GUNTING-BATU-KERTAS
Aku tak bisa merayu, maka kuminta engkau bermain gunting-batu-kertas saja denganku. Ketika tanganmu membentuk gunting, aku sengaja melambatkan tanganku membentuk kertas.
Aku tak sampai hati menjadi batu dan keras kepala memperlakukanmu. Sesederhana itu caraku merayumu. Meski aku tahu risikonya, guntingmu itu akan merobekku menjadi bagian-bagian kecil kenanganmu, tetapi aku berharap guntingmu itu tak memilah egoku.
Engkau protes, lalu mengajakku bermain sekali lagi. Kali ini engkau mengepalkan tangan dan tanganku membentuk formasi gunting. Engkau menang, tetapi tak tertawa gembira. Padahal dengan kekuatan otoriter batu pesonamu aku bisa remuk redamkan ego kelelakianku. Maka, engkau meminta kita bermain sekali lagi. Engkau tetap memilih menjadi batu dan aku memilih menjadi kertas agar aku bisa [D1] memeluk dan menghangatkan sukmamu dalam kekalahan yang disepakati. Ini menjadi permainan yang nir ego.
Sebenarnya kita telah memahami dan menyepakati aturan main ini, tetapi kita melanggarnya. Gunting kalah oleh batu batu, batu kalah oleh kertas, dan kertas kalah oleh gunting. Batu ibarat sikap dan pendirian yang tegas, tetapi memiliki sisi lain (kelemahan), yaitu keras kepala. Gunting fungsinya seperti penyelamat, di sisi lain memiliki sifat pemisah, pemotong, dan pencabik. Sementara kertas berarti kedewasaan, mengayomi, sekaligus sebagai kekurangan dengan sikap lemahnya. (Sumber http://www.guntingbatukertas.net/)
Memang cinta bukan permainan, tetapi dia memiliki etika, code of conduct atau rule of the game yang harus dihayati dan diamalkan oleh para pecinta. Gunting, batu, dan kertas seperti lingkaran yang memiliki kekuatan dan kelemahan satu sama lain. Tidak ada manusia yang tidak memiliki kekuatan yang tak tertandingi. Begitu juga, tak ada manusia yang tak memiliki lawan yang tak bisa dikalahkan. Setiap orang tidak bisa mutlak memiliki kekuatan yang tidak bisa dikalahkan agar tidak digoda keangkuhan. Kelemahannya itu mesti disadari oleh dirinya sendri. Yang menjadi misteri dalam kehidupan nyata adalah kita tidak tahu kartu truf apa yang akan dikeluarkan oleh mitra untuk kita? Apakah orang yang memiliki kekuatan yang akan menggempur kelemahan kita atau sebaliknya? Jadi, saat mengayunkan tangan ketika main gunting-batu-kertas, yang bisa kita lakukan hanya memprediksi sambil berharap mendapat keberuntungan. Itulah takdir, apa pun formasi tangan lawan. Maka, serahkanlah soal takdir kepada Tuhan YME. Untuk urusan cinta dan kemanusiaan, kita bisa menukar aturan main itu menjadi konsep kolaborasi. Tak ada yang saling mengalahkan.
Kepada sahabat, aku juga mengajak bermain gunting-batu-kertas. Aku tak bisa berdebat, sahabat, maka kuajak engkau bermain gunting-batu-kertas, Satu, dua, tiga …. Tanganku membentuk genggaman batu karena sama-sama keras kepala. Maka, permainan harus diulang ketimbang saling membentur ego dan menghancurkan. Satu, dua, tiga …. Tangan kita sama-sama membentuk gunting. Ini hubungan yang berbahaya. Bisa saling menggunting dan mengalahkan, juga membahayakan lingkungan. Maka, kami sepakat permainan diulang lagi. Satu, dua, tiga …. Tanganmu membuka, membentuk kertas, sama seperti tanganku. Kami saling bertatap muka. Permainan harus diulang, tetapi aku tak mau. Maka, segera kuraih tanganmu yang masih terbuka menjadi jabat tangan agar tangan kita tak lagi sama-sama membentuk batu yang saling keras kepala.
Seseorang memiliki lawan yang bisa dikalahkan atau ditundukkan karena sifat, kekuatan, dan ilmunya memang tak terbendung oleh lawannya tetapi dia selalu lawan yang dapat mengalahkannya yang memiliki kekuatan yang unik menyusup ke celah-celah kelemahan yang tak sulit dulit terlihat oleh lawan biasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar