Rabu, 31 Juli 2024

NALURI BERBURU

Di zaman purba manusia berburu binatang untuk mencari makan dan menyambung hidup. Sekali berburu hanya untuk sekali makan. Besok saat lapar, berburu lagi.

Mereka belum punya tabiat menimbun makanan, karena sumber makanan (binatang yang akan diburu) populasinya masih melimpah, sementara populasi manusia masih sedikit. Mereka belum merasa perlu  menciptakan teknologi untuk menimbun dan mengawetkan makanan. 

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia modern tidak lagi berburu binatang tetapi berburu uang. Dengan uang siapapun bisa menikmati daging atau makanan apa saja yang mereka inginkan dengan "menyuruh" orang lain untuk menyediakan makanan dan minuman yang mereka sukai.  

Dalam perkembangan peradaban manusia selanjutnya, manusia mulai beternak dan budi daya untuk mengganti aktifitas berburunya yang penuh resiko itu.

Berburu binatang membutuhkan ketrampilan yang bersifat fisik dan kekuatan stamina. Berburu uang membutuhkan multi skill dan talented, baik soft skill maupun hard skill. Persoalannya atau variabelnya jauh lebih kompleks. Jadi manusia tidak pernah kehilangan nalurinya untuk berburu, yang berbeda hanya objek, medan tempur, pola dan strateginya.

Sasaran berburu dari manusia purba adalah binatang, Sasaran berburu dari manusia modern adalah uang. Habitat binatang adalah hutan. Habitat uang adalah kantor, pabrik, tempat hiburan, dan tempat-tempat di mana orang-orang memberikan jasanya. Itu semua adalah juga hutan belantara. Hutan manusia pekerja,  hutan rencana kerja, hutan proposal, hutan target bisnis yang ambisius. Semua adalah sumber masalah kejiwaan (stress). Tekanan hidup yang berbeda dihadapi oleh manusia purba.

Jika ada manusia modern yang masih berburu binatang memiliki alasan, antara lain:

Pertama, menyalurkan hobby untuk memenuhi ego dan rasa gengsinya dengan cara mengoleksi binatang yang lucu dan indah untuk dipelihara. Kedua, untuk membatasi populasi binatang yang mengganggu budidaya manusia dan kenyamanan hidup manusia. 

Berburu dengan alasan hobby ini membutuhkan peralatan dan biaya yang mahal, hanya bisa dilakukan oleh para elitis dan bersifat ekslusif.

Demikian halnya dengan berburu uang, juga bersifat elitis yang hanya bisa dilakukan dengan efektif oleh  mereka yang punya ketrampilan, jaringan yang kuat, kekuasaan dan privilege. 

Jadi naluri berburu manusia tak pernah hilang dan tetap terpelihara, bahkan lebih ganas, kecuali bagi orang-orang yang tingkat tujuan hidupnya sudah berorientasi pada spiritualitas.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar