BEYOND RATIONALITY
Ada dua pilihan yang bisa
engkau ambil saat menemukan pohon bunga cantik yang tumbuh di sekitarmu.
Pertama, engkau petik bunga itu sebagai bahan penelitian untuk ilmu
pengetahuan, meskipun harus menghentikan kehidupan bunga itu ; atau kedua, engkau cukup
menikmati bunga cantik itu. Dan merawatnya agar terus tumbuh dan berkembang.
Sejak era mitologi Yunani, kemudian melintas ke era religiusitas, astronomi, filsafat, logika, dan akhirnya ilmu pengetahuan dan sains, manusia tetap bisa survive. Kualitas hidup umat manusia meningkat dengan penemuan teknologi yang mempermudah manusia menjalani hidupnya. Namun, pertanyaan yang muncul: pertama, apakah kualitas kebahagian manusia semakin meningkat? Kedua, apakah kualitas lingkungan kondisi bumi semakin baik? Lantas, manfaat seperti apa yang sesungguhnya didapat manusia dari perkembangan peradaban itu?
Penemuan bom atom kenyataannya bukan untuk kesejahteraan manusia, tetapi pembunuh massal dengan sekali tekan tombol. Sebagian penemuan sains dan teknologi digunakan untuk memperkuat armada perang sekadar memenuhi nafsu raja atau pemimpin yang ambisius memperluas daerah kekuasaan.
Jadi, penemuan sains bisa jadi tidak ada keterkaitan langusng dengan kebaikan kualitas moral dan nilai kemanusiaan. Bahkan, sejarah mencatat agama yang membawa pesan moral spiritual sekalipun menimbulkan tragedi kemanusiaan. Sehingga, berlaku pemeo man behind the gun. Ini adalah isu klasik yang tidak pernah berakhir sejak zaman Nabi Adam.
Persoalannya bukan terletak pada kualitas suatu peradaban untuk menentukan kualitas moral dan kedamaian umat manusia, tetapi pada penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kehidupan yang membentuk filsafat hidup.
Kejayaan peradaban manusia dimulai sejak lahirnya ilmu filsafat, kemudian dengan cepat memancing lahirnya cabang-cabang ilmu pengetahuan pengetahuan dan sains lain, dengan penemuan teori dan rumus-rumus matematika, fisika, kimia, biologi, dan ilmu sosial lainnya. Semua cabang ilmu dibangun berdasarkan logika dan rasionalitas yang pelan-pelan menggantikan mitologi Yunani dengan tokoh dewa-dewa yang sempat dipercaya berabad-abad, antara lain: Dewa Olimpus, dewa awal, dewa personifikasi, dewa dunia bawah, dewa laut, dewa langit, dewa pedesaan, dewa pertanian, manusia yang menjadi dewa, dan dewa lainnya. Secara garis besar, perkembangan filsafat barat dibagi menjadi empat periode besar yaitu: Zaman Yunani (600 SM – 400 M); Zaman Patristik dan Skolastik (300–1500 M); Zaman Modern (1500–1800 M); zaman sekarang (setelah 1800 M) (Dilansir dari Wikipedia).
Lain lagi cerita yang dibawa dari belahan timur dunia atau Asia. Secara garis besar, dikenal empat jenis filsafat Timur yang terkenal dengan sebutan ‘Empat Tradisi Besar’, yaitu Hinduisme, Budisme, Taoisme, dan Konfusianisme. Sementara filsafat Islam, meskipun berkembang di wilayah timur dan Asia, lebih banyak berinteraksi dengan filsafat barat.
Akan tetapi, sekalipun di antara filsafat timur dan filsafat barat terdapat perbedaan-perbedaan, tidak dapat dinilai mana yang lebih baik, sebab masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Selain itu, keduanya diharapkan dapat saling melengkapi khazanah filsafat secara luas. Jika filsafat barat cendrung mengeksplorasi sehingga outputnya banyak berupa ilmu pengetahuan dan sains, maka filsafat timur lebih hanyut menikmati dan merawat kehidupan dan output-nya yang berupa nilai-nilai moral dan akhlak. Sebuah studi komparasif yang dilakukan oleh Toha Rudin berjudul ajaran taoisme dan mistisisme Islam pada Research Gate mengatakan sebagai berikut:
“Taoisme adalah ajaran yang lebih menekankan pada perbaikan akhlak umat manusia yang sudah rusak, kemudian untuk dapat menjadi manusia yang bijaksana dengan tujuan terakhir yaitu untuk mendapatkan kebahagian yang kekal dengan cara menyatu dengan Tao (Tuhan). Mistisisme Islam juga bertujuan untuk pembinaan aspek moral untuk mewujudkan kestabilan jiwa yang berkesinambungan, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu sehingga manusia istiqomah dalam pendirianya. Dalam hal ini yang paling ditekankan adalah membina akhlak, baik akhlak kepada sesama mansia dan lebih lagi kepada Allah. Perbedaan antara ajaran Taoisme dan Mistisisme Islam yaitu: Mistisisme Islam bersumber dari al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw, sedangkan ajaran Taoisme bersumber dari kitab Tao Te Ching yang merupakan ajaran Lao Tze yang berisi filsafat, hikmah, dan jalan hidup. Adapun persamaan antara ajaran Taoisme dan Mistisisme Islam yaitu: Sama-sama bertujuan untuk pembinaan aspek moral yang bertujuan mewujudkan kestabilan jiwa yang berkesinambungan, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu sehingga manusia istiqomah dalam pendirianya. Dalam hal ini yang paling ditekankan adalah pembinaan akhlak, baik akhlak kepada sesama manusia, terlebih lagi akhlak kepada Allah Swt.”
Ilmu pengetahuan dan sains pelan-pelan membuka sedikit demi sedikit misteri alam, tetapi manusia tidak pernah tahu besaran misteri yang belum dan yang sudah terungkap. Semesta yang maha tak terhingga ini tidak mungkin diungkap seluruhnya oleh akal pikiran manusia. Sebagian kecil misteri alam yang sudah terkuak, membuat manusia menjadi lebih percaya diri menyiasati kehidupan.
Namun, alam semesta tetap saja menyimpan misteri yang belum dan mungkin tidak terungkap sepenuhnya. Manusia tetap menyimpan rasa penasarannya akan misteri alam yang belum terungkap. Secara garis besar, ada dua golongan dalam menyikapi misteri kehidupan. Filsafat barat akan terus menggali dan meneliti untuk mengungkap misteri tersebut, sementari filsafat timur memilih menikmati kehidupan dan membiarkan hidupnya larut menjadi bagian darinya. Kedua aliran filsafat itu melahirkan isme dan keyakinan. Oleh karena itu, diskusi tentang keyakinan sebaiknya dihindari mengingat keyakinan bagi penganutnya merupakan beyond rationality, sesuatu yang melampaui rasionalitas. Cukup saling menghargai dan menghormati dengan menyertakan cinta dan kemanusiaan.
Kembali pada pertanyaan pada awal tulisan, apa yang diperbaiki dari peradaban manusia? Apakah kualitas kebahagiaan, ketenteraman, dan keadilan manusia meningkat? Apakah kualitas bumi dan lingkungan semakin membaik atau sebaliknya? Apakah rasionalitas telah menjawab semua itu?






