Minggu, 30 Juli 2023

Beyond Rationality

 BEYOND RATIONALITY

 

Ada dua pilihan yang bisa engkau ambil saat menemukan pohon bunga cantik yang tumbuh di sekitarmu. Pertama, engkau petik bunga itu sebagai bahan penelitian untuk ilmu pengetahuan, meskipun harus menghentikan kehidupan bunga itu ; atau kedua, engkau cukup menikmati bunga cantik itu. Dan merawatnya agar terus tumbuh dan berkembang.

 

Sejak era mitologi Yunani, kemudian melintas ke era religiusitas, astronomi, filsafat, logika, dan akhirnya ilmu pengetahuan dan sains, manusia tetap bisa survive. Kualitas hidup umat manusia meningkat dengan penemuan teknologi yang mempermudah manusia menjalani hidupnya. Namun, pertanyaan yang muncul: pertama, apakah kualitas kebahagian manusia semakin meningkat? Kedua, apakah kualitas lingkungan kondisi bumi semakin baik? Lantas, manfaat seperti apa yang sesungguhnya didapat manusia dari perkembangan peradaban itu?

Penemuan bom atom kenyataannya bukan untuk kesejahteraan manusia, tetapi pembunuh massal dengan sekali tekan tombol. Sebagian penemuan sains dan teknologi digunakan untuk memperkuat armada perang sekadar memenuhi nafsu raja atau pemimpin yang ambisius memperluas daerah kekuasaan.

Jadi, penemuan sains bisa jadi tidak ada keterkaitan langusng dengan kebaikan kualitas moral dan nilai kemanusiaan. Bahkan, sejarah mencatat agama yang membawa pesan moral spiritual sekalipun menimbulkan tragedi kemanusiaan. Sehingga, berlaku pemeo man behind the gun. Ini adalah isu klasik yang tidak pernah berakhir sejak zaman Nabi Adam.

Persoalannya bukan terletak pada kualitas suatu peradaban untuk menentukan kualitas moral dan kedamaian umat manusia, tetapi pada penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kehidupan yang membentuk filsafat hidup. 

Kejayaan peradaban manusia dimulai sejak lahirnya ilmu filsafat, kemudian dengan cepat memancing lahirnya cabang-cabang ilmu pengetahuan pengetahuan dan sains lain, dengan penemuan teori dan rumus-rumus matematika, fisika, kimia, biologi, dan ilmu sosial lainnya. Semua cabang ilmu dibangun berdasarkan logika dan rasionalitas yang pelan-pelan menggantikan mitologi Yunani dengan tokoh dewa-dewa yang sempat dipercaya berabad-abad, antara lain: Dewa Olimpus, dewa awal, dewa personifikasi, dewa dunia bawah, dewa laut, dewa langit, dewa pedesaan, dewa pertanian, manusia yang menjadi dewa, dan dewa lainnya. Secara garis besar, perkembangan filsafat barat dibagi menjadi empat periode besar yaitu: Zaman Yunani (600 SM – 400 M); Zaman Patristik dan Skolastik (300–1500 M); Zaman Modern (1500–1800 M); zaman sekarang (setelah 1800 M) (Dilansir dari Wikipedia).

Lain lagi cerita yang dibawa dari belahan timur dunia atau Asia. Secara garis besar, dikenal empat jenis filsafat Timur yang terkenal dengan sebutan ‘Empat Tradisi Besar’, yaitu Hinduisme, Budisme, Taoisme, dan Konfusianisme. Sementara filsafat Islam, meskipun berkembang di wilayah timur dan Asia, lebih banyak berinteraksi dengan filsafat barat.

Akan tetapi, sekalipun di antara filsafat timur dan filsafat barat terdapat perbedaan-perbedaan, tidak dapat dinilai mana yang lebih baik, sebab masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Selain itu, keduanya diharapkan dapat saling melengkapi khazanah filsafat secara luas. Jika filsafat barat cendrung mengeksplorasi sehingga outputnya banyak berupa ilmu pengetahuan dan sains, maka filsafat timur lebih hanyut menikmati dan merawat kehidupan dan output-nya yang berupa nilai-nilai moral dan akhlak. Sebuah studi komparasif yang dilakukan oleh Toha Rudin berjudul ajaran taoisme dan mistisisme Islam pada Research Gate mengatakan sebagai berikut:

“Taoisme adalah ajaran yang lebih menekankan pada perbaikan akhlak umat manusia yang sudah rusak, kemudian untuk dapat menjadi manusia yang bijaksana dengan tujuan terakhir yaitu untuk mendapatkan kebahagian yang kekal dengan cara menyatu dengan Tao (Tuhan). Mistisisme Islam juga bertujuan untuk pembinaan aspek moral untuk mewujudkan kestabilan jiwa yang berkesinambungan, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu sehingga manusia istiqomah dalam pendirianya. Dalam hal ini yang paling ditekankan adalah membina akhlak, baik akhlak kepada sesama mansia dan lebih lagi kepada Allah. Perbedaan antara ajaran Taoisme dan Mistisisme Islam yaitu: Mistisisme Islam bersumber dari al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw, sedangkan ajaran Taoisme bersumber dari kitab Tao Te Ching yang merupakan ajaran Lao Tze yang berisi filsafat, hikmah, dan jalan hidup. Adapun persamaan antara ajaran Taoisme dan Mistisisme Islam yaitu: Sama-sama bertujuan untuk pembinaan aspek moral yang bertujuan mewujudkan kestabilan jiwa yang berkesinambungan, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu sehingga manusia istiqomah dalam pendirianya. Dalam hal ini yang paling ditekankan adalah pembinaan akhlak, baik akhlak kepada sesama manusia, terlebih lagi akhlak kepada Allah Swt.”

Ilmu pengetahuan dan sains pelan-pelan membuka sedikit demi sedikit misteri alam, tetapi manusia tidak pernah tahu besaran misteri yang belum dan yang sudah terungkap. Semesta yang maha tak terhingga ini tidak mungkin diungkap seluruhnya oleh akal pikiran manusia. Sebagian kecil misteri alam yang sudah terkuak, membuat manusia menjadi lebih percaya diri menyiasati kehidupan.

Namun, alam semesta tetap saja menyimpan misteri yang belum dan mungkin tidak terungkap sepenuhnya. Manusia tetap menyimpan rasa penasarannya akan misteri alam yang belum terungkap. Secara garis besar, ada dua golongan dalam menyikapi misteri kehidupan. Filsafat barat akan terus menggali dan meneliti untuk mengungkap misteri tersebut, sementari filsafat timur memilih menikmati kehidupan dan membiarkan hidupnya larut menjadi bagian darinya. Kedua aliran filsafat itu melahirkan isme dan keyakinan. Oleh karena itu, diskusi tentang keyakinan sebaiknya dihindari mengingat keyakinan bagi penganutnya merupakan beyond rationality, sesuatu yang melampaui rasionalitas. Cukup saling menghargai dan menghormati dengan menyertakan cinta dan kemanusiaan.

Kembali pada pertanyaan pada awal tulisan, apa yang diperbaiki dari peradaban manusia? Apakah kualitas kebahagiaan, ketenteraman, dan keadilan manusia meningkat? Apakah kualitas bumi dan lingkungan semakin membaik atau sebaliknya? Apakah rasionalitas telah menjawab semua itu? 


 

GONG PERALIHAN KEKUASAAN

 GONG PERALIHAN KEKUASAAN

Masa paling kritis dalam sebuah suksesi kepemimpinan adalah masa transisi kekuasaan, di mana pemimpin baru menunggu peralihan kekuasaan dengan pemimpin lama. Pemimpin lama masih memiliki legitimasi untuk bertindak sesuai dengan kewenangannya.

 

Semakin lama masa transisi, semakin besar potensi risiko penyalahgunaan kekuasaan. Demikian sebaliknya. Sementara, besarnya kewenangan sebuah kekuasaan sangat tergantung dari skala ukuran organisasi, perusahaan, atau negara yang dipimpinnya. Semakin besar kekuasaan, semakin besar kewenangan yang dimiliki seorang pemimpin. Demikian sebaliknya.

Setiap pemimpin jelas memiliki visi dan misi sehingga masa peralihan kekuasaan atau kepemimpinan adalah masa yang paling potensial terjadinya perubahan visi dan misi dari penguasa baru. Banyak pemimpin politik baru yang terpilih justru karena memiliki visi, misi, dan strategi yang berbeda dengan incumbent, bahkan ingin mengoreksi total kebijakan pemerintah lama. Pada organisasi baru yang belum matang, pergantian pimpinan bisa berdampak pada penurunan kinerja yang signifikan, terutama pada organisasi atau institusi bisnis keluarga, di mana personalisasi tokoh pendirinya identik dengan perusahaan itu sendiri sebagai sumber nilai (core value) terbentuknya budaya perusahaan (corporate culture).

Dampak terjadinya perubahan visi-misi sangat sistematis, terstruktur, dan masif, mengingat visi menduduki hierarki nilai tertinggi dalam sebuah organisasi atau institusi. Visi ibarat roh atau believe yang mengandung core value. Jika terjadi perubahan yang bersifat fundamental dalam suatu organisasi, tentu melibatkan sumber daya yang besar, perubahan peraturan SOP, perubahan strategi dan kebijakan, sampai dengan perubahan pemangku jabatan-jabatan strategis agar pelaksanaan visi-misi berjalan dengan efektif di tangan orang orang yang satu chemistry.

Dalam dunia politik, kelompok yang menang pemilu menghendaki agar pemimpinnya segera dilantik sementara kelompok lawan berusaha untuk mengulur-ulur waktu atau bahkan menghalang-halangi. Sebagai contoh, kasus peralihan kekuasaan dari Donald Trump kepada Joe Biden yang menimbulkan kerusuhan di mana para pendukung Donald Trump merangsek ke Gedung Capitol menyebabkan empat orang tewas. Demonstrasi itu dilancarkan untuk menggagalkan penetapan pemenang pemilihan Presiden AS, yaitu Joe Biden.

Pemenang pemilu ataupun pejabat baru yang ditunjuk tentu menghendaki agar peralihan kekuasaan dapat dilaksanakan tetap waktu dan tidak perlu ada penundaan agar bisa langsung bekerja memenuhi janji-janjinya. Di pihak pemimpin yang lama sebisa mungkin diperlambat untuk mencari peluang mempertahankan kekuasaan dengan tuduhan kecurangan yang dilakukan oleh pihak lawannya. Dua pendukung kelompok saling berhadap-hadapan karena bersikeras dengan pendapatnya masing-masing. Pelantikan bagi kelompok pendukung menjadi teramat penting untuk segera mengambil alih tampuk pimpinan. Semetara kelompok yang satu mencegah agar pelantikan ditunda atau dibatalkan menunggu keputusan kepastian hukum dari lembaga negara yang berwenang. Namun, pada level pemerintahan, semua sudah diatur dalam sebuah mekanisme yang jelas berupa undang-undang yang mengatur jadwal peralihan kekuasaan. Namun, intrik dan modus selalu muncul di masa transisi dan yang lebih keras terjadi di balik layar dalam bentuk silent operation, terutama dari pihak penguasa yang akan diganti dan lebih banyak terjadi di perusahaan bisnis dari berbagai level.

Yang paling sering terjadi di masa-masa kritis tersebut antara lain mutasi pejabat disertai dengan promosi jabatan. Percepatan persetujuan suatu proyek atau pekerjaan dengan anggaran besar yang sebenarnya belum jatuh tempo. Percepatan pembelanjaan bujet dari jadwal semestinya dan modus-modus lainnya. Walaupun pejabat yang baru dilantik oleh penguasa lama, bisa saja diganti lagi oleh pemimpin yang baru, tetapi itu akan menimbulkan pro dan kontra dan berpotensi menimbulkan kegaduhan serta membuang energi yang tidak perlu. Apalagi pencopotan memerlukan alasan yang kuat dan durasi waktu yang pantas.

Yang paling tragis dalam masa transisi adalah terjadi dualisme kepemimpinan antara pejabat existing yang tinggal tunggu hari, tetapi secara de jure masih berkuasa, dan calon penggantinya yang memiliki kepentingan dan tanggung jawab di masa mendatang. Kedua pihak memiliki kepentingan terhadap penggunaan sumber daya di masa kepemimpinannya dengan alasan untuk mewujudkan visi dan misinya.

Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya dampak buruk dari masa transisi, jangan berikan waktu terlalu lama. Peralihan kekuasaan harus segera dilakukan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan sebuah pelantikan atau pemukulan gong atau kick off.

Di balik peristiwa pemukulan gong, ada sebuah rencana yang matang. Ada gagasan dan proposal-proposal, ada rencana implementasi, ada rencana kerja dan anggaran, ada tugas pokok dan fungsi, ada standard operating procedure yang telah disusun dan siap untuk dilaksanakan, ada orang-orang yang diberi tugas dan diberi target dan KPI yang harus dicapai, ada hak dan kewajiban. Semua itu perlu gong sebagai tanda dimulainya pekerjaan dan tanggung jawab. Setelah gong dipukul, maka hak dan kewajiban mulai diberlakukan. Kewenangan dan tanggung jawab mulai diterapkan. Semua pemangku kepentingan siap melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.

Pada skala negara, sumber daya dan infrastruktur yang begitu luas dan powerful harus benar-benar dikelola oleh seorang pemimpin yang tepat, yang mendapat mandat dari rakyat, yang amanah, dan profesional. Sekali sumber daya negara dikuasai, seorang pemimpin menjadi sangat powerful untuk melakukan apa pun. Sumber daya negara yang sangat luar biasa itu antara lain: seluruh tentara/pekerja, keuangan, infrastruktur pemerintahan/perusahaan, aparat sipil, dan tentu semua produk hukum menjadi benar-benar sangat senjata untuk menggerakkan seluruh komponen bangsa/perusahaan. Oleh karena itu, pemberian kewenangan seorang pemimpin harus dilakukan dalam sebuah upacara resmi dengan pengambilan sumpah dalam bentuk pelantikan yang disaksikan oleh seluruh lembaga negara dan stakeholder untuk menjaga sakralitas dari amanah suci yang telah diberikan oleh rakyat. Itulah GONG tanda dimulainya seluruh sumber daya boleh digunakan dengan sebaik-baiknya.

Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya dampak buruk dari masa transisi adalah jangan berikan waktu terlalu lama masa transisi, peralihan kepemimpinan harus segera dilakukan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan suatu acara yang sakaral baik secara hukum maupun secara spiritual.

Pelantikan adalah peralihan kewenangan dan tanggung jawab serta hak dan kewajiban. Dan yang tidak kalah penting adalah penyerahan wewenang secara sah penggunaan semua sumber daya negara atau oranisasi untuk mewujudkan visi dan misi organisasi dan sang pemimpin. Sejarah mencatat beberapa tragedi yang terjadi dalam masa peralihan kekuasaan, antara lain: peralihan kekuasaan dari penjajah Belanda kepada pemerintah RI.

Dalam dunia bisnis, setiap memulai sebuah event atau proyek besar, ada sebuah tanda kapan harus dimulai. Sebuah langkah awal menandai dimulainya argo berjalan, yaitu titik waktu mulai dihitung batas tanggung jawab bagi siapa pun pemangku kepentingan yang terlibat. Itu sebabnya gong pelantikan biasanya disertai dengan pembacaan sumpah didampingi rohaniwan di bawah kitab suci. 

Namun, dalam perjalanan waktu, banyak pihak menganggap gong hanya seremonial belaka dan tidak memberikan manfaat. Memang seremonial jika tidak di-manage dengan baik akan menjadi project mercusuar yang menghambur-hamburkan uang. Namun, acara seremonial launching sebuah produk baru menjadi momen penting dan sangat krusial untuk membangun first impression yang baik bagi target market-nya sehingga menarik perhatian. Karena itu launching merupakan bagian dari strategi marketing yang sangat esensial dan bukan sekadar acara haha hehe dan foto-foto wefie atau selfie.

Jika masih ragu bahwa pemukulan “gong” atau pelantikan atau kick off itu hanya sebuah seremoni yang tidak esensial, coba bayangkan lomba lari, balap sepeda, lomba balap Formula1 atau MotoGP tanpa ada pengibaran bendera start atau finish. Apa yang akan terjadi?



Wasiat Daun

 WASIAT DAUN

 Biarkan daun-daun pulang ke asalnya dengan damai seperti manusia yang ingin dikebumikan di kampung halamannya. Jika disapu, daun-daun ini akan jadi terasing dan  menderita bersama limbah industri.

 Permintaan terakhir daun sebenarnya sederhana. Dia ingin tetap berada dekat dengan sang induk agar bisa berbakti kepadanya, menyelimuti tanah di sekitar pohon agar bisa memberi kehangatan, menahan penguapan air agar tanah tetap memiliki persediaan air di musim kemarau. Daun-daun yang gugur dan rebah di permukaan bumi akan menahan kandungan air tanah di sekitarnya tidak menguap ke angkasa dan jatuh jadi hujan di negeri lain. Itu sebabnya kepedihan yang dalam bagi daun adalah ketika dia tidak mengalami penghancuran/penguraian dirinya di tanah kelahirannya untuk bertransformasi menjadi humus sebagai dedikasi terakhir kepada induknya. 

Di era konsumerisme dan argoindustri ini, sesungguhnya daunlah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, bukan buah. Buah-buah kini dipaksa jatuh dari tangkainya untuk didistribusikan ke pasar-pasar tradisional. Sementara daun-daun yang jatuh dari tangkainya akan tergeletak dalam radius akar melakukan ekspansi. Jika toh angin meniupnya, dia tak akan terlalu jauh karena bentuk daun tercipta tak melebihi kepak sayap burung.

Daun menyadari kalau induknya merupakan organisme autotrof obligat yang harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya matahari menjadi energi kimia, Maka, dia ditakdirkan menjadi organ fotosintetis yang paling dominan bekerja. Daun juga organ pernapasan bagi induknya. Karena itu, sepanjang hari daun selalu menatap matahari dan tak pernah menoleh sedikit pun darinya, kecuali matahari telah pamit ke peraduan. Ini adalah cara penghormatan daun kepada sang surya. Meski harus terpanggang, daun tetap tegap semringah melambai-lambai. Tatkala mentari luruh, daun ikut merunduk untuk berkhidmat pada semesta.

Daun yang ramah itu digerakkan oleh cinta, kemudian cinta itu dipersembahkan kepada bumi, agar makhluk-makhluk di bawahnya bisa berteduh. Daun yang mencumbu cahaya mentari bukan saja sedang mempercantik diri mencipta hijau ranumnya, tetapi juga memproduksi oksigen demi kasih sayangnya kepada makhluk bumi. Ketika induknya dahaga di musim kemarau, dia rela menggugurkan diri ke bumi agar induknya lebih hemat menyimpan air dan energinya selama masa dehidrasi dan hibernasi.

Tumbuhan dan daun adalah mahakarya alam yang menginspirasi lahirnya beberapa teknologi canggih. Salah satunya adalah pemanfaatan tenaga surya. Daun berfungsi seperti panel penangkap sinar untuk disimpan dan didistribusikan ke seluruh instalasi yang ada pada pohon. Dalam arsitektur daun, terdapat unsur fotovoltaik yang mengubah sinar matahari menjadi energi listrik karena fungsi daunlah sinar matahari bisa mencapai ruang bawah tanah yang gelap memberi energi pada akar-akar untuk melakukan ekspansi melebar dan menghunjam ke dalam tanah. Berkat bantuan sinar surya tumbuhan dapat memproduksi makanan.

Tahun 1883, Charles Fritts dari New York menciptakan panel surya pertama dengan melapisi selenium dengan lapisan tipis emas. Dilansir dari Phys.org, pada proses fotosintesis cahaya masuk, elektron bergerak melintasi membran dan tidak pernah kembali. Dalam fotosintesis elektron selalu berjalan satu jalur, membuat tumbuhan sangat efisien dalam mengubah energi matahari. Dari proses fotosintesis inilah ilmuan terinspirasi untuk menciptakan panel surya. Dilansir dari Live Science, partikel foton dari cahaya Matahari menumbuk panel surya dan memberikan energi pada elektron. Energi ini membuat listrik mengalir pada semikonduktor panel surya, kemudian listrik ini bisa disimpan dalam baterai atau accu.

Unsur-unsur yang membentuk daun juga merupakan seni aristekur yang indah dan sempurna. Pelepah daun, tangkai daun, dan helai daun menyatu membentuk karya instalasi seni rupa simetris yang indah. Variasi bentuk daun dari setiap pohon berbeda-beda, sebagai strategi diferensiasi dari masing-masing menjadi indentitas. Maka, jika engkau ingin memiliki jati diri yang kuat, tirulah strategi itu, yang memadukan antara manfaat fungsional dengan keindahan rupa. Itulah eksistensi kualitas manusia yang ideal. Tidak sekadar mengandalkan keindahan fisik, tetapi juga memiliki nilai manfaat fungsional.

Sudah menjadi kodratnya, manusia selalu mencari kedamaian dan ketenangan, dan daun dapat memberikan itu melalui warna hijaunya yang alami bila ditangkap oleh mata. Daun juga merelakan dirinya dikonsumsi oleh spesies herbivora yang akan memberikan timbal balik berupa kotoran untuk kesuburan tanah.

Tumbuhan juga bersolek untuk memikat dunia, melalui bentuk dan warna yang indah, juga melalui aroma daunnya. Aroma yang dihasilkan daun adalah parfum alami. Daun juga mengandung berbagai zat yang membentuk cita rasa dan memberikan manfaat. Bukan itu saja, daun juga menjadi rumah dan sumber makanan bagi hayati makhluk lain seperti ulat, serangga, kumbang, dan kupu-kupu. Semuanya didedikasikan untuk sahabat-sahabat buminya.

Mungkin pohon tidak pernah menghitung berapa jumlah ideal yang tumbuh pada ranting-rantingnya. Yang dia tahu hanyalah menjaga keseimbangan agar tubuhnya tetap kokoh berdiri dengan persisi yang tinggi, tak pernah meleset.

Daun hanya menulis wasiat sederhana: biarkan aku gugur saat tangkai melepasku.


Corong vs Corong

 CORONG VS CONGOR

Lima ekor anjing menggonggong dengan suara menggelegar di tengah-tengah kerumunan ribuan sapi yang hanya mendengus pelan. Maka, anjing terkesan menjadi kelompok mayoritas dibandingkan sapi.

 

 Anjing adalah ahli dalam operasi perang psikologis. Dia menggertak mental lawan melalui gonggongan yang keluar dari “congor”nya. Suaranya yang menggelegar meneror dan mengejutkan nyali lawan. Gonggongan itu sebenarnya sebuah pesan kamuflase seolah nyali dan eksistensinya besar, segarang gonggongannya. Dengan strategi penggunaan congornya yang efektif itu, anjing memiliki kesempatan menguasai “corong” untuk membentuk opini dan persepsi, meskipun terhadap lawan tertentu gonggongan itu kurang efektif.

Corong di sini merupakan simbol alat untuk memperbesar volume agar bisa disampaikan dan didengar banyak orang. Besarnya volume tidak otomatis menjamin kualitas isi suara atau berita yang dihasilkan. Tanpa disertai dengan kualitas pesan yang baik, corong sama saja dengan knalpot, hanya menimbulkan polusi udara dan suara. Peran corong teramat penting untuk membentuk opini dan meraih dukungan. Jangan heran jika melihat begitu banyak pihak berebut corong dengan berbagai cara dan dengan biaya berapa pun untuk menguasai infrasturkur komunikasi yang akan digunakan membentuk persepsi massa, menyebarkan dan menawarkan misi-misi mereka dengan tujuan akhir mendapat dukungan dari target audiens.

Ada alasan fundamental di balik terjadinya persaingan dalam penguasaan arus informasi, sebab di setiap terjadinya arus barang, logistic, dan arus uang selalui disertai dengan kebutuhan arus informasi. Hampir semua perusahaan, baik pemerintah atau swasta, memiliki unit kerja Public Relations, yaitu proses interaksi menciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan kedua belah pihak, menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi public. Public Relations bertujuan menanamkan keinginan baik, kepercayaan, saling adanya pengertian, dan citra yang baik dari publiknya (Dilansir dari gurupendidikan.com). Unit kerja Public Relation biasanya memiliki bujet yang cukup besar karena harus membangun channeling dan networking dengan seluruh pemangku kepentingan media massa, baik platform mainframe maupun platform media sosial dan sejenisnya yang berbasis Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK)

Begitu pentingnya menguasai infrastruktur komunikasi menyebabkan banyak pihak berebut ingin menguasai atau dapat mengakses corong komunikasi dengan masif. Pada era pre-internet, megafon adalah salah satu alat pengeras suara dan sekaligus channel komunikasi menggunakan pengarah suara berbentuk corong untuk meningkatkan efisiensi elemen-elemen pengirim suara. Corong ini bisa dipandang sebagai transformer akustik yang menyediakan impedansi yang sama antara diafragma padat yang berhubungan dan udara dengan kepadatan rendah. Hasil dari proses ini adalah keluaran suara yang lebih baik. Oleh karena itu, corong dijadikan metafora untuk saluran komunikasi yang di era digital ini mengalami transformasi berupa platform media sosial, selain radio dan televisi dari generasi sebelumnya.

Dan, tiba-tiba semua orang dapat memiliki corong sendiri dengan cepat, mudah, dan murah. Corong itu bernama media sosial. Dengan corong-corong itu setiap individu bisa menikmati informasi serta berkontribusi dengan mudah membagi informasi, cerita, ilmu, lelucon, cerita pendek, bahkan caci maki dan keluhan.

Jumlah corong saat ini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam tempo yang relatif singkat. Setiap corong berkontribusi menyebar informasi dengan cepat, sehingga frekuesi ‘udara’ menjadi sangat gaduh, ruwet, dan crowded seperti hutan belantara.  Informasi yang disebar tidak ada yang menyortir dan mengontrol, kecuali hal-hal yang dilarang oleh UU-ITE. Dengan standar kualitas serendah apa pun, baik dari nilai informasi maupun dari nilai edukasi, semua informasi bisa masuk, kecuali dikendalikan sendiri oleh diri sendiri (self-control). Setahu saya, sampai dengan saat ini belum ada yang menetapkan standar kualitas untuk konten yang akan di-upload di media social. Mungkin karena terlalu sulit dan luas ruang lingkupnya.

Perang penguasaan corong informasi tidak saja terjadi pada level negara, organisasi, bisnis, atau nonbisnis, tetapi juga individu. Salah satu dampak perkembangan media sosial adalah meng-amplify suara seseorang (biasanya selebritas/selebgram), menjelma sebagai institusi yang memiliki tim manajemen dan pemangku kepentingan. Ini yang terjadi pada banyak selebgram, influencer, atau endorser yang memiliki jumlah follower puluhan juta.

Jika corong-corong itu digunakan untuk tujuan baik, maka dapat memberikan kemaslahatan bagi manusia. Sebaliknya, jika digunakan untuk hal-hal yang tidak baik, maka dampak negatifnya akan semakin besar karena semua orang bsia mengakses dengan mudah. Yang perlu diwaspadai adalah gerakan terorisme, intoleransi, dan penipuan atau pemerasan yang berpotensi bisa memunculkan konflik horizontal.

Tantangannya adalah pihak atau orang yang memiliki visi konstruktif dengan pihak atau orang yang memiliki visi destruktif sama-sama memiliki kesempatan yang sama dalam menguasai corong untuk merebut suara, simpati, atau dukungan dari netizen. Namun, itu semua tergantung kualitas isi suara yang keluar dari “congor” masing-masing.

Di depan corong selalu ada congor. Congor adalah sumber keluarnya suara atau bahasa. Dari congor itulah kualitas informasi ditentukan. Jika kita amati proses interaksi di media sosial, banyak sekali yang menggunakan congornya tidak bijak dan serampangan. Congor dijadikan sarana untuk menyebar hoax, mengujar kebencian, memaki, dan mem-bully orang lain. Maka, mestinya perkembangan corong komunikasi yang tinggi harus diimbangi dengan meningkatnya kualitas congor-congor. Bukan bentuk, bau, atau dandanan congornya, tetapi kualitas suara, nada, dan pesan yang keluar dari congor yang perlu diperhatikan mutu informasinya. Kualitas suara yang jernih, kualitas nada yang merdu, lembut, dan menenangkan hati, dan isi pesan yang bijak, bermanfaat, dan mencerahkan bagi kemaslahatan orang banyak.

Disadari atau tidak, setiap kelompok formal atau nonformal memiliki misi yang dijalankan untuk mencapai visinya. Sudah pasti mereka memiliki target audiens. Mereka memerlukan strategi dan channel informasi untuk mencapai tujuannya. Jika pada masa lalu saluran informasi berupa corong suara atau seperti morse, radio, televisi, dan pertemuan-pertemuan fisik, maka pada era Teknologi, Informasi dan Komunikasi ini media interaktif audiovisual digunakan untuk menyelenggaraan pertemuan berkala. Para togog yang telah menjadi bagian dari fans, buzzer, cyberarmy suatu kelompok  telah berubah menjadi seperti pasukan tempur lebah, semut, atau anjing yang siap menyerang dan melumpuhkan  lawan dengan serangan verbal yang lebih mematikan daripada peluru tajam.

Agar corong tidak menjadi alat propaganda negatif dan congor-congor memproduksi racun bagi jiwa orang banyak, kita semua memiliki kewajiban mempelajari mensosialisasikan perbuatan apa saja yang dilarang dalam UU-ITE. Ketentuan tentang perbuatan yang dilarang dalam UU-ITE diatur dari pasal 27 sampai dengan pasal 35 UU-ITE. Adapun ketentuan norma primer (larangan) yang diatur dalam UU-ITE bisa dijelaskan sebagai berikut:

1.      Pasal 27: Asusila, perjudian, pencemaran nama baik, dan pemerasan dan/atau pengancaman, termasuk tindakan memfasilitasinya,

2.      Pasal 28: Berita bohong,

3.      Pasal 29: Ancaman kekerasan atau menakut-nakuti,

4.      Pasal 30: Mengakses sistem elektronik milik orang lain,

5.      Pasal 31: Melakukan intersepsi atau penyadapan,

6.      Pasal 32: Melakukan perubahan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik,

7.      Pasal 33: Mengganggu sistem elektronik,

8.      Pasal 34: Menyediakan dan memfasilitasi perbuatan pada Pasal 27 dan Pasal 33

9.      Pasal 35: Pemalsuan dokumen elektronik dengan cara manipulasi penciptaan, perubahan, penghilangan, dan pengrusakkan


Slow Down

SLOW DOWN

 Selama otakmu gaduh, langkahmu tergesa, dan telingamu bising, maka takkan ada pemahaman yang luas dan dalam tentang hikmah kehidupan.

Dalam ketergesaan, suara alam terdengar monoton dalam notasi datar, bahkan terasa kosong dan kadang seperti teriakan-teriakan kecemasan. Kesyahduan nyanyian alam yang setiap detik disenandungkan leyap ditelan kegaduhan transaksi-transaksi. Maka, dalam sebuah tafakur, kuberi kesempatan pada telinga untuk fokus pada setiap bunyi alam yang beresonansi di udara. Pelan-pelan kudengar orkestra alam, bunyi gemuruh angin, derit bambu tertiup angin, desah rintik hujan, gemericik air, hempasan ombak, kicauan burung, lolong karnivora, dan lain-lain, kemudian menjadi bagian dari kesyahduan itu. Tidak saja untuk menemani keresahanku, tetapi juga untuk pemulihan jiwaku yang terkapar dihunjam ambisi.

Trafik gelombang suara pikiran yang tinggi membuat aku lupa arah yang hendak kutuju, bahkan tak tahu sudah sejauh mana perjalanan telah kutempuh. Jiwa gelisah. Emosi kocar-kacir. Hidup kehilangan makna. Karya apa yang telah kuhasilkan? Apa amalanku untuk diri sendiri, keluarga, dan orang banyak? Kadang juga lupa menu sarapan pagi, baju yang kukenakan ke kantor kemarin, kepada siapa saja aku berbicara, tema apa saja yang kami diskusikan, musik apa yang kunikmat malam hari. Aku benar-benar lupa cara menikmati kehidupan yang penuh berkah. Maka, dalam sebuah zikir, aku memberi kesempatan pada hati untuk slow down dan fokus pada semua aktivitas yang terjadi di sekelilingku. Pelan-pelan mulai tampak banyak bibir yang tersenyum kepadaku. Kehangatan tegur sapa sahabat, tangan-tangan kolega yang telah memberi sumbangsih pada karya dan karsaku. Selama ini kebaikan-kebaikan itu luput dari perhatian dan ingatanku.

Dalam kegaduhan pikiran, semua keberkahan hanya bertebaran sekelebat saja. Ide-ide telantar dan mengering di atas rencana-rencana. Gagasan dan pengalaman tak ada yang terserap menjadi gizi logika. Ilmu dan warta baru tak lagi memberi pencerahan. Maka, dalam sebuah tafakur, kuberi waktu bagi otak untuk slow down dan berfokus pada beberapa nilai-nilai, mindset, dan paradigma yang selama ini cahayanya terabaikan. Pikiran kufokuskan pada gagasan-gagasan yang memberikan nilai tambah bagi budi pekerti atau akhlak. Tidak hanya melibatkan hati, tetapi juga seluruh sel-sel sarafku. Pelan-pelan mutiara hikmah bermunculan keluar dari tabir yang selamai ini tertutupi kegaduhan.

Dalam kesemrawutan suasana, pemandangan yang terhampar di depan mata hanya seperti film tanpa pemeran utama. Semua jadi latar belakang berwarna kelabu yang kehadirannya hanya sepintas saja dan sebagai pelengkap. Benda-benda dan makhluk-makhluk lain bukan merupakan individu utuh, melainkan hanya himpunan angka. Kadang berwujud bayangan. Maka, dalam sebuah takafur, aku memberi kesempatan pada kurniaku untuk berfokus pada seluruh benda yang ada di sekelilingku secara detail dengan rasa simpati. Dan, pelan-pelan muncul taman yang indah, langit biru cerah, puspa yang merekah, sawah yang terhampar luas, satwa yang riang mencari makan, sungai yang tenang dan kesejukannya mengalir hingga ke relung jiwa seperti film dengan resolusi tinggi. Kontur dan struktur khas sebuah citra memancarkan karekternya. Ruang pun menjadi jernih dan waktu terasa lambat berputar. 

Kemudian kepada hati, aku meminta untuk men-zoom kerumunan manusia yang selama ini hanya berlalu-lalang dalam hatiku, tidak mengenal mereka secara personal, tanpa simpati dan empati. Dan, tiba-tiba tampak dengan jelas keindahan variasi citra dan spiritual setiap insan yang selama ini tertutupi kabut kesombongan dan keegoisan diri. Mereka mungkin telah memberikan sumbangsih dan peran atas kualitas hidupku, tetapi terabaikan oleh nafsu ingin selalu tampil agar dianggap orang yang hebat. Saat bertafakur, yang ada hanya aku dan Tuhanku.

Slow down dimaksudkan untuk menurunkan tensi pikiran dan semua tindakan untuk berkontemplasi di saat pikiran dan hati menurunkan tensinya untuk berfokus dan memberikan perhatian pada alam sekitar. Memberikan makanan bagi hati dengan doa, rasa syukur, dan kepasrahan total pada Sang Khalik.

