Minggu, 30 Juli 2023

Kucing-kucing Kota

 Kucing-kucing kota

Kucing-kucing kota semakin liar karena tak lagi bisa menutupi tainya dengan pasir atau tanah. Kuku-kuku mereka telah tumpul dan terluka akibat mengorek-ngorek aspal, trotoar, pavingblock dan keramik yang menutupi megahnya lantai kota.

Kucing kucing liar tak mengenal pasir sintetis yang harum. Lalu berak disembarang tempat dan menyerang rongga hidung warga kota para penguasa mata rantai tertinggi makanan.

Lalu manusia terjebak dalam dilemma ledakan populasinya kucing-kucing liar. Undang-undang, kitab suci dan nilai universal membimbing pikiran dan hati manusia mengasihi kucing dan binatang peliharaan lain.  Menganggap mereka sebagai hama adalah sebuah kejahatan.

 


 

Dedari

DEDARI

Dedari,

Jika logika  tak mampu menentang  hasrat

Lalu, siapa yang bisa menahan magma, kecuali letusan?

Cintaku dalam radius pesonamu tak mungkin dijinakkan

Karena sia-sia meredam gejolak dengan akhlak

Saat takdir tlah mengkristal dalam prosesnya
Jiwaku tak mungkin tersesat menjelajah rimba hatimu

K’rena cinta melampaui peta akal budi

 Dedari,

Jika ilmu tak kuasa memasung emosi

lalu, siapa yang bisa nahan awan kelam, kecuali hujan badai?

Cintaku dalam  medan auramu tak mungkin dibelenggu

Karena sia-sia merayu gelisah dengan kaidah

Saat sejarah tlah tercatat  pada lembar kala

Jiwaku tak mungkin lelah arungi samudra birumu

k’rena rindu melampaui daya obsesi apapun

 

Dedari,

Jika naluri tlah menyatu dengan semesta

Lalu, siapa yang bisa menahan benih yang jatuh di habitatnya,

kecuali kehidupan ?

Cintaku dalam rahimmu tak mungkin dimandulkan

K’rena Sia-sia ingkari hukum kodrati dengan etika

Saat daya hidup t’lah menggeliat di antara dua hati

Sukmaku tak mungkin berhenti menari di cakrawala cintamu

k’rena kidung ilahi akan membimbing sukmaku menari-nari

 

Dedari,

meski nyata dan maya kini senada

lalu doa tahajutku menjelam puisi tutur-lakumu

maka, maknailah itu sebagai kekhusukan sembahyangku


Pulang adalah Energi Rindu

PULANG ADALAH ENERGI RINDU


Pulang adalah nama lain dari Rindu
Jika kita tidak memiliki rindu, kita tidak mungkin akan pulang.
Ketika kita pulang, kita hendak menunaikan rindu.
Ketika kita menikmati suatu keberangkatan, sebenarnya disaat yang sama kita sedang  merencanakan sebuah “penderitaan”, yaitu Rindu.
Kebahagiaan saat kita pulang, jauh lebih tinggi nilainya dibanding dengan kebahagiaan saat kita menikmati keberangkatan.

Jiwa sebebas apapun membutuhkan rumah  untuk merindu.
Kemanapun jiwa pergi selalu menghendaki pulang,

nol kilomer keberangkatan adalah rumah kita.
Hati setegar apapun selalu memiliki orbit utk mengikat rasa dengan orang yang dicintai.

Maka wahai  para pencinta, bergegaslah berangkat dengan suka cita.
Karena berangkat akan mengantarkan hatimu untuk pulang.

Maka, wahai sang kekasih, jauh di seberang sana,

cintailah pulang, karena pulang  adalah penunaian hak terhadap rindu.
Maka wahai engkau sang pelipur hati, jauh di seberang sana,

cintailah pulang, karena pulang sebuah pertanggungjawaban moral yang indah dan syahdu.
Namun
jangan pergi, karena pergi berbeda dengan berangkat

pergi adalah meninggalkan, seperti anak panah yg melesat jauh ke depan dan tak pernah akan kembali.

Jika hatimu tak mengenal pulang, Jika jiwamu membenci pulang,

percayalah, engkau akan dirundung sepi yang mencekam tak terperi.
Aku ingin pulang, merayakan rindukan dengan air mata bahagia

Karena pulang adalah energi yang dikendalikan rindu


Vientiane, Laos, 15 Juli 2012

Hikayat Rumah

 HIKAYAT RUMAH

Rumah adalah panggung terakhir di mana sandiwara kita hentikan.
Tempat mengistirahatkan persona  pribadi dari khalayak.

Tempat melepas topeng kemunafikan yang membuat pengap jiwa

menelanjangi diri dari asesoris budaya

Sambutlah seadanya dirimu

 

Rumah bukan sekedar seonggok bangunan kaku, diam dan dingin

Dia  layaknya  individu yang memiliki ikatan emosional dengan penghuninya,

Tempat bebas bermain  dengan riang gembira

menampung segala suka dan duka penghuninya.

Dia adala catatan harian kisah hidup penghuninya

Karena rumah adalah tempat hati berada


Rumah adalah lambang kesetiaan,

Harta pertama yang ingin dimiliki sepasang kekasih setelah menikah

Sebagai tempat ikrar kesetiaan dan kebersamaan diwujudkan

Menjalani hidup penuh cinta menanti buah hati

Karena Rumah tempat suci meneruskan generasi

 

Rumah adalah tempat hati paling nyaman untuk bernaung
membuang letih selepas  mencari nafkah atau menuntut ilmu,

Saat jiwa terkapar ditikam persoalan hidup,

rumah menjadi  tempat yang tenang untuk menangis

tempat proses penyembuhan  hati dari penderitaan.

 

Rumah adalah tempat merayakan pencapaian prestasi

 berbagi suka cita mencapai kesuksesan

Rumah adalah tempat perayaan paripurna sebuah pencapaian dan prestasi
Saat kita penat dan lelah berkarya, rumah
adalah tempat penyembuhan

 

Rumah juga habitan yang subur untuk membangun mimpi,
Saat kita menempuh perjalanan panjang,

rumah menjadi tempat tujuan pulang


Ini adalah rumah kami yang bapak dan ibu pejuangkan

 untuk membangun keluarga yang hangat
Dibangun secara swadaya dibantu oleh kerabat dan tetangga.
Rumah Kecil sederhana tapi penuh harapan.

Berdinding setengah tembok,setengahnya lagi gedeg.
Berlantai tanah.

Pelan-pelan rumah itu tumbuh bersama tumbuhnya harapan
Kami merenovasi sendiri rumah itu. Bapak dan tiga anak-anaknya bujangnya

Meski tanpa pengalaman, dan pendidikan khusus, akhirnya kami bisa membangun seluruh dinding dengan tembok dan  berlantai ubin.

Memiliki beranda rumah tempat kami bersendagurau. Membangun taman dan tanaman didepan rumah yang rindang dan asri
Secara fisik, rumah ini terasa sempit, tapi dengan hati yang damai para penghuninya, rumah ini terasa luas, menghangatkan dan menyejukkan Semua karena cinta.

Rumah adalah tempat kita pulang

Pendapat dan Harga Diri

 PENDAPAT VS HARGA DIRI

 

Banyak orang menyamakan antara pendapat dengan harga diri. Contohnya, pada saat pendapatnya diserang, seseorang merasa itu adalah penyerangan terhadap harga dirinya, padahal antar pendapat dan harga diri dua hal yang berbeda.

 

Tampaknya ini hal yang sepele, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru  masalah ini sering terjadi dan menjadi sumber konflik atau pertikaian yang bisa berbuntut panjang, baik antar anggota keluarga, antar teman, antar kolega atau mitra bisnis.  Perdebatan  tentang suatu gagasan atau pendapat sebenarnya hal yang wajar, tetapi jika salah satu pihak merespon perdebatan secara emosional dan out of context, bisa menjadi masalah yang berkepanjangan. Masing-masing pihak tidak lagi focus membahas pokok persoalan tetapi tetapi saling serang secara individu di luar pokok persoalan. Ini adalah buntut dari kesalahan pandangan orang  yang tidak bisa membedakan antara pendapat dengan harga diri.

Kritikan terhadap suatu pendapat atau gagasan adalah untuk menguji kebenaran pendapat tersebut, bukan untuk melecehkan hrgadiri. Meskipun perceksokan itu bisa saja disebabkan pengeritiknya yang bermasalah, tidak mengindahkan kaidah dan etika. Kenapa kita sering terjebak dengan permasalahan seperti ini, yaitu menyamakan pengertian antara pendapat dengan harga diri ? Mungkinkah karena setiap pendapat selalu memiliki alasan personal, atau terkait dengan kepintaran atau kecerdasan seseorang, sehingga  sering dikait-kaitkan dengan harga diri. Padahal sesungguhnya pendapat dan harga diri memiliki perbedaan yang esensial.

