Minggu, 30 Juli 2023

Zoom in Zoom out

 ZOOM IN VS ZOOM OUT

Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Padahal, mata batin kita sesungguhnya sangat elastis, bisa mengarah ke dalam lebih  dekat dan melibatkan diri  atau mengarah ke luar dan mengambil jarak dari setiap perkara.

Begitu banyak peristiwa atau informasi yang melintas di sekitar kita, baik yang berhubungan langsung dengan kepentingan atau kehidupan kita, maupun kejadian yang sama sekali tidak berhubungan langsung dengan kehidupan atau kepentingan kita. Ada juga kejadian yang berhubungan dengan kehidupan kita, tetapi tidak secara langsung. Peristiwa-peristiwa atau informasi-informasi itu setiap hari datang silih berganti dalam jumlah yang melimpah dari berbagai sumber, antara lain kejadian yang kita alami sendiri di rumah, di lingkungan, di kantor, atau di komunitas lain. Atau informasi yang datang dari media mainstream seperti radio, televisi, dan surat kabar. Apalagu  dari media sosial yang dengan mudah diakses di handphone kita kapan saja dan dimana saja.

Dari fenomena di atas, masalah yang paling esensial adalah apakah kita harus melibatkan diri atau mengonsumsi semua peristiwa atau informasi tersebut? Tentu saja tidak, karena kita memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Dalam keterbatasan itu, tentu kita dipaksa untuk memilih dan memilah peristiwa atau informasi apa saja yang perlu kita konsumsi atau libatkan diri di dalamnya. 

Bayangkan jika kita harus melibatkan diri dengan semua persoalan di luar diri kita yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan kepentingan atau kebutuhan kita. Pasti hidup kita menjadi sangat gaduh dan sibuk, tentu akan menguras emosi dan perasaan. Padahal itu semua belum bermanfaat atau tidak mendukung dengan upaya pencapaian target hidup kita atau tidak menguatkan kesuksesan peraihan minat dan bakat kita. Waktu kita berlalu dengan sia-sia dan dalam jangka panjang akan membuat hidup kita menderita, jauh dari prestasi dan kesuksesan yang kita harapkan.

Coba bayangkan, apa yang terjadi di Amerika kita ikut-ikutan memikir. Kejadian di Timur Tengah kita ikut uring-uringan. Peristiwa di Cina emosi kita ikut meleda. Skandal segitiga artis kita ikut baper, kasus KDRT yang menimpa orang yang tidak kita kenal kita ikut cawe-cawe dan ikut berkomentar, mendukung atau menghujat dan begitu juga dengan ribuan peristiwa yang terjadi di setiap saat. Padahal kejadian-kejadian itu tidak berhubungan dan tidak memiliki manfaat langsung dengan kepentingan kita. Sementara terhadap peristiwa itu kita tidak bisa mengubah keadaan. Kita sendiri tidak kurang-kurangnya memiliki persoalan atau urusan yang harus dicarikan solusi. 

Sering kali kita terjebak atau malah melibatkan diri dengan permasalahan orang lain atau mengonsumsi informasi yang sama sekali tidak terkait langsung dengan kebutuhan. Namun, kenapa kita akhirnya terjebak dalam arus informasi yang demikian? Seolah kita dibius dan bahkan menikmati informasi semacam itu seperti sedang kecanduan. Mungkin karena teknik penyajian informasi atau hiburan itu begitu canggih, memadukan audiovisual menggunakan aplikasi canggih. Itu yang menyebabkan hiburan dan informasi menjadi sangat menghibur dan punya daya pikat yang tinggi. Kita hanyut, tertawa, berdecak kagum, bahkan menghanyutkan perasaan. Saking asyiknya, kita tidak sadar waktu 24 jam kita lewati dengan sia-sia. Tidak ada waktu tersisa untuk mengembangkan diri, melakukan hal-hal yang terkait dengan target pribadi.

Terhadap informasi yang kurang bermanfaat, mestinya kita melakukan zoom-out. Artinya kita mengambil jarak, tidak melibatkan diri, dan membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran untuk mengonsumsi informasi dan peristiwa tersebut. Jika hal itu diterus-teruskan, Anda akan menemukan diri menjadi tua dalam kondisi merana, tidak menjadi siapa-siapa dan bukan apa-apa. Dengan melakukan zoom-out, kita bisa melihat big picture dan posisi dari peristiwa itu di tengah-tengah peristiwa yang lain dan akhirnya dapat menilai secara objektif.

Sementara untuk urusan informasi yang penting dan berhubungan langsung dengan kebutuhan dan kepentingan kita sendiri, kita harus men-zoom-in. Artinya, kita harus memberikan perhatian khusus dan fokus pada upaya-upaya progresif peningkatan kualitas hati, kualitas pikir, kualitas iman, dan kualitas hidup kita. Memberikan detai-detail setiap langkah yang harus diambil untuk mencari solusi. Memberikan perhatian kepada orang-orang atau sesuatu yang kita kasihi dan sayangi. Pada saat kita memberikan perhatian tersebut, rasa simpati dan empati akan tumbuh secara otomatis, sehingga menggerakan hati  untuk mendukung secara moral atau material sesuai kebutuhan dan kemampuan. Tidak melewatkan begitu saja momen-momen indah kebersamaan. Dari situlah hidup akan terasa lebih berarti dan bermanfaat.

Sekarang persoalannya adalah proses memilih dan memilah peristiwa dan informasi yang melimpah itu bukanlah pekerjaan yang mudah, karena hal ini melibatkan perasaan subjektif, emosi, nafsu dan minat setiap seseorang. Secara garis besar, pilihan itu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pertimbangan objektif dan pertimbangan subjektif.

Proses memilih dan memilah itu sendiri sebenarnya subjektif, sebab dari sekian banyak peristiwa dan informasi tersaji, apa pun pilihan kita pasti melibatkan emosi, perasaaan, dan kepentingan diri. Oleh karena itu, selain menggunakan ukuran subjektif, kita harus memiliki parameter yang jelas untuk melakukan proses memilih dan memilah sesuai dengan kebutuhan kita. Nah, saat itulah kita barus menggunakan objektivitas dan rasionalitas. Artinya, diri kita harus objektif saat memilih dan memilah peristiwa atau informasi yang terkait langsung dengan kehidupan kita. Untuk memudahkan hal tersebut, kita dapat menggunakan tool di bawah ini:

Penting dan mendesak

 

Sekadar tahu

 

Zoom-in

Tak penting dan tak mendesak

 

Zoom-out

 

 

Tunda zoom-in

 

 

Tak berhubungan

Berhubungan langsung

 

Dari gambar kuadran di atas, dapat kita tarik kesimpulan sebagai berikut:

1.      Terhadap peristiwa atau informasi yang berhubungan langsung dengan kebutuhan kita dan sifatnya penting dan mendesak, kita harus melakukan zoom-in dan memberikan perhatian penuh.

2.      Terhadap peristiwa atau informasi yang tidak berhubungan langsung dengan kebutuhan atau kehidupan kita dan tidak penting dan tidak mendesak, maka kita harus melakukan zoom-out terhadapnya, bahkan menghindari, tidak membuang-buang waktu untuk terlibat atau mengonsumsi berita atau peristiwa tersebut.

3.      Terhadap peristiwa atau informasi yang tidak berhubungan langsung dengan kehidupan kita dan penting, maka kita cukup sekadar tahu saja, sekadar mengetahui perkembangan yang terjadi dan untuk menambah wawasan.

4.      Terhadap peristiwa atau informasi yang berhubungan dengan kehidupan kita, tetapi tidak penting dan tidak mendesak, maka sikap kita menunda untuk zoom-in sampai dengan tiba waktu yang kita targetkan.

Tentu saja tool ini hanya gambaran umum, karena dalam kehidupan nyata, kombinasi situasi lebih kompleks dari yang digambarkan dalam diagram tersebut.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar