Minggu, 30 Juli 2023

Wasiat Bunga kepada Buah

 WASIAT BUNGA KEPADA BUAH

 Buah adalah era berakhirnya kejayaan bunga, melalui “kudeta” yang sangat lembut, bahkan alam terpedaya hingga merestui peralihan kekuasaan itu. Namun, bunga rela diinfiltrasi oleh superego yang bersemayam dalam DNA, dengan sebuah wasiat: “Renggutlah aku demi estafet pertunjukan keajaiban”.

Buah adalah deskripsi sempurna yang menggambarkan keikhlasan melepas dan berganti peran tepat di akhir masa kejayaan sang bunga. Bunga memberikan panggung berikutnya kepada buah untuk tampil. Sebuah estafet yang mengalir indah agar pertunjukan keajaiban alam terus berlangsung dan terjaga. Buah menyadari bahwa semua ada masanya. Mungkin, saat masih kuncup, bunga merasa cemas membayangkan ketika tiba waktunya untuk layu kemudian lenyap dilupakan dunia. Namun, perlahan waktu memberi pemahaman kepada bunga bahwa dia tidak mati, melainkan sedang berproses ke etape hidup berikutnya untuk keindahan dan kemanfaatan yang berbeda, yaitu buah. Engkau bisa menyebutnya ini pergantian peran dari asal muasal yang sama, tetapi engkau juga bisa menyebut itu sebagai sebuah kudeta tak berdarah karena antara bunga dan buah merupakan “super ego” yang berbeda. 

Namun, bagaimana dengan bunga yang tidak bertransformasi menjadi buah? Setiap bunga sebenarnya memiliki kelamin, tetapi beberapa bunga memiliki struktur kelopak yang rumit sehingga menyulitkan kelaminnya mengalami penyerbukan. Bunga tidak bisa melakukan penyerbukan sendiri karena tingkat kematangan putik dan benang sari yang tak bersamaan. Itu artinya struktur kelopak yang mengandalkan keindahan justru menjadi kendala terhadap proses transformasi.  Bukan berarti bunga itu mandul. Ini adalah dampak dari egonya sendiri sehingga dia tak rela ada kehidupan lain setelah dirinya. Super ego itu yang menutup diri dari kolaborasi dan mengabaikan prinsip hubungan mutualisme dengan pihak lain. Itu artinya dia dihukum oleh obsesi diri sendiri yang hanya ingin dikenang sebagai bunga yang indah. Tak boleh ada kelanjutan hidup yang menawan setelah dirinya. Bunga semacam itu mengidap star syndrome. Atau bisa jadi bunga merasa iri kepada buah karena pujian dan cerita akhir hidupnya yang ditulis oleh alam adalah buah dan bukan dirinya.

Ada pandangan lain yang menyatakan bahwa buah adalah hasil konspirasi antara bunga dan kumbang. Namun, kenapa bunga harus melakukan “konspirasi” dengan kumbang untuk menghasilkan buah? Kapan dan melalui komunikasi seperti apa sehingga mereka sepakat membangun sinergi paripurna? Apakah bunga tahu kebutuhan kumbang dan kumbang tahu keinginan bunga untuk diintervensi? Apakah ada hidden connection di antara mereka?

Jika buah merayu dunia dengan keindahan bentuk, warna, dan baunya, maka bunga menawarkan pesona yang lain meski akhirnya memunculkan paradoks pada dirinya. Ingin berkuasa atas perhatian dunia, tetapi di sisi lain, dia merelakan diri untuk mengakhiri hidup. Dia rela mati sebagai korban kegenitannya sendiri, tetapi tidak benar-benar binasa karena dia mencapai tujuan hidup hakiki, yaitu regenerasi.

Buah adalah sebuah konsep arsitektur yang memadukan bentuk, warna, aroma, dan cita rasa yang unik dalam membentuk jati dirinya. Sekaligus sebagai diferensiasi. Dari sekian juta jenis buah-buahan yang pernah ada di bumi, semuanya memiliki perbedaan profil. Satu sama lain tidak ada yang benar-benar sama, baik dari sisi bentuk, warna, aroma, maupun cita rasa.

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Namun, di era budi daya dan konsumerisme, buah banyak yang dipaksa jatuh jauh dari pohonnya dan tersebar dari bakul ke bakul hingga ke kontainer di supermarket dan Hypermarket. Memang dari sekian banyak warga bumi, manusialah yang paling sadis mengeksploitasi kebermanfaatan buah. Bahkan, untuk melampiaskan nafsu keserakahannya, manusia telah melakukan campur tangan dalam proses reproduksi dan rekayasa genetik terhadap pohon dalam menghasilkan buah super dan menciptakan banyak spesies dan varian buah. Spesies dan varian baru itu memiliki volume dan ukuran daging yang lebih besar, daging buah yang lebih banyak, warna yang lebih menarik dan cita rasa yang berbeda dengan aslinya. 

Kita tidak tahu apakah Tuhan marah karena orisinalitas ciptaan-Nya di-’acak-acak’ ataukah Tuhan diam-diam malah memuji kreativitas manusia dengan kehendak bebasnya (free will), melebihi ekspektasi Tuhan saat memberi akal pada manusia? Sudah seharusnya manusia bertanggung jawab menjaga keberlangsungan hidup pohon dan buah-buahan. Kita tidak pernah menyangka mungkin suatu saat kehidupan di bumi ini hasil bauran ciptaan Tuhan dengan kreativitas hasil akal budi manusia?

Kematian yang agung dan terhormat bagi buah adalah jatuh ke bumi ketika memang rantingnya telah lemah dimakan usia dan diayun angin yang menemani hidupnya sepanjang waktu hingga membusuk jadi pesta mikroorganisme.



Tragedi Badut

 TRAGEDI BADUT

Jika saja badut tidak pernah tercipta, manusia mungkin sulit mentertawakan dirinya sendiri saat jiwanya terpuruk menghadapi tragedy. Sehingga, dia harus mencari sesosok karakter jenaka dan misterius untuk dijadikan samsak pelampiasan kegetiran hidupnya.

Sementara kisah hidup badut sendiri adalah sebuah kekonyolan, sebab tokoh yang dimainkannya lebih terkenal dibandingkan dengan pemerannya sendiri, yang bahkan orang tak pernah peduli siapa.

Hanya sedikit manusia yang sanggup mentertawakan diri sendiri saat tertekan oleh penderitaan hidup. Selain itu hal itu membutuhkan keahlian dalam mengelola pikiran, juga membutuhkan keluasan hati. Manusia cenderung menggunakan persona (topeng) dalam bersosialisasi agar tetap terlihat anggun dan sempurna. Penderitaan dan tragedi hidup dianggap sebagai aib yang dapat merusak citra. Seolah kegagalan hidup melahirkan perasaan insecure dan dapat meruntuhkan menara gading yang telah dibangunnya dengan susah payah. Oleh karena itu, tragedi harus disembunyikan rapat-rapat dari mata bengis khalayak. 

Dilansir dari majalah online Bobo.id edisi 7 Juni 2018, Pada sekitar tahun 500 Masehi sampai 1.500 Masehi, di Italia, tercipta sesosok karakter yang jenaka riang, naif, pandir, dan penuh akal serta dijadikan bahan tertawaan. Di Eropa, tokoh badut tersebut dikenal sebagai Arlecchino atau Harlequin. Kedua tokoh badut itu dipopulerkan oleh kelompok teater bernama Commedia dell arte. Lalu, pada abad ke-18 Masehi, kostum badut mengalami perkembangan, bahkan sempat populer di Jerman dan Inggris. Kostum tersebut bisa terkenal karena dandanan dan gaya sang pantomim bernama Pickellherring. Waktu itu, Pickellhering memakai baju dan sepatu gombrong atau kebesaran, penutup kepala warna-warni, serta renda yang melingkar di sekitar leher badut. Badut adalah tokoh non-superhero hasil peradaban manusia yang dikenal dan diterima secara global.

Manusia modern terjebak dalam pusaran persaingan hidup sehingga otaknya selalu dipenuhi dengan strategi dan target-target. Sel-sel otaknya memancarkan arus listrik tegangan tinggi tiada henti. Langkah kakinya seperti pelari sprint untuk mengejar prestasi dan performa dalam membangun citranya. Manusia jadi terlalu serius dalam menghayati peran hidupnya. Jiwanya semakin rentan dikoyak oleh intrik-intrik, persaingan, dan politisasi kehidupan. Untuk itu, manusia butuh representasi untuk mentertawakan dirinya sendiri agar bisa menutupi sari wajahnya yang murung. Make-up badut jadi tameng saat penonton mentertawakan dan mem-bully dirinya. Itu sebabnya setiap sosok yang bertingkah polah menyerupai watak orang lain dijuluki sebagai  badut. Badut tidak peduli hidupnya ditertawakan asal jati dirinya tetap misterius dan berani menerima konsekuensi seorang badut: “Terkenal tanpa diketahui siapa jati diri pemerannya”.

Kenapa pemain badut selalu menutupi jati dirinya? Apakah karena wajah aslinya kurang lucu atau kurang rupawan untuk menciptakan kemeriahan? Atau profesi badut terlalu memalukan sehingga pemeran badut harus menutupi jati dirinya? Mungkin karena merasa tidak aman dan nyaman, maka mereka bersembunyi di balik karakter rekaan itu. Kenapa pula suara dan gerakan badut sangat karikatural, konyol, dan aneh? Mungkin untuk menyembunyikan tangisan dan jeritan hatinya. Kenapa kostum badut dibuat aneh dan penuh warna yang kontras? Mungkin untuk menarik perhatian khalayak bahwa dirinya selalu bergembira dan bersukacita di balik hidupnya yang getir.

Sebagai sebuah pertunjukan, badut telah berhasil mewakili manusia dari kenestapaan agar bisa mentertawakan diri sendiri dan menerima dengan ikhlas setiap kegagalan. Jadilah sutradara bagi kisah hidupmu sendiri. Tetaplah menjadi diri sendiri, apa adanya, tanpa topeng. Biarkan beban hidup merona di jiwa ragamu. Gunakan hakmu untuk menangis karena akan membuatmu jadi manusia semanusia-manusianya. Yang membuat hidup penuh tekanan adalah jika engkau menyimpannya sebagai rahasia dan padahal sebenarnya bukan sebuah rahasia. Kepura-puraan akan membuat hidupmu menjadi badut yang sesungguhnya.


Akar, Sang Pejuang Alam Gelap

 AKAR, SANG PEJUANG ALAM GELAP

 Jadilah cahaya, agar engkau bisa menyusup ke dalam pori-pori daun, melintasi ranting, cabang dan batang. Teruslah mengalir hingga ke ujung-ujung akar agar engkau mengerti bahwa di bawah sana para generasi muda pohon berjuang sebagai ujung tombak. Menembus, menerjang, membentur, dan mengikat tanah, batu, pasir, humus, serta koloni-koloni “alam bawah ” tanah lain yang siap menghadang.

Dengan cara itulah akar membentuk infrastruktur pohon yang sempurna dan kokoh. Itulah sebab akar menjadi bagian yang pertama kali tumbuh dibandingkan anggota tubuh pohon lain sejak mulai kecambah. Perlahan tapi pasti, akar melakukan ekspansi, membentuk fondasi dan kaki-kaki.

Perjuangan sejati pohon bukanlah di atas permukaan bumi, tetapi di dalam tanah, di lorong-lorong gelap dan pengap, tempat akar berjibaku mencari dan menemukan logistik kehidupan. Dalam kegelapan itu, akar membutuhkan lentera dari langit melalui penangkap cahaya mentari bernama daun. Sementara, batang dan ranting menjadi instalasi untuk penghantar nutrisi rezeki. Meski elemen-elemen akar sangat lembut, tetapi ketangguhan dan kekokohannya terletak pada sesuatu yang tak tampak, yaitu daya hidup.

Akar tumbuh ke dalam dan ke samping, membuka cabang-cabang bukan sekadar untuk mendekati logistik makanan, tetapi juga membentuk fondasi bagi tegaknya pohon. Sementara, bagian-bagian yang menyembul di atas permukaan tanah, seperti halnya batang dan ranting, juga tumbuh bercabang-cabang ke atas dan ke samping untuk membentuk keseimbangan yang harmonis dengan akar. Batang, cabang, dan ranting adalah struktur organisasi yang egaliter agar daun-daun tumbuh sebanyak yang dibutuhkan akar untuk dapat menyerap energi matahari untuk membangun infrastruktur kehidupan di kegelapan ruang-ruang bawah tanah. Dunia atas dan dunia bawah saling menyesuaikan diri membentuk bandul keseimbangan. Sebagai habitat, alam bawah tanah dihuni oleh beragam populasi makhluk hidup, mungkin melebihi populasi makhluk yang hidup di atas permukaan tanah.

Hiruk pikuk di atas permukaan bumi mungkin sedahsyat perjuangan yang ditemui akar di bawah sana. Akar yang tampak diam dan luput dari penglihatan, sejatinya sangat sibuk dan penuh persaingan memperebutkan hara dan zat-zat yang dibutuhkan. Daun mengabdi pada akar saat akar meminta di-supply energi dan akar tunduk pada kehendak batang [D2] dan daun saat meminta nutrisi untuk tumbuh dan berkembang.

Akar adalah subsistem dari sistem pohon secara keseluruhan. Sebagai sebuah subsistem, dia memiliki jejaring yang terhubung ke semua bagian dalam sistem pusat. Di samping bertugas mencari makan, akar juga berfungsi sebagai fondasi atau kaki-kaki bagi berdirinya sebuah pohon secara kokoh, tidak sekadar berdiri. Semua pohon memiliki kecerdasannya sendiri dalam membangun infrastruktur akar. Dia bisa mengukur dirinya, sejauh mana dia harus tumbuh, seberapa besar ukurannya, kapan akar baru harus ditumbuhkan, menyebar ke arah mana saja, dan sebagainya. Bentuk dan ukuran akar juga menyesuaikan bentuk ukuran dan tinggi pohon. Inteligensi pohon bekerja saat membangun akar yang paling sesuai dengan dirinya. Memenuhi asas proporsionalitas, baik ukuran dan bentuk.

Ketika dia memiliki batang yang besar, keras, dan tinggi, maka dia memilih untuk memiliki akar tunggang. Ketika ukuran tubuhnya kecil, tidak terlalu tinggi, maka akar menyesuaikan diri menjadi akar serabut.

Jika akar memiliki daya hidup, kepada siapakah dia sebenarnya mengabdi? Dan misi yang dia jalankan selama ini untuk memenuhi visi siapa? Siapa pemilik tujuan akhirnya? Yang jelas, akar telah menjelaskan bahwa ada keterhubungan yang erat tak terpisahkan antara dunia langit (atas) dan dunia bumi (bawah).


Ekstase

 EKSTASE

Aku adalah organisme yang bersemayan dalam pikiranmu. Semakin engkau berpikir, semakin aku berkembang. Semakin engkau lelap, sema,kin aku bereproduksi. Bisakah engkau mencabutnya?

Aku adalah senyawa yang bersemayan dalam kalbumu. Semakin engkau tersenyum, semakin aku membelah diri tak terkendali.  Semakin engkau berpaling, semakin aku menghunjam ke jantungmu. Semakin engkau menjauh, semakin aku merasuki darahmu. Bisakah engkau mengabaikannya?

Aku adalah sari pati kata-kata dari nyanyian jiwamu. Tanpa kaidah, tanpa paradigma. Semakin engkau membacanya, semakin aku bergurindam. Semakin engkau menyangkal, semakin aku menemu habitat. Bisakah engkau mengusirnya?

Aku memabukkan setiap kali engkau menyangkalnya. Tapi tak usah cemas. Umurku seusia kesadaranmu.

Seperti halnya kecerdasan yang menyerang pusat kendali logika, aku menyerang di sisi sebelahnya, yaitu hati. Aku memiliki magnet yang melekat pada paras, suara, bahasa, atau pada otot-otot motorikku. Dan aku memahami sepenuhnya bahwa hati manusia seperti spons yang mengisap citra yang memancarkan pesona di luar dirinya. Maka, ketika cahayaku menerobos ke jantung hati, aku akan melumpuhkan daya nalar. Dari situ medan magnetku bekerja menyedot energi daya hidup mereka. Mereka mabuk kepayang, melayang dibuai halusinasi dan perlahan akan mengganggu cara kerja pikiran sepanjang kesadarannya. Yang lebih dahsyat adalah ketika mereka menutup diri dari sumber kebenaran atau keindahaan lain. Pikiran akan berhenti mencari referensi lain yang ada di luar keyakinan dan pengaruhnya. Hatinya menutup diri dari figur lain-lain yang mungkin lebih baik  dari aku, sang idolanya. Apa pun yang aku ucapkan akan diikuti. Apa pun yang aku lakukan akan dibela mati-matian. Mereka benar-benar menjadi pasukan buzzer dan laskar militan untuk melindungi auraku.

Yang aku lumpuhkan adalah daya kritis otak. Energi untuk mengeksplorasi dan mempertanyakan hakikat sebuah eksistensi untuk mendapatkan ilmu atau informasi hal-hal baru lenyap. Daya pikat aura bekerja seperti sebuah dogma, akan mengunci pintu cangkangnya. Kenapa daya pikat aura bisa menghilangkan daya kritis? karena orang yang telah meyakini suatu hal tidak akan mencari informasi lain dan menghindari informasi yang tidak relevan, apalagi yang bertentangan. Proses belajar yang biasanya untuk menambah insight baru[D1] , digunakan untuk fokus mendalami satu hal yang hanya mempertebal keyakinan mereka. Semua gagasan atau pesona di luar keyakinannya adalah nonsense. Tanpa disadari, mereka telah menjadi seperti robot yang bergerak sesuai program. Inilah gambaran ekstrem daya pikat sebuah aura.

 Aku tak akan dipenjara karena seseorang rela mati membela citra dan auraku. Aku juga tidak bisa dihukum karena seseorang terbunuh demi mempertahankan pikiran dan ideku. Kecuali jika aku dengan kesadaran penuh, memperdaya ‘umat’ku dengan magnet auraku untuk keuntungan yang tidak sinergis  dan harmonis.

Aura adalah paradoks, di satu sisi bisa menggerakkan massa untuk menyebarkan hal yang baik, di sisi lain bisa membuat massa  pengikutku menjadi pasukan gurkha yang siap mempersembahkan nyawanya  demi membela dan mempertahankan gagasan dan tindakan sang idola. 

Oleh karena itu, wahai engkau yang memiliki aura yang menyihir, kelolalah auramu  dengan bijak,  bening, dan rendah hati  agar anugerahmu dapat mencerahkan banyak orang. Biarkan mereka membentuk mata rantai cinta kasih. Bukan malah melahirkan kumpulan orang-orang militan dan perisai hidup bagi kepentinganku sendiri. Sudah banyak contoh seorang idola di akhir cerita dihinakan oleh penggemarnya sendiri karena sang idola mengalami star syndrome, berlagak layaknya ‘dewa’. Sadarkan mereka untuk menghormati keunikan  kepribadian mereka sendiri.

Melayanglah menikmati karya-karya sang idola, tetapi tetap ‘eling lan waspodo’.


Jadilah Martir atas Dongengmu Sendiri

 JADILAH MARTIR ATAS DONGENGMU SENDIRI

Sering kau saksikan, orang jujur merana seumur hidupnya

Sementara para penjahat hidup sejahtera bergelimang harta hingga akhir hayat

Apakah lantas menggangu keimananmu dan mengubah moralitasmu ?

 

Sering kau temui, kesetiaan berbalas pengkhianatan

Sementara para pendusta hidup tentram dan bahagia hingga menutup usia

Apakah lantas mengganggu keyakinanmu dan mengubah nilai-nilaimu ?

 

Sering kau saksikan, kebaikan dikalahkan oleh kejahatan,

Sementara para bromocorah hidupnya penuh penghormatan hingga ajal menjemput

Apakah lantas menggangu kebajikanmu dan mengubah akal sehatmu ?

 

Jika demikian,

Periksa kembali dongengmu

Dongeng yang selama ini membekap kebebasan dan kesadaranmu

Dengeng yang menjadikanmu martir demi keabadian dongengmu sendiri

Jika tak mampu,  ya sudah, telan saja takdirmu

ALTAR

 ALTAR

 Wal ‘Asr

Demi masa,

Sungguh, manusia berada dalam kerugian,

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (Surat Al Ashr).