Mendengar suara napasku dengan frekuensi embusannya yang tak berbilang dalam menyuplai oksigen secara gratis untuk memberi nafkah bagi miliaran sel-sel sehingga mengaktifkan perilaku bawah sadar.

Mendengar suara jantungku dengan frekuensi detak yang tak berbilang dalam mendistribusikan nutrisi ke miliaran sel-sel secara otomatis untuk memberi energi pada pembentukan watakku.

Menyimak derap langkah kakiku dengan jarak tempuh yang tak berbilang dalam menyuplai khazanah pengalaman hidupku dan kepribadianku.

Mendengar bisikan nurani dengan nada lembut yang senantiasa merawat roh alam dan keharmonisan dalam mewarnai karakterku.

Aku punya kemewahan yang gratis, yaitu waktu jeda untuk meluruhkan semua kepongahan diri agar bisa mendengar, melihat, dan merasakan kehadiran surga di jiwa.



 

Paras dan Wajah

 PARAS VS WAJAH

 

Wajah bukanlah wadah bagi mata, hidung, atau mulut, tetapi paras dan kepribadianmu.

Kepala juga bukan wadah bagi otak, tetapi pikiran dan gagasanmu.

Sementara hati bukan semata-mata wadah bagi ego dan nafsumu, tetapi nilai kemanusiaanmu.

 

Wajah seperti seni instalasi yang memainkan kombinasi bentuk, warna, dan tata letak bagian-bagian wajah pada posisi yang proporsional dan ideal. Namun, dia baru dikatakan paras (citra) ketika telah merepresentasikan perilaku dan emosi pemiliknya. Jadi, paras adalah wadah bagi unsur-unsur rohani dan fisik yang membentuk sebuah identitas dan kepribadian individu. Maka, ketika engkau terpesona oleh sebuah paras itu artinya engkau terpikat dengan karya seni agung yang menyatunya kualitas rohani dan kualitas fisik.

Wajah adalah sebuah unit kerja yang menghasilkan sebuah “paras” dengan karakter, watak, dan citra diri. Sebagai sebuah unit kerja, wajah terdiri dari bagian-bagian yang memiliki peran sendiri-sendiri, tetapi satu sama lain saling berhubungan dan terkoneksi. Dalam konsep paras, mata bukan sekadar untuk melihat, tetapi untuk mengamati, mencermati, menghormati, dan menghargai apa yang dilihat. Mulut bukan sekadar penghasil suara dan saluran makanan, tetapi juga untuk menyuarakan moralitas, etika, dan nada yang memberi semangat. Bibir bukan sekadar untuk menghasilkan senyuman, tetapi juga ekspresi memuliakan. Dahi bukan sekadar untuk mengernyit saat berpikir keras, tetapi juga untuk cahaya simpati.  

Dalam struktur organisasi paras, otak dan hati adalah pimpinan sebagai pusat pengendali bagi fungsi-fungsi lain seperti mata, mulut, dahi, hidung, pipi, dan lain-lain. Maka, pola pikir dan suasana hatimu bisa dibaca oleh orang lain karena tercermin jelas pada parasmu.

Tak satu pun manusia memiliki kesamaan yang sempurna satu sama lain. Probabilitas dari kombinansi tata letak seluruh unsur wajah sungguh terhingga, menciptakan wajah atau paras sebanyak jumlah manusia yang pernah ada di bumi.

Merawat paras dimulai dari hati dan pola pikir. Jika pola pikir dan suasana hati tertata dengan baik, maka itu menjadi dasar bagi wajah untuk dipoles menjadi lebih sempurna. Dandanan dan bersolek hanya menguatkan dan menonjolkan kontur kecantikan fisik yang sudah ada.

Kecantikan atau ketampanan tampaknya hanya bersifat fisik keduniawian, padahal sangat bersfiat spiritual karena keindahan wajah fisik (outer beauty) adalah gift yang bersifat given, pemberian langsung Tuhan kepada manusia melalui DNA. Itu sebabnya banyak orang mabuk kepayang hingga merasuk ke dalam jiwa akibat terpesona oleh sebentuk paras. Apa saja bisa diupayakan demi mendapatkan dan menghargai keindahan wajah. Sementara yang disebut kecantikan rohani (inner beauty) adalah hasil olah pikir atau akal budi manusia itu sendiri, bukan bawaan sejak lahir. Dengan kata lain, kecantikan budi pekerti adalah karya seni perilaku hasil karya manusia sendiri melalui proses belajar dan perenungan yang dalam. Keduanya memiliki dampak secara rohani karena sejatinya wajah merupakan pantulan cahaya Ilahi. Apalagi jika secara rutin dibasuh dengan air wudu.

Wajah adalah identitas setiap individu dan setiap identitas memiliki paling tidak tiga fungsi. Satu, sebagai pembeda dari yang lain. Kedua, sebagai jati diri atau pribadi khas. Ketiga, sebagai citra daya pikat. Namun, dalam perkembangan ilmu terapan, wajah juga menjadi sarana atau alat untuk menghipnotis. Semakin indah wajah seseorang, semakin kuat pengaruh hipnotisnya. Jika kecantikan fisik dan keindahan perilaku menyatu dengan pas, berhati-hatilah, engkau akan menjadi budak yang siap melakukan apa saja untuk memilikinya. Cara merawat wajah yang utama adalah dengan menjaga keteguhan hati, konsistensi, dan integritas agar wajah tidak bertambah menjadi dua alias munafik. Kalau berkata, berdusta; kalau berjanji, mengingkari; dan kalau diberi amanah, berkhianat.

Dalam Surat al-Ghasiyah diceritakan bahwa kelak di akhirat ciri orang yang masuk neraka terlihat jelas di wajah mereka. Banyak wajah yang tertunduk hina (wujuhun yaumaidzin khasyiah). Merekalah wajah-wajah yang akan digiring masuk api neraka. Ini berbeda dengan kelompok lain yang wajahnya berseri-seri (wujuhun yaumaidizn na’imah). Dari wajahnya saja kita tahu bahwa ini calon penduduk surga. Itulah wajah manusia kelak di akhirat (Dilansir dari khasanah GNH).

Dari wajah, muncul karya seni, bisnis, dan ilmu. Seni merias dan merawat wajah berkembang pesat, ini menandakan bahwa wajah memang menjadi kebutuhan yang esensial bagi manusia sehingga segala usaha ditempuh agar wajahnya memiliki pesona.

Namun, perlu disadari, makeup bisa meningkatkan kepercayaan dan citra diri atau sebaliknya, menurunkan citra diri. Semua tergantung kadar dan keterampilan dalam ber-makeup. Yang perlu dihindari adalah bersolek secara berlebihan karena bedak yang terlalu tebal akan berubah menjadi topeng. Topeng bukan saja akan menyembunyikan jati diri, tetapi juga menutup kejujuran pancaran sari wajah. Dalam dalam aspek psikologi, orang yang makeup-nya berlebihan bisa menggambarkan kurangnya integritas. Di dunia bisnis, tentu akan merusak citra perusahaan yang mewakili atau berpotensi mengurangi kepercayaan mitra atau pelanggan.


 

Keikhlasan Angin

 KEIKHLASAN ANGIN

 

Tak perlu terlihat untuk menunjukan eksistensi dan tak mesti berorasi lantang untuk menjelaskan sebuah peran. Alam telah memiliki daya sensornya sendiri untuk menangkap kemanfaatanmu. Daya sensor itu adalah seluruh indra semesta dengan reward system yang adil dan proporsional. Angin mengajarkan keikhlasan itu.

Angin tidak peduli diklaim oleh siapa saja. Dia juga tidak peduli menjadi perdebatan di kalangan semua pemangku kepentingan, seperti: Siapa sesungguhnya yang mencipta angin?  Apakah angin itu merupakan sebab atau akibat? Baginya, yang lebih esensial adalah tetap berembus. Pendekatan menggunakan formula ‘sebab dan akibat’ merupakan cara berpikir linier, sementara semesta yang menaungi udara dan angin berproses dalam kepenuhan hakikat yang mendudukkan ‘sebab jadi akibat’ dan ‘akibat menjadi sebab’. Apa pun kesimpulannya, dia ingin tetap bernaung pada udara.  

Maka, dia menerima saja apa yang dideskripsikan oleh kaum cendekia yang menjelaskan bahwa angin merupakan suatu udara yang bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah, atau dari daerah bersuhu rendah ke daerah bersuhu tinggi. Dia juga pasrah menerima munculnya antitesis yang menyatakan bahwa anginlah yang menciptakan suatu daerah bersuhu rendah dan bersuhu dingin untuk menunjukkan  hakikat eksistensinya.

Angin tetap berembus meskipun dikatakan bahwa dia berembus tidak mengikuti perintah siapa pun, kecuali burung-burung yang mengklaimnya bahwa sayapnyalah yang menciptakan angin sebagai kendaraannya melanglang buana.

Angin tetap tersenyum ketika layang-layang mengklaim bahwa dialah yang menciptakan angin agar anak-anak bisa tertawa riang di padang rumput dengan sinar surya yang hangat dan angkasa yang yang bening. 

Angin tetap bersahaja ketika daun-daun memanfaatkannya untuk membawa oksigen yang diciptakan daun bersama mentari agar bisa dihirup paru-paru kehidupan dan menyerapnya kembali dalam bentuk karbondioksida. 

Buah-buahan juga ikut-ikutan mengaku menciptakan angin agar bibit-bijinya bisa terbang bermigrasi ke wilayah yang lebih luas demi misi survival dan ekspansinya.

Angin hadir atas panggilan kincir angin yang memintanya untuk menciptakan energi dan menciptakan drama keindahan tatkala baling-baling kincir angin itu berputar menciptakan suara derit yang khas.

Sebuah berita juga ikut menciptakan angin untuk menyebarkan warta ke telinga dunia. 

Aku menjadi angkara murka ketika ada unsur lain di bumi menggoyang harmoni. Aku akan memorakpondakan apa saja yang menghalangiku mencari keseimbangan baru antara wilayah dengan udara bertekanan tinggi dan udara bertekanan rendah meskipun harus menimbulkan korban. Namun, tak ada yang mengutukku karena embusanku yang sepoi-sepoi atau yang ganas adalah sebuah siklus yang sejak triliunan tahun menemani alam, bersama unsur air, tanah, dan api.

Dilansir dari gurugeografi.id: Sekitar 450 sebelum Masehi, filsuf Yunani, Empedoles, menulis bahwa dunia ini tersusun atas empat unsur atau elemen, yaitu tanah, udara, api, dan air. Plato kemudian menyebutnya sebagai empat elemen dasar kehidupan. Gagasan tersebut memberikan pengaruh terhadap ilmu pengetahuan barat saat itu, yang menjelaskan bahwa keempat unsur tersebut merupakan aspek kimia penting sampai Robert Boyle mendemonstrasikan bahwa ada lebih dari empat elemen pada tahun 1661.

Bersyukurlah karena planet Bumi memiliki nasib baik, yaitu posisinya yan pas, tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dengan matahari. Hidrogen dan oksigen melimpah dalam bentuk air, serta karbon dan nitrogen sebagai unsur utama kehidupan yang akhirnya membentuk salah satu output-nya, berupa udara.

Tubuh manusia yang terdiri dari miliaran atom mengandung sejarah dari alam semesta. Hidrogen dalam tubuh manusia lahir di antara empat unsur utama sekitar 13,7 miliar tahun lalu. Karbon, nitrogen, dan oksigen dalam otot dan otak tercipta dari bintang yang mati lebih dari 5 miliar tahun lalu. Jadi, manusia mempunyai DNA bintang yang tercipta dari peristiwa ledakan supernova miliaran tahun lalu. Maka, setiap manusia punya kapasitas dan kapabilitas untuk bercahaya menerangi kehidupan. Tergantung apakah manusia mampu mengolah energi bintang dalam dirinya.

Jika engkau masih mengklaim bahwa angin berembus karena panggilan jiwa yang merindukan cahaya, maka peluk dan peliharalah udara dalam paru-parumu agar semua sel-sel tubuhmu berbinar.