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendapat adalah buah pemikiran atau perkiraan tentang suatu hal (seperti orang, peristiwa). Atau bisa juga dikatakan kesimpulan sementara yang diyakinin seseorang tentang suatu hal atau peristiwa berdasarkan  asumsi dan pendekatan tertentu sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang diketahui atau dikuasainya. Oleh karena itu, karena masih perkiraan atau kesimpulan sementara, maka semua pendapat terbuka untuk dikoreksi, dikeritik atau diberi masukan  agar pendapat  itu menjadi lebih tepat, lengkap.  

 Sementara harga diri bukanlah semata-mata soal kepintaran berpendapat. Untuk memahami pengertian harga diri dengan tepat, penulis melansir beberapa pendapat dari situs psikologi popular PsikologiHore!, sebagai berikut :

1.      Coopersmith (dalam Ainur, 1997) menjelaskan bahwa harga diri adalah evaluasi yang dibuat individu mengenai sesuatu yang berkaitan dengan dirinya, yang diekspresikan dalam suatu bentuk sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan bahwa individu tersebut meyakini dirinya sendiri sebagai individu yang mampu, penting, dan berharga.

2.      Blascovich dan Tomaka (dalam Coetzee, 2005) menyatakan bahwa harga diri adalah komponen evaluatif dari konsep diri, representasi diri yang lebih luas sehingga mencakup aspek kognitif dan behavior yang bersifat menilai dan afektif.

3.      Roman (dalam Coetzee, 2005) menyatakan bahwa harga diri sebagai suatu kepercayaan diri seseorang, merupakan patokan untuk sesuatu yang terbaik bagi diri sendiri, dan bagaimana melakukannya.

4.      Clements dan Bean (1995) mengungkapkan bahwa harga diri (self-esteem) adalah penilaian-penilaian seseorang tentang dirinya sendiri dari berbagai perspektif

Dari beberapa pendapat tersebut di atas, penulis menyimpulkan bahwa harga diri (self esteem) adalah nilai-nilai yang dipengang dan diyakini seseorang  tentang kondisi dan keadaan dirinya  berdasarkan hasil evaluasi dirinya dari berbagai aspek seperti pengalaman, keyakinan, persepsi, opini, kelebihan dan keterbatasan yang dimilikinya. 

 Perbedaan mendasar antara pendapat dan harga diri adalah bahwa subjek atau pokok persoalannya dari pendapat adalah gagasan atau ide seseorang, sedangkan pada harga diri, subjek atau pokok bahasannya adalah kualitas diri yang sudah diyakini dan melekat pada diri seseorang.

 Jika kita focus pada kedua esensi tersebut, maka seharusnya kita bisa bersikap dengan tepat dan bijak saat pendapat kita diserang atau didebat oleh orang lain. Karena pendapat bersifat kesimpulan sementara atas suatu masalah sebaiknya kita memisahkan diri dengan harga diri. Sehingga kit akita bisa open mind, menerima msukan dan kritikan.

 Sementara terhadap harga diri kita juga perlu menyikapinya dengan tepat. Karena harga diri memiliki banyak variable. Secara garis besar terbagimenjadi dua yaitu : variable yang bersifat given, pembawaan sejak lahir dan variable yang bisa dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Untuk variable yang dibawa dari lahir  (kelebihan atau kelemahan) penyikapannya  bisa berbeda bagi setiap orang. Di balik kekurangan yang ada pada diri kita terkandung kelebihan atau kesempatan yang bisa dikembangkan menjadi kekuatan.  Sedangkan factor-faktor pembentuk harga diri yang bisa dibentuk atau dikembangkan, menjadi tanggung jawab diri sendiri untuk meningkatkannya.

 Untuk lebih jelasnya, perlu dipaparkan secara detail factor-faktor yang membentuk harga diri. Dilansir dari situs psikologi popular : Psikologi Hore! Dijelaskan factor-faktor pembentuk harga diri, sebagai berikut :

 1.      Usia : Setiap manusia punya fase perkembangan dari anak, remaja, dewasa awal, dewasa madya, sampe lanjut usia. Setiap fase ini punya rentang usia, dan rentang usia ini berperan dalam self esteem. Dari sebuah penelitian tentang hubungan self esteem dengan usia, disebutkan bahwa harga diri cenderung menurun di masa remaja, meningkat di usia 20 tahun, mendatar di usia 30meningkat di rentang 50-60 tahun dan menurun di usia 70 dan 80 tahun. Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 326.641 responden, dengan rentang usia 9 sampe 90 tahun. sumber: Journal of Psychology and Aging

2.      Jenis Kelamin : Dari hasil penelitian tersebut juga menunjukan indikasi bahwa secara rata-rata harga diri cowok lebih positif dibandingkan cewek. Tapi, Major dkk (dalam Baron, Branscombe, & Byrne, 2008) menekankan bahwa perbedaan harga diri pada laki-laki dan perempuan keliatan signifikan pada kelas sosial menengah ke bawah. Untuk kelas profesional atau menengah ke atas, perbedaan harga diri ini nggak berbeda signifikan. Jadi faktor jenis kelamin  bukan merupakan faktor pembeda yang kuat.

3.      Keluarga : Keluarga yang harmonis bisa meningkatkan harga diri seseorang. sumber: quietrev.com.  DeHart, Pelham, dan Tenne (dalam Baron, Branscombe, & Byrne, 2008) menyatakan bahwa Seseorang yang dibesarkan dalam keluarga dengan kasih sayang yang besar, memiliki harga diri yang lebih positif dibandingkan dengan seseorang yang dibesarkan kurang kasih sayang.

4.      Kondisi Fisik : Coopersmith (1967) menyatakan bahwa orang dengan daya tarik fisik tinggi cenderung memiliki harga diri lebih baik dibandingkan orang dengan kondisi fisik kurang menarik. Individu yang merasa dirinya berpenampilan menarik akan merasa baik terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya, cacat fisik yang mencolok bisa membuat seseorang merasa rendah diri (Hurlock, 1990). Hal ini berbeda-beda pada tiap orang ya.

5.      Tingkat Pendidikan : Semakin rendah tingkat pendidikan seseorang, semakin rendah pula harga dirinya. Sebaliknya, semakin tinggi tingkat Pendidikan seseorang akan semakin meningkatkan kepercayaan diri dan sekaligus harga dirinya. (Hasil Penelitian Bulut, Gurkan, dan Sevil (dalam Ilmaz dan Baran, 2010)

6.      Penghasilan : Penghasilan yang tinggi dapat meningkatkan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri, sehingga semakin meningkatkan harga diri seseorang. Menurut Baruch, Barnett, & Rivers (1983),

7.      Teman Dekat : Seperti sebuah pemeo, Temanmu adalah cerminan dirimu. Artinya, kualitas hidupmu saperti atau setara dengan teman-teman dekatmu. Semaikn baik, positif dan prestatif teman-teman dekatmu akan meningkatkan harga diri seseorang. Begitu sebaliknya.

8.      Kompetensi : Semakin tinggi kompetensi seseorang, semakin tinggi harga dirinya. Ada tiga kompetensi yang mempengaruhi harga diri: kompetensi akademis, kompetensi sosial, dan kompetensi kerja. (Herter dalam Bitar, 2004)

9.      Dukungan Sosial dan Emosional : Memiliki dan berada di tengah-tengah orang yang mengasihi dan mendukung dan saling melindungi membuat kepercayaan  diri seseorang meningkat. Rasa aman dan nyaman itu lah yang meningkatkan harga dirinya.

10.  Kekuasaan : Ketika seseorang mampu mengontrol perilaku orang lain, dan diakui oleh orang lain, dia akan merasa punya kekuasaan (power). Kekuasaan inilah  yang meningkatkan harga diri orang tersebut (Mengantes, 2005).

11.  Kebajikan : Ketika kita berbuat baik, ada rasa kesenangan dan kebahagiaan yang muncul dalam diri. Ini menyangkut moralitas dan nilai kemanusiaan dan setiap perbuatan baik dan bijak mendapaat ganjaran dan direstui oleh Tuhan sesuai dengan kepercayaannya. Dan Itu yang bisa meningkatkan harga diri seseorang.

Setelah kita memahami pengertian harga diri secara mendalam, maka untuk bisa membedakan dengan pendapat, perlu ditegaskan tentang factor-faktor yang membentuk sebuah pendapat atau gagasan yang rasional atau logis mengikuti aturan kaidah-kaidah umum.

Pendapat adalah sebuah proposisi, yaitu kalimat pernyataan yang memiliki arti penuh dan utuh. Hal ini berarti suatu kalimat harus dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar tidaknya. Singkatnya, proposisi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang dapat dinilai benar atau salah  (sumber Wikipedia). Proposisi adalah bagian dari silogisme, yang memiliki arti sebagai suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Sebagian para ahli logika menyebut silogisme sebagai penyimpulan tidak langsung (immediate inference), karena dalam silogisme menyimpulkan pengetahuan baru yang kebenarannya diambil secara sintesis.

Dalam forum-forum ilmiah mempersoalkan dan memperdebatkan atau menguji suatu pendapat atau teori adalah sesuatu yang biasa dilakukan untuk menguji kebenaran hipotesa dengan data-data yang relevan. Dan tentu semua peserta diskusi ilmiah harus memenuhi persyaratan level Pendidikan tau taraf berfikir yang rasilonal dan ilmiah.

Permasalahan yang sering timbul biasanya terjadi di luar forum akademis, dimana perdebatan sering kali menimbulkan perselihsihan. Pendapatnya diserang, dikritisi atau diuji menyulut emos, karena dianggap sebagai serangan terhadap harga diri. Ini tentu terkait dengan kematangan seseorang dalam membangun harga dirinya. Ada tiga fase pembentukan harga diri seseorang seperti yang dilansir pada situs psikologi popular, sebagai berikut : Hal ini dipengaruhi oleh harga diri setiap norang. Ada tiga tipe harga diri, yaitu :

a.    Harga diri terpecah adalah ketika seseorang merasa tidak berharga. Pada fase ini, pada umumnya seseorang sulit untuk diajak berdebat, karena tidak memiliki keterampinan atau pengetahun atau kepercayaan diri.

b.    Harga diri rapuh ketika di luar tampak pede, sebenarnya tidak. Pada fase ini, pada umumnya seseorang biasanya sensitive menerima kritikan dan merasa in-secure.

c.    harga diri kuat ketika di luar dan di dalam benar-benar percaya diri. Pada fase ini biasanya orang merasa lapang data dan pikiran terbuka untuk menerima kritikan atau saran.

Oleh karena itu, agar kita tidak terjebak pada permasalahan konyol ini sebaiknya kita meningkatkan kualitas dari setiap variable yang membentuk harga diri, sebab ; Orang dengan harga diri tinggi merasa nyaman dengan diriny; mampu menerima realita dan kuat menghadapi masalah; mampu menerima orang lain apa adanya; merasa cuek atau tidaki perduli  dengan penilaian orang lain serta tidak gampang tersinggung.

Tapi ini kondisi ideal. Dalam realitanya probabilitas menemukan orang yang memiliki harga diri tinggi mungkin tidak banyak. Untuk itu kita perlu mengembangkan kiat-kiat ada merubah strategi atau paradigma yang bisa dikembangkan untuk menghindari perdebatan suatu pendapat menjadi konflik atau pertengkaran, misalkan sebagai berikut :

a.      Saya tidak ingin berdebat, tapi ingin menyatukan dan melengkapi  ide dari beberpa pendapat.

b.      Saya tidak ingin berdebat, karena tidak ingin menemukan kebenaran atau kesepakatan dengan cara saling berbantah-bantahan.

c.       Saya tidak ingin berdebat, karena saya ingin menemukan solusi bersama.

d.      Saya tidak ingin berdebat, karena tidak ingin melukai perasaan untuk mencapai kesepakatan.

e.      Saya tidak ingin berdebat, karean ada cara lain mencapai kesepakatan  yang lebih damai dan efektif.

f.        Saya tidak ingin berdebat, karean ingin berkolaborasi dengan mitra diskusi.

g.      Dan lain-lain

Demikianlah, banyak jalan menuju roma.

 

Zoom in Zoom out

 ZOOM IN VS ZOOM OUT

Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Padahal, mata batin kita sesungguhnya sangat elastis, bisa mengarah ke dalam lebih  dekat dan melibatkan diri  atau mengarah ke luar dan mengambil jarak dari setiap perkara.

Begitu banyak peristiwa atau informasi yang melintas di sekitar kita, baik yang berhubungan langsung dengan kepentingan atau kehidupan kita, maupun kejadian yang sama sekali tidak berhubungan langsung dengan kehidupan atau kepentingan kita. Ada juga kejadian yang berhubungan dengan kehidupan kita, tetapi tidak secara langsung. Peristiwa-peristiwa atau informasi-informasi itu setiap hari datang silih berganti dalam jumlah yang melimpah dari berbagai sumber, antara lain kejadian yang kita alami sendiri di rumah, di lingkungan, di kantor, atau di komunitas lain. Atau informasi yang datang dari media mainstream seperti radio, televisi, dan surat kabar. Apalagu  dari media sosial yang dengan mudah diakses di handphone kita kapan saja dan dimana saja.

Dari fenomena di atas, masalah yang paling esensial adalah apakah kita harus melibatkan diri atau mengonsumsi semua peristiwa atau informasi tersebut? Tentu saja tidak, karena kita memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Dalam keterbatasan itu, tentu kita dipaksa untuk memilih dan memilah peristiwa atau informasi apa saja yang perlu kita konsumsi atau libatkan diri di dalamnya. 

Bayangkan jika kita harus melibatkan diri dengan semua persoalan di luar diri kita yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan kepentingan atau kebutuhan kita. Pasti hidup kita menjadi sangat gaduh dan sibuk, tentu akan menguras emosi dan perasaan. Padahal itu semua belum bermanfaat atau tidak mendukung dengan upaya pencapaian target hidup kita atau tidak menguatkan kesuksesan peraihan minat dan bakat kita. Waktu kita berlalu dengan sia-sia dan dalam jangka panjang akan membuat hidup kita menderita, jauh dari prestasi dan kesuksesan yang kita harapkan.

Coba bayangkan, apa yang terjadi di Amerika kita ikut-ikutan memikir. Kejadian di Timur Tengah kita ikut uring-uringan. Peristiwa di Cina emosi kita ikut meleda. Skandal segitiga artis kita ikut baper, kasus KDRT yang menimpa orang yang tidak kita kenal kita ikut cawe-cawe dan ikut berkomentar, mendukung atau menghujat dan begitu juga dengan ribuan peristiwa yang terjadi di setiap saat. Padahal kejadian-kejadian itu tidak berhubungan dan tidak memiliki manfaat langsung dengan kepentingan kita. Sementara terhadap peristiwa itu kita tidak bisa mengubah keadaan. Kita sendiri tidak kurang-kurangnya memiliki persoalan atau urusan yang harus dicarikan solusi. 

Sering kali kita terjebak atau malah melibatkan diri dengan permasalahan orang lain atau mengonsumsi informasi yang sama sekali tidak terkait langsung dengan kebutuhan. Namun, kenapa kita akhirnya terjebak dalam arus informasi yang demikian? Seolah kita dibius dan bahkan menikmati informasi semacam itu seperti sedang kecanduan. Mungkin karena teknik penyajian informasi atau hiburan itu begitu canggih, memadukan audiovisual menggunakan aplikasi canggih. Itu yang menyebabkan hiburan dan informasi menjadi sangat menghibur dan punya daya pikat yang tinggi. Kita hanyut, tertawa, berdecak kagum, bahkan menghanyutkan perasaan. Saking asyiknya, kita tidak sadar waktu 24 jam kita lewati dengan sia-sia. Tidak ada waktu tersisa untuk mengembangkan diri, melakukan hal-hal yang terkait dengan target pribadi.

Terhadap informasi yang kurang bermanfaat, mestinya kita melakukan zoom-out. Artinya kita mengambil jarak, tidak melibatkan diri, dan membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran untuk mengonsumsi informasi dan peristiwa tersebut. Jika hal itu diterus-teruskan, Anda akan menemukan diri menjadi tua dalam kondisi merana, tidak menjadi siapa-siapa dan bukan apa-apa. Dengan melakukan zoom-out, kita bisa melihat big picture dan posisi dari peristiwa itu di tengah-tengah peristiwa yang lain dan akhirnya dapat menilai secara objektif.

Sementara untuk urusan informasi yang penting dan berhubungan langsung dengan kebutuhan dan kepentingan kita sendiri, kita harus men-zoom-in. Artinya, kita harus memberikan perhatian khusus dan fokus pada upaya-upaya progresif peningkatan kualitas hati, kualitas pikir, kualitas iman, dan kualitas hidup kita. Memberikan detai-detail setiap langkah yang harus diambil untuk mencari solusi. Memberikan perhatian kepada orang-orang atau sesuatu yang kita kasihi dan sayangi. Pada saat kita memberikan perhatian tersebut, rasa simpati dan empati akan tumbuh secara otomatis, sehingga menggerakan hati  untuk mendukung secara moral atau material sesuai kebutuhan dan kemampuan. Tidak melewatkan begitu saja momen-momen indah kebersamaan. Dari situlah hidup akan terasa lebih berarti dan bermanfaat.

Sekarang persoalannya adalah proses memilih dan memilah peristiwa dan informasi yang melimpah itu bukanlah pekerjaan yang mudah, karena hal ini melibatkan perasaan subjektif, emosi, nafsu dan minat setiap seseorang. Secara garis besar, pilihan itu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pertimbangan objektif dan pertimbangan subjektif.

Proses memilih dan memilah itu sendiri sebenarnya subjektif, sebab dari sekian banyak peristiwa dan informasi tersaji, apa pun pilihan kita pasti melibatkan emosi, perasaaan, dan kepentingan diri. Oleh karena itu, selain menggunakan ukuran subjektif, kita harus memiliki parameter yang jelas untuk melakukan proses memilih dan memilah sesuai dengan kebutuhan kita. Nah, saat itulah kita barus menggunakan objektivitas dan rasionalitas. Artinya, diri kita harus objektif saat memilih dan memilah peristiwa atau informasi yang terkait langsung dengan kehidupan kita. Untuk memudahkan hal tersebut, kita dapat menggunakan tool di bawah ini:

Penting dan mendesak

 

Sekadar tahu

 

Zoom-in

Tak penting dan tak mendesak

 

Zoom-out

 

 

Tunda zoom-in

 

 

Tak berhubungan

Berhubungan langsung

 

Dari gambar kuadran di atas, dapat kita tarik kesimpulan sebagai berikut:

1.      Terhadap peristiwa atau informasi yang berhubungan langsung dengan kebutuhan kita dan sifatnya penting dan mendesak, kita harus melakukan zoom-in dan memberikan perhatian penuh.

2.      Terhadap peristiwa atau informasi yang tidak berhubungan langsung dengan kebutuhan atau kehidupan kita dan tidak penting dan tidak mendesak, maka kita harus melakukan zoom-out terhadapnya, bahkan menghindari, tidak membuang-buang waktu untuk terlibat atau mengonsumsi berita atau peristiwa tersebut.

3.      Terhadap peristiwa atau informasi yang tidak berhubungan langsung dengan kehidupan kita dan penting, maka kita cukup sekadar tahu saja, sekadar mengetahui perkembangan yang terjadi dan untuk menambah wawasan.

4.      Terhadap peristiwa atau informasi yang berhubungan dengan kehidupan kita, tetapi tidak penting dan tidak mendesak, maka sikap kita menunda untuk zoom-in sampai dengan tiba waktu yang kita targetkan.

Tentu saja tool ini hanya gambaran umum, karena dalam kehidupan nyata, kombinasi situasi lebih kompleks dari yang digambarkan dalam diagram tersebut.



Beyond Rationality

 BEYOND RATIONALITY

 

Ada dua pilihan yang bisa engkau ambil saat menemukan pohon bunga cantik yang tumbuh di sekitarmu. Pertama, engkau petik bunga itu sebagai bahan penelitian untuk ilmu pengetahuan, meskipun harus menghentikan kehidupan bunga itu ; atau kedua, engkau cukup menikmati bunga cantik itu. Dan merawatnya agar terus tumbuh dan berkembang.

 

Sejak era mitologi Yunani, kemudian melintas ke era religiusitas, astronomi, filsafat, logika, dan akhirnya ilmu pengetahuan dan sains, manusia tetap bisa survive. Kualitas hidup umat manusia meningkat dengan penemuan teknologi yang mempermudah manusia menjalani hidupnya. Namun, pertanyaan yang muncul: pertama, apakah kualitas kebahagian manusia semakin meningkat? Kedua, apakah kualitas lingkungan kondisi bumi semakin baik? Lantas, manfaat seperti apa yang sesungguhnya didapat manusia dari perkembangan peradaban itu?

Penemuan bom atom kenyataannya bukan untuk kesejahteraan manusia, tetapi pembunuh massal dengan sekali tekan tombol. Sebagian penemuan sains dan teknologi digunakan untuk memperkuat armada perang sekadar memenuhi nafsu raja atau pemimpin yang ambisius memperluas daerah kekuasaan.

Jadi, penemuan sains bisa jadi tidak ada keterkaitan langusng dengan kebaikan kualitas moral dan nilai kemanusiaan. Bahkan, sejarah mencatat agama yang membawa pesan moral spiritual sekalipun menimbulkan tragedi kemanusiaan. Sehingga, berlaku pemeo man behind the gun. Ini adalah isu klasik yang tidak pernah berakhir sejak zaman Nabi Adam.

Persoalannya bukan terletak pada kualitas suatu peradaban untuk menentukan kualitas moral dan kedamaian umat manusia, tetapi pada penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kehidupan yang membentuk filsafat hidup. 

Kejayaan peradaban manusia dimulai sejak lahirnya ilmu filsafat, kemudian dengan cepat memancing lahirnya cabang-cabang ilmu pengetahuan pengetahuan dan sains lain, dengan penemuan teori dan rumus-rumus matematika, fisika, kimia, biologi, dan ilmu sosial lainnya. Semua cabang ilmu dibangun berdasarkan logika dan rasionalitas yang pelan-pelan menggantikan mitologi Yunani dengan tokoh dewa-dewa yang sempat dipercaya berabad-abad, antara lain: Dewa Olimpus, dewa awal, dewa personifikasi, dewa dunia bawah, dewa laut, dewa langit, dewa pedesaan, dewa pertanian, manusia yang menjadi dewa, dan dewa lainnya. Secara garis besar, perkembangan filsafat barat dibagi menjadi empat periode besar yaitu: Zaman Yunani (600 SM – 400 M); Zaman Patristik dan Skolastik (300–1500 M); Zaman Modern (1500–1800 M); zaman sekarang (setelah 1800 M) (Dilansir dari Wikipedia).

Lain lagi cerita yang dibawa dari belahan timur dunia atau Asia. Secara garis besar, dikenal empat jenis filsafat Timur yang terkenal dengan sebutan ‘Empat Tradisi Besar’, yaitu Hinduisme, Budisme, Taoisme, dan Konfusianisme. Sementara filsafat Islam, meskipun berkembang di wilayah timur dan Asia, lebih banyak berinteraksi dengan filsafat barat.

Akan tetapi, sekalipun di antara filsafat timur dan filsafat barat terdapat perbedaan-perbedaan, tidak dapat dinilai mana yang lebih baik, sebab masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Selain itu, keduanya diharapkan dapat saling melengkapi khazanah filsafat secara luas. Jika filsafat barat cendrung mengeksplorasi sehingga outputnya banyak berupa ilmu pengetahuan dan sains, maka filsafat timur lebih hanyut menikmati dan merawat kehidupan dan output-nya yang berupa nilai-nilai moral dan akhlak. Sebuah studi komparasif yang dilakukan oleh Toha Rudin berjudul ajaran taoisme dan mistisisme Islam pada Research Gate mengatakan sebagai berikut:

“Taoisme adalah ajaran yang lebih menekankan pada perbaikan akhlak umat manusia yang sudah rusak, kemudian untuk dapat menjadi manusia yang bijaksana dengan tujuan terakhir yaitu untuk mendapatkan kebahagian yang kekal dengan cara menyatu dengan Tao (Tuhan). Mistisisme Islam juga bertujuan untuk pembinaan aspek moral untuk mewujudkan kestabilan jiwa yang berkesinambungan, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu sehingga manusia istiqomah dalam pendirianya. Dalam hal ini yang paling ditekankan adalah membina akhlak, baik akhlak kepada sesama mansia dan lebih lagi kepada Allah. Perbedaan antara ajaran Taoisme dan Mistisisme Islam yaitu: Mistisisme Islam bersumber dari al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw, sedangkan ajaran Taoisme bersumber dari kitab Tao Te Ching yang merupakan ajaran Lao Tze yang berisi filsafat, hikmah, dan jalan hidup. Adapun persamaan antara ajaran Taoisme dan Mistisisme Islam yaitu: Sama-sama bertujuan untuk pembinaan aspek moral yang bertujuan mewujudkan kestabilan jiwa yang berkesinambungan, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu sehingga manusia istiqomah dalam pendirianya. Dalam hal ini yang paling ditekankan adalah pembinaan akhlak, baik akhlak kepada sesama manusia, terlebih lagi akhlak kepada Allah Swt.”

Ilmu pengetahuan dan sains pelan-pelan membuka sedikit demi sedikit misteri alam, tetapi manusia tidak pernah tahu besaran misteri yang belum dan yang sudah terungkap. Semesta yang maha tak terhingga ini tidak mungkin diungkap seluruhnya oleh akal pikiran manusia. Sebagian kecil misteri alam yang sudah terkuak, membuat manusia menjadi lebih percaya diri menyiasati kehidupan.

Namun, alam semesta tetap saja menyimpan misteri yang belum dan mungkin tidak terungkap sepenuhnya. Manusia tetap menyimpan rasa penasarannya akan misteri alam yang belum terungkap. Secara garis besar, ada dua golongan dalam menyikapi misteri kehidupan. Filsafat barat akan terus menggali dan meneliti untuk mengungkap misteri tersebut, sementari filsafat timur memilih menikmati kehidupan dan membiarkan hidupnya larut menjadi bagian darinya. Kedua aliran filsafat itu melahirkan isme dan keyakinan. Oleh karena itu, diskusi tentang keyakinan sebaiknya dihindari mengingat keyakinan bagi penganutnya merupakan beyond rationality, sesuatu yang melampaui rasionalitas. Cukup saling menghargai dan menghormati dengan menyertakan cinta dan kemanusiaan.

Kembali pada pertanyaan pada awal tulisan, apa yang diperbaiki dari peradaban manusia? Apakah kualitas kebahagiaan, ketenteraman, dan keadilan manusia meningkat? Apakah kualitas bumi dan lingkungan semakin membaik atau sebaliknya? Apakah rasionalitas telah menjawab semua itu?