 -----

Demi masa,

Yang melesat diantara notasi kidung-kidung cinta

Sesungguhnya manusia senantiasa dirundung dukacita

Kecuali insan-insan yang berkhitmad mengamalkan laku brata serta menebar kemuliaan bagi sesama dan semesta

Demi masa,

Yang menghantar getar-getar doa ke altar sang Ilahi   

Sesungguhnya manusia dilanda nestapa tak terperi

Kecuali insan-insan yang bertafakur dalam kerendahan hati

Serta saling menebar harum budi dan empati


Bingkai

 BINGKAI

Adakah insan yang benar-benar setia mendengarkan suara hati dan keresahan jiwamu di sepanjang ruang dan waktu, sementara mereka disibukkan dengan kebisingan pikiran mereka sendiri? Mungkinkah antar-batin dapat terkoherensi secara sempurna di atas bentangan jarak fisik dan psikis?

Begitu indah tutur kata yang engkau persembahkan kepada insan tambatan hatimu. Begitu lembut perilaku yang engkau tunjukan kepada pribadi yang kau kasihi. Begitu besar penghormatanmu kepada individu yang engkau hormati, sementara kepada dirimu sendiri engkau sering alpa melakukannya. Padahal kebersamaanmu dengan orang lain tidak lebih sering dari kebersamaamu dengan diri, hati, dan jiwamu sendiri yang ber-fusi membentuk eksistensimu. Mungkin hanya sesekali engkau menyapanya, di
saat napasmu terengah-engah dan menggelepar ditikam sunyi dan pilu. Percayalah, semakin abai engkau menyapa hatimu, semakin engkau menjadi sosok asing bagi jiwamu sendiri.

Hal yang jarang disadari oleh manusia adalah bahwa resonansi suara hati justru sering menggema dalam relung kalbu, ketimbang getar suara dari luar. Demikian juga interaksi dengan diri sendiri, frekuensinya jauh lebih rapat dibandingkan interaksi dengan orang lain. Penyebabnya, bahwa berbicara dan berinteraksi dengan orang lain membutuhkan mitra atau ‘lawan’ dialog sehingga selalu ada gap ruang dan waktu. Sementara, berbicara dengan diri sendiri bisa dilakukan di setiap kesempatan dan di setiap tempat. Hanya saja kita sering lalai, sampai tiba masa kita terenyak dirundung masalah.  

Disadari atau tidak, semua orang, dengan berbagai level sosial, sering berbicara dengan diri sendiri. Para filsuf berbicara dengan dirinya sendiri saat memikirkan hakikat kehidupan melalui lontaran pertanyaan seputar misteri kehidupan yang berkecamuk dalam otaknya. Output-nya adalah konsep dan teori. Para ilmuwan dan scientist membutuhkan perenungan yang dalam melalui proses berpikir yang kritis untuk membuat lompatan imajinasi dan menemukan relasi antara tesis, antitesis, dan sintesis. Para musisi berkonsentrasi penuh menyelaraskan ide, rasa, dan logika untuk menyusun notasi dan lirik indah dalam bingkai sebuah lagu.  Para pelukis membiarkan pikirannya melayang-layang memburu tema, warna, dan bentuk yang dikombinasikan dengan indah di atas kanvas.

Jadi, sejatinya setiap orang berbicara dengan diri sendiri, terutama ketika melakukan aktivitas yang membutuhkan perenungan mendalam, yang melibatkan pikiran dan hati. Proses itu bisa dilakukan selama kesadaran manusia terjaga. Artinya, orang yang kehilangan kesadaran, baik permanen maupun sementara, tidak dapat melakukan aktivitas ini. Mereka adalah orang gila, orang mabuk, orang tidur, atau orang pingsan. 

Begitulah inti sari dari semua tulisan dalam buku ini. Penulis menggunakan istilah SENANDIKA karena kata tersebut berasal dari Bahasa Indonesia, tetapi jarang digunakan oleh masyarakat, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Senandika mirip dengan monolog, tetapi untuk lebih jelasnya perlu kita lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia. Senandika berarti wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar.

Arti senandika yang lebih gamblang dijelaskan juga oleh @karyasastraku pada website Wattpad. Senandika adalah bentuk buah pikiran kita tentang segala hal yang mengusik hati dan pikiran atau bentuk curahan hati yang diurai sedemikian indahnya hingga orang yang membacanya bisa merasakan perasaan duka dan suka yang kita tulis.

Ada sedikit kesamaan antara senandika (lebih kental bernuansa sastra) dengan self-talk (perspektif psikologi). Dikutip dari laman Healthline, self-talk adalah dialog internal pada diri sendiri yang dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar dengan mengungkapkan pikiran, pertanyaan, serta gagasan, yang diucapkan dalam hati atau disuarakan secara lantang sehingga menjadi sugesti bagi diri sendiri. Self-talk membantu diri sendiri menjadi lebih sadar dalam berpikir, merasa, dan bertindak.

Dalam ilmu manajemen, inti sari dari senandika mungkin serupa proses evaluasi untuk mengukur kinerja, mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi dan menyusun rancangan solusi untuk tindakan perbaikan. Senandika juga memiliki kemiripan dengan meditasi dan kontemplasi, yaitu renungan dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh; Menurut Arthur Christopher Benson, Kegembiraan semua misteri adalah kepastian yang datang dari kontemplasi mereka, bahwa ada banyak pintu bagi jiwa untuk membuka jalan ke atas dan ke dalam dirinya. Karena itu, orang yang melakukan kontemplasi biasanya menemukan kedamaian hati, menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi, menghasilkan karya, baik karya seni, karya ilmiah, atau karya bersifat fisik lainnya.

Namun, senandika yang dimaksud penulis dalam buku ini lebih dekat dengan pengertian dari gabungan dua kata tafakur dan tadabur. Dilansir dari website IslamPos, disampaikan bahwa menurut para sufi, tafakur adalah cara untuk memperoleh pengetahuan tentang Tuhan dalam arti yang hakiki. Para ulama mengatakan bahwa tafakur itu ibarat pelita hati, sehingga dapat terlihat baik dan buruk maupun manfaat dan mudarat dari segala sesuatu.

“Sesungguhnnya semua manusia diperintahkan untuk bertafakur menerenungkan tanda-tanda atau fenomena-fenomena alam ciptaan Tuhan, agar timbul kesadaran bahwa di balik itu ada dzat yang mahakuasa, yang mahaagung, dan yang mahabijaksana yaitu Sang Pencipta, Allah SWT.”

Sedangkan tadabur adalah suatu gambaran penglihatan hati terhadap akibat-akibat segala urusan. Baik tafakur maupun tadabur, keduanya sama-sama dilakukan dengan menggunakan mata hati. Bedanya, tafakur dilakukan untuk meneliti dalil atau indikator segala sesuatu hal, sedangkan tadabur dilakukan untuk meneliti akibat-akibatnya.

Sedangkan makna dari penggunaan kata “Bunga Rampai” adalah keberagaman tema tulisan yang tersaji dalam buku ini, membentuk mozaik hikmah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata bunga rampai adalah beberapa jenis bunga harum yang dicampur. Arti lain dari bunga rampai adalah kumpulan lagu pilihan atau kumpulan karangan atau cerita pilihan.

Buku ini menyajikan 30 tulisan pendek dengan tema yang berbeda-beda, tetapi memiliki kesamaan dalam menggali hakikat kehidupan dan keagungan Sang Pencipta.

Mengingat senandika atau sedang berbicara dengan diri sendiri, maka gaya penulisan yang disajikan oleh penulis menggunakan kata aku, engkau, atau mereka dan dialognya kadang bersifat imajinatif, tetapi esensinya tetap mengacu kepada kebenaran, kebaikan, atau keindahan.

Ayo, berbicaralah dengan diri sendiri secara berkala untuk mengoptimalkan sumber daya diri yang dahsyat, tetapi masih tertutup tabir keraguan. Peluklah dirimu sepenuh jiwa. Mumpung sedang berbicara dengan diri sendiri, kita bebas menentukan tema, format, kaidah, panjang pendek tutur senandika sesuai dengan ide dan kegalauan pikiran yang selama ini berkecamuk dalam hati dan pikiranmu.