Apa yang salah jika agama dikatakan sebagai ciptaan manusia?
Bukankan wahyu atau firman Tuhan diterima melalui manusia dan manusia mengolahnya dengan akal budi yang kemudian menjadi sistim nilai dalam bentuk kitab suci, hadist atau tafsir-tafsir? Lebih luas lagi fatwa hasil iztihat para ulama dan ahli agama, agar dapat dipahami oleh umat manusia.
Untuk melaksanakan perintah agama secara efektif, manusia kemudian menciptakan lembaga dan infrastruktur agama. Maka lahirlah cabang-cabang peradaban, seperti arsitektur, busana, kuliner, seni patung, musik, pendidikan yang terkait dengan agama. .
Tuhan mendelegasikan kuasanya kepada manusia dalam bentuk akal / rasio dan kehendak bebas. Oleh karena itu, rasanya tidak mungkin tuhan menurunkan firmannya langsung tanpa melalui perantara nabi atau rosul dengan sentuhan kemanusiaan.
Proses pem'bumi'an dan penyebaran ajaran atau firman tuhan oleh manusia tentu melibatkan logika, visi dan emosi manusia. Outputnya adalah peradaban.
Fenomena agama yang terlembagakan ini yg memiliki ekses terjadinya potensi konflik. Melembagakan agama bisa menjerumuskan umatnya ke dalam pendangkalan dan sekularisasi nilai-nilai agama itu sendiri.
Agama lahir dari naluri spiritualitas manusia untuk mendefinisikan atau menaruh rasa aman terhadap rahasia alam yg maha dahsyat yang belum terungkap.
Bagi saya, spiritualitas adalah teknologi jiwa manusia untuk tetap survive dgn cara dan warna perspektif yg berbeda2. Peradaban akan terus tumbuh dinamis mencari pola yang paling pas bagi manusia sesuai pemahaman mutakhir manusia tentang kehidupan. Pendapat ini bisa salah dan bisa diubah setiap saat manakala kita menemukan ilmu dan pemahaman baru yang lebih memenuhi akan budi manusia.
Kesadaran harus tetap terjaga agar manusia tidak terjebak sikap memberhalakan pikiran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar