Alkisah terbangunlah sebuah hegemoni keluarga dan keturunan dari The Messenger of God (Tokoh Suci Penerima Wahyu Tuhan) yang diposisikan sebagai kelompok manusia paling istimewa dan suci yang selalu dimuliakan oleh para pengikut dari sang tokoh suci tersebut.
Mereka membangun hegemoninya dengan mithos, pesan dan cerita spiritual yang dikemas secara hiperbolis dan terus diglorifikasi demi memperkokoh kehormatan kelompoknya. Tujuannya adalah agar aura kelompoknya tetap relefan sebagai warga the first class di kalangan umat yang masih dibius oleh dogma. Banyak keuntungan yang mereka terima, Agar lebih meyakinkan mereka selalu memakai aksesoris berbau keagamaan dengan ucapan yang selalu dibumbui ayat-ayat suci.
Dengan privilege yang mereka terima, mereka bisa hidup tentram, damai, bergelimang harta, puja-puji serta menikmati fasilitas sosial dari para pengikutnya dengan memelihara kebodohan umatnya dengan dogma. Bahkan dengan privillege itu pula mereka bisa mengeluarkan fatwa yang menguntungkan kelompoknya dan mengancam orang-orang yang tidak patuh dan tidak menghormati kelompoknya. Umat tidak sadar telah dieksploitasi sedemikian rupa sehingga merqtwgiwt;tweelakan dirinya menjadi budak dan masyarakat kelas bawah. Inilah sisi gelap agama yang plintir untuk kepentingan kelompok dengan janji dan ancaman surga dan neraka.
Jika dihitung dari sejak kematian sang tokoh suci itu hingga saat ini, maka rentang waktunya sudah sekitar 1.500 tahun lalu. Bayangkan lini masa sepanjang itu tidak melunturkan kesakralan status dari keturunan sang tokoh suci. Padahal biasanya, pengaruh kejayaan dan aura seorang tokoh paling lama hanya tujuh generasi yang dibarengi dengan semakin lunturnya privillege untuk mereka.
Terpelihara sekian lamanya kejayaan dan kesucian keturunan sang tokoh spiritual itu telah melampaui ribuan generasi. Ini tak lain disebabkan oleh kuatnya pengaruh keyakinan yang dibalut dogma. Ditambah dengan orkestrasi yang masif dan membangun mitos dengan bumbu spiritual. Polesan isu agama ini yang menyebabkan perbudakan spiritual ini tidak mereka sadari. Dogma berpotensi menyebabkan umat menderita kebodohan massal. Jutaan manusia / umat tunduk dan memberikan segenap jiwa raganya demi tokoh tokoh suci dan keturunannya dengan rasa bangga dan ikhlas.
Melihat dampak kerusakan yang ditimbulkan, maka perbudakan ini tidak kalah kejam dengan perbudakan politik kekuasaan yang otoriter atau perbudakan oligarki kepada kaum ploretariat.
Kaum cemdikiawan dan cerdik pandai memiliki tanggung jawab untuk mencerahkan masyarakat dengan menggunakan ilmu pengetahuan, sains, cinta dan kemanusiaan yang menentang perbudakan manusia di atas manusia lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar