Minggu, 30 Juli 2023

Wasiat Bunga kepada Buah

 WASIAT BUNGA KEPADA BUAH

 Buah adalah era berakhirnya kejayaan bunga, melalui “kudeta” yang sangat lembut, bahkan alam terpedaya hingga merestui peralihan kekuasaan itu. Namun, bunga rela diinfiltrasi oleh superego yang bersemayam dalam DNA, dengan sebuah wasiat: “Renggutlah aku demi estafet pertunjukan keajaiban”.

Buah adalah deskripsi sempurna yang menggambarkan keikhlasan melepas dan berganti peran tepat di akhir masa kejayaan sang bunga. Bunga memberikan panggung berikutnya kepada buah untuk tampil. Sebuah estafet yang mengalir indah agar pertunjukan keajaiban alam terus berlangsung dan terjaga. Buah menyadari bahwa semua ada masanya. Mungkin, saat masih kuncup, bunga merasa cemas membayangkan ketika tiba waktunya untuk layu kemudian lenyap dilupakan dunia. Namun, perlahan waktu memberi pemahaman kepada bunga bahwa dia tidak mati, melainkan sedang berproses ke etape hidup berikutnya untuk keindahan dan kemanfaatan yang berbeda, yaitu buah. Engkau bisa menyebutnya ini pergantian peran dari asal muasal yang sama, tetapi engkau juga bisa menyebut itu sebagai sebuah kudeta tak berdarah karena antara bunga dan buah merupakan “super ego” yang berbeda. 

Namun, bagaimana dengan bunga yang tidak bertransformasi menjadi buah? Setiap bunga sebenarnya memiliki kelamin, tetapi beberapa bunga memiliki struktur kelopak yang rumit sehingga menyulitkan kelaminnya mengalami penyerbukan. Bunga tidak bisa melakukan penyerbukan sendiri karena tingkat kematangan putik dan benang sari yang tak bersamaan. Itu artinya struktur kelopak yang mengandalkan keindahan justru menjadi kendala terhadap proses transformasi.  Bukan berarti bunga itu mandul. Ini adalah dampak dari egonya sendiri sehingga dia tak rela ada kehidupan lain setelah dirinya. Super ego itu yang menutup diri dari kolaborasi dan mengabaikan prinsip hubungan mutualisme dengan pihak lain. Itu artinya dia dihukum oleh obsesi diri sendiri yang hanya ingin dikenang sebagai bunga yang indah. Tak boleh ada kelanjutan hidup yang menawan setelah dirinya. Bunga semacam itu mengidap star syndrome. Atau bisa jadi bunga merasa iri kepada buah karena pujian dan cerita akhir hidupnya yang ditulis oleh alam adalah buah dan bukan dirinya.

Ada pandangan lain yang menyatakan bahwa buah adalah hasil konspirasi antara bunga dan kumbang. Namun, kenapa bunga harus melakukan “konspirasi” dengan kumbang untuk menghasilkan buah? Kapan dan melalui komunikasi seperti apa sehingga mereka sepakat membangun sinergi paripurna? Apakah bunga tahu kebutuhan kumbang dan kumbang tahu keinginan bunga untuk diintervensi? Apakah ada hidden connection di antara mereka?

Jika buah merayu dunia dengan keindahan bentuk, warna, dan baunya, maka bunga menawarkan pesona yang lain meski akhirnya memunculkan paradoks pada dirinya. Ingin berkuasa atas perhatian dunia, tetapi di sisi lain, dia merelakan diri untuk mengakhiri hidup. Dia rela mati sebagai korban kegenitannya sendiri, tetapi tidak benar-benar binasa karena dia mencapai tujuan hidup hakiki, yaitu regenerasi.

Buah adalah sebuah konsep arsitektur yang memadukan bentuk, warna, aroma, dan cita rasa yang unik dalam membentuk jati dirinya. Sekaligus sebagai diferensiasi. Dari sekian juta jenis buah-buahan yang pernah ada di bumi, semuanya memiliki perbedaan profil. Satu sama lain tidak ada yang benar-benar sama, baik dari sisi bentuk, warna, aroma, maupun cita rasa.

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Namun, di era budi daya dan konsumerisme, buah banyak yang dipaksa jatuh jauh dari pohonnya dan tersebar dari bakul ke bakul hingga ke kontainer di supermarket dan Hypermarket. Memang dari sekian banyak warga bumi, manusialah yang paling sadis mengeksploitasi kebermanfaatan buah. Bahkan, untuk melampiaskan nafsu keserakahannya, manusia telah melakukan campur tangan dalam proses reproduksi dan rekayasa genetik terhadap pohon dalam menghasilkan buah super dan menciptakan banyak spesies dan varian buah. Spesies dan varian baru itu memiliki volume dan ukuran daging yang lebih besar, daging buah yang lebih banyak, warna yang lebih menarik dan cita rasa yang berbeda dengan aslinya. 

Kita tidak tahu apakah Tuhan marah karena orisinalitas ciptaan-Nya di-’acak-acak’ ataukah Tuhan diam-diam malah memuji kreativitas manusia dengan kehendak bebasnya (free will), melebihi ekspektasi Tuhan saat memberi akal pada manusia? Sudah seharusnya manusia bertanggung jawab menjaga keberlangsungan hidup pohon dan buah-buahan. Kita tidak pernah menyangka mungkin suatu saat kehidupan di bumi ini hasil bauran ciptaan Tuhan dengan kreativitas hasil akal budi manusia?

Kematian yang agung dan terhormat bagi buah adalah jatuh ke bumi ketika memang rantingnya telah lemah dimakan usia dan diayun angin yang menemani hidupnya sepanjang waktu hingga membusuk jadi pesta mikroorganisme.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar