SAMPAH, DHARMA, DAN KARMA
Jika engkau memperlakukan aku dengan tidak hormat, maka Aku akan mengusik rongga hidungmu dengan kebusukan, menyergap matamu dengan kehinaan, menggedor telingamu dengan rintihan menyayat hati, dan menyusup ke pikiranmu dengan kekalutan.
Engkau lupa bahwa aku dulu adalah bahan baku yang kauburu dan kauisap sari patiku demi memenuhi nafsumu. Lantas, setelah puas, kaucampakkan aku ke lorong-lorong gelap, kotor, dan sunyi. Namun tak mengapa, meski hanya sisa-sisa keserakahanmu, aku masih menyimpan energi yang tak pernah padam. Daur hidupku melingkar dan aku akan terus menghantui hidupmu. Bagiku, tak ada tempat yang tak nyaman. Di mana pun aku berada, aku akan melanjutkan darmaku. Pengabdian yang ikhlas dan total tak mengenal kekecewaan. Namun, ketika keberadaanku berubah jadi bencana bagimu, bukan berarti aku marah. Itu adalah konsekuensi dari perbuatanmu yang tidak menghormatiku.
Aku akan terus melanjutkan darmaku, memberi sisa kemanfaatanku kepada rakyat pinggiran yang kelaparan, memberi peluang bisnis bagi kaum marginal yang jeli melihat sisa nilai ekonomiku dalam bisnis rosok, menyediakan makanan yang lezat bagi lalat, belatung, dan mikroorganisme agar massaku berkurang dan bertransformasi menjadi energi baru. Aromaku yang busuk bagimu adalah aroma yang membangkitkan selera makan bagi mereka.
Sadarilah, sering kali jumlahku yang melimpah itu berasal dari perbuatanmu yang mubazir. Engkau mengambil makanan dengan keserakahan, tetapi akhirnya kaubuang dengan keangkuhan hanya karena engkau mampu membayarnya. Tidakkah engkau bersimpati kepada jutaan orang yang tidak bernasib baik sepertimu, yang terkapar kelaparan berebut rezeki dilorong-lorong yang tak tersentuh arus ekonomi? Padahal Tuhanmu melarang perbuatan mubazir.
Dari aspek ekonomi mubazir adalah pemborosan yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi karena biaya produksi yang tinggi tidak diimbangi dengan nilai manfaatnya. Hal inilah yang mengganggu distribusi kesejahteraan secara makro. Dari aspek sosial, perbuatan mubazir menimbulkan sentimen antarkelas di tengah-tengah masyarakat, seperti pertunjukan pameran kemewahan dan ketidakadilan yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal.
Dari aspek budaya, mubazir mengusik nilai gotong royong, kebersaman, dan tolong menolong yang selama ini menciptakan keselarasan di dalam masyarakat. Dari aspek politik, mubazir melebarkan jurang perbedaan antarkelas, berpotensi mengganggu kestabilan dan keamanan politik, memicu konflik antara kaum borjuis dan kaum proletar. Dari aspek agama, mubazir adalah perbuatan yang dilarang oleh Tuhan dan akan mendapat ganjaran yang setimpal kelak.
Namun, di antara kalian masih banyak orang yang menyediakan diri mengelolaku dengan baik agar keberadaanku tidak mengganggu lingkungan, tidak menyumbat got dan sungai-sungai. Aku dikumpulkan dan ditempatkan di suatu tempat yang yang terpisah sesuai dengan katagori unsur-unsurku agar mudah didaur ulang. Jika ada orang yang menjaga lingkungannya dengan menata keberadaanku, maka orang itu memikiki iman yang baik dan mendapat ganjaran pahala karena kebersihan adalah sebagian dari iman.
Penyikapan sekumpulan orang tehadap pengelolaan keberadaanku bahkan membentuk kultur dan budaya gotong royong, yaitu kerja bakti membersihakan lingkungan.
Semua orang, rumah tangga dan industri, memproduksi sampah setiap hari. Jadi, aku sesungguhnya adalah urusan bagi semua orang, sama pentingnya dengan urusan lain ketika engkau memproduksi barang dan jasa. Jika untuk memproduksi barang dan jasa engkau memiliki business plan yang baik dan komprehensif serta didukung dengan anggaran yang besar, maka sebaiknya demikian pula engkau memperlakukan aku. Engkau harus menyusun master plan dan memanfaaatkan teknologi yang hebat dengan dukungan anggaran yang proporsional. Jika tidak, bersiaplah, engkau akan menerima karmamu sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar