalkan keindahan fisik, tetapi juga memiliki nilai manfaat fungsional.

Sudah menjadi kodratnya, manusia selalu mencari kedamaian dan ketenangan, dan daun dapat memberikan itu melalui warna hijaunya yang alami bila ditangkap oleh mata. Daun juga merelakan dirinya dikonsumsi oleh spesies herbivora yang akan memberikan timbal balik berupa kotoran untuk kesuburan tanah.

Tumbuhan juga bersolek untuk memikat dunia, melalui bentuk dan warna yang indah, juga melalui aroma daunnya. Aroma yang dihasilkan daun adalah parfum alami. Daun juga mengandung berbagai zat yang membentuk cita rasa dan memberikan manfaat. Bukan itu saja, daun juga menjadi rumah dan sumber makanan bagi hayati makhluk lain seperti ulat, serangga, kumbang, dan kupu-kupu. Semuanya didedikasikan untuk sahabat-sahabat buminya.

Mungkin pohon tidak pernah menghitung berapa jumlah ideal yang tumbuh pada ranting-rantingnya. Yang dia tahu hanyalah menjaga keseimbangan agar tubuhnya tetap kokoh berdiri dengan persisi yang tinggi, tak pernah meleset.

Daun hanya menulis wasiat sederhana: biarkan aku gugur saat tangkai melepasku